MALANGTIMES - Zahra Nur Azizah (8) begitulah nama lengkapnya. Lahir dari keluarga kurang mampu, Zahra terlahir normal sebelum peristiwa tragis menimpanya saat dia berusia 23 bulan.
Baca Juga : Per Hari Ini Kasus Positif Covid-19 Ditemukan di 23 Provinsi, Total 5.136 Penderita
Sebuah truck menabraknya dan mengakibatkan kaki Zahra harus dioperasi sebanyak tiga kali. Ayahnya yang berprofesi sebagai buruh pabrik pasir dengan penghasilan yang sekedar mencukupi kebutuhan sehari-hari ala kadarnya, akhirnya harus berhutang untuk membiayai operasi anaknya yang menghabiskan dana sekitar Rp 80 juta lebih ini.
"Sampai saat ini kami masih memiliki hutang itu (biaya operasi, red). Kami tidak punya jaminan kesehatan dari negara (Kartu Indonesia Sehat, red)," ujar M.Zainal Abidin (41) ayah Zahra, Jum'at di kediamannya di Jl. Semeru RT/RW 06/04 Desa Dilem Kecamatan Kepanjen.
Kini, Zahra tumbuh dengan satu kaki dan menjalani masa kanak-kanaknya tidak seperti anak lainnya. Tetapi kondisinya tidak menjadikan Zahra menjadi anak pemurung, bahkan sebaliknya.
Rasa percaya dirinya tinggi dalam bersosialisasi. Di sekolahnya, Si Partikel Cahaya ini juga termasuk siswi cerdas yang selalu mendapat ranking lima besar di kelasnya.
"Sudah kelas 2 di SDN 4 Ardirejo Kepanjen, Om," katanya yang juga bercita-cita untuk terus sekolah sampai pintar dan membantu orang tuanya.
Tetapi kehidupan Zahra dan keluarganya terus dihimpit berbagai kesulitan hidup. Untuk berangkat dan pulang sekolah, Orangtua Zahra menyewa becak dengan harga yang harus dibayar Rp. 300 ribu setiap bulannya karena jaraknya jauh dari rumah.
"Berat sebenarnya mas tapi untuk pendidikan anak, saya terus mengupayakan biaya-biaya tersebut," lirih M. Zainal, ayah dari dua anak ini. Dia juga mengatakan sangat berharap adanya perhatian dari Pemerintah atau siapapun atas kondisi anaknya.
Baca Juga : Rektor UMM Merespons Desas-desus Pergantian WR III dan Kursi Baru WR IV
"Mungkin saja ada yang berniat menolong untuk kaki palsu anak saya," imbuhnya.
Lutfi Rahmawati (29) Ibu Zahra yang tidak bekerja juga mengatakan bahwa demi pendidikan anaknya yang tergolong siswi pintar, dia akan berusaha semaksimal mungkin. "Anaknya pintar, bahkan dengan kondisinya sekarang tidak menghalanginya untuk terus sekolah. Andai saja Zahra bisa berjalan normal lagi walau satu kakinya pake kaki palsu," harapnya.
Di kesempatan lain, kondisi Zahra dan keluarganya yang tergolong tidak mampu serta tidak tercover dengan KIS maupun bantuan negara lainnya, saat dikonfirmasikan kepada Camat Kepanjen membuatnya terbelalak.
"Coba saya cek nanti, tolong kami minta datanya karena data ini belum ada yang lapor kepada saya," kata Abai Saleh, Camat Kepanjen saat ditemui di acara Seminar Nasional dan Pelatihan Kader Lanjut 2017 di Gedung NU Kepanjen.
Abai juga mengatakan akan secepatnya melihat kondisi keluarga Zahra untuk tindaklanjut penanganan, baik administrasi dan teknisnya.
"Hari ini kita cek karena kita sekali lagi tidak memiliki data. Kalau memang ada data lain dari organisasi, partai, orang atau siapapun yang saya yakin tujuannya baik, tetap harus dikoordinasikan dengan pemerintah desa dan kecamatan," ujar Abai saat ditanya tentang adanya dugaan pendataan Keluarga kurang mampu di Kepanjen dilakukan oleh anggota Partai Politik.
