Rumah Keluarga Susilo bertahun-tahun hidup tanpa bantuan.(M Nasir:MadiunTIMES)
Rumah Keluarga Susilo bertahun-tahun hidup tanpa bantuan.(M Nasir:MadiunTIMES)

MALANGTIMES - Kisah klasik yang masih saja terjadi di bumi Pertiwi Indonesia. Di tengah berondongan program jaminan atau jaring sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau warga miskin. Selalu terselip, mereka yang terpuruk dan berada di gigir kemiskinan.

Tak terkecuali di kondisi saat kini. Pandemi virus covid-19 telah merontokkan sendi-sendi perekonomian masyarakat. Khususnya, MBR atau warga miskin dengan banyaknya instruksi untuk tetap di rumah.

Baca Juga : Kilas Balik Jejak Covid-19 di Kota Malang Hingga Pengajuan Status PSBB

Walau pemerintah telah menggelontorkan puluhan triliun rupiah untuk jaring sosial masyarakat. Tapi, kisah klasik pendataan yang membuat MBR atau warga miskin mendapatkan haknya, kembali mencuat dan terjadi.

Hal ini dialami oleh Susilo (39), warga Jenggolo Puro RT/RW 23/05, Kelurahan Kelun, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jawa Timur (Jatim).

Susilo adalah potret masih sengkuratnya program jaringan sosial pemerintah untuk memapah masyarakatnya yang tak beruntung dalam ekonomi.

Menempati rumah berukuran 2 meter x 8 meter yang ditinggali dengan istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kondisinya semakin menguatkan, perekonomian Susilo yang sejak lama berusaha untuk mendapatkan haknya atas berbagai program jaring sosial pemerintah.

Didominasi triplek pada satu sisi bangunan rumahnya, dengan berbagai rengkah lubang. Kondisi rumah ukuran kecil yang hanya diterangi lampu 5 Watt itu, semakin terlihat kusam dan pengap.

Begitulah pengamatan wartawan saat singgah ke rumah Susilo, beberapa waktu lalu. Rumah yang dibagi untuk kamar tidur, dapur yang juga digunakan untuk ruang tamu dan aktifitas lain, serta kamar mandi ukuran 70 centimeter.

Kedatangan kami, membuat Susilo dan istrinya kebingungan. Hingga kami pun, akhirnya berdialog dengan Susilo dan istrinya terkait tujuan bertamu ke rumah mungil yang layak untuk mendapat bantuan pemerintah melalui program bedah rumah itu.

Meluncurlah kisah klasik terkait masih 'amburadulnya' mekanisme pendataan jaring sosial yang menimpa mereka selama ini.

“Sudah pernah pengajuan dulu ke Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), tapi jawabannya data itu turunnya dari atas siapa saja yang menerima,” terang istri Susilo, yang keseharian berjualan tempe bungkus, Sabtu (11/04/2020) kemarin.

Upaya istri Susilo untuk mendapat haknya sebagai warga yang perekonomiannya berada di gigir kemiskinan itu. Ditimpali dengan penjelasan Susilo yang merupakan pekerja serabutan selama ini.

Susilo menyampaikan keherannya atas jawaban itu. Menurutnya, bahwa data jaring atau pengaman sosial harusnya berasal dari bawah.

Baca Juga : Tetangga Sempat Tolong Pencari Kerang di Pantai Sipelot, Tapi Tak Terselamatkan

"Masyarakat yang tahu mana yang berhak menerima mana yang tidak. Upaya kami itu bukan yang pertama kalinya," ujarnya.

Di tahun 2017 lalu, Susilo mendapat bantuan Kartu Program Keluarga Harapan (PKH). Tapi, ternyata kartu yang dimilikinya itu tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Lha wong nggak ada isinya lo mas, perlindungan sosial gimana terusan," ucapnya dengan nada yang terdengar jengkel. 

Susilo pun mencoba untuk menanyakan hal tersebut ke pihak RT serta ditindaklanjutinya. Dimana, dari hasil itu Susilo diharuskan menuliskan keluhan serta bantuan apa yang diperlukan dalam sebuah form.

Tapi, serupa dengan kisah lainnya. Upaya Susilo itu pun hingga saat ini tak mendapatkan jawaban pasti.

"Belum ada tindaklanjut hingga saat ini. Katanya masih proses atau bagaimana saya belum tahu,” ucap istri Susilo nimbrung percakapan. 


Pak Susilo turut bercerita bahwa ia pernah mengajukan PKH, Jamban, serta Listrik sudah pernah di survei PLN. Sedangkan untuk kebutuhan air masih mengandalkan dari tetangga “air masih nyalur dari tetangga,”.
Bagi Pak Susilo upaya serta janji-janji bantuan tersebut ibarat angin lewat yang lekas pergi bagi keluarga Pak Pak Susilo.
“Uang maupun sembako belum dapat sama sekali sejak anak saya pertama besar sampai anak dua sekarang,” tambah istri Pak Susilo.