MALANGTIMES - Urusan gaya busana (fashion) bukan sekedar milik kota atau dicipta para desainer ternama semata.
Dari desa-desa geliat fashion tumbuh subur dalam bungkus acara Hari Jadi, Bersih Desa dan kegiatan desa lainnya.
Baca Juga : Di Jalanan, Senyum-senyum Merekah Menerima Sembako Bantuan UIN Malang
Hal ini terlihat dari Hari Jadi Desa Slorok, Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang ke -156, Minggu (23/10/2016). Berbagai gaya busana yang di tampilkan dalam karnaval dan di pakai oleh warga dengan berbagai usia ini sangat menarik.
Bukan saja busananya saja yang beranekaragam, namun bahan dasar yang digunakan berasal dari berbagai barang daur ulang.
Kertas koran, kulit ban, pelepah pisang, plastik sisa minuman dan lainnya menjadi busana yang unik, asyik dan keren dilihat ratusan warga yang menontonnya sejak pagi.
Walaupun busana-busana yang ditampilkan bukan hal baru, menurut Widyastuti (47), seorang perancang busana desa Slorok dari RW 03, tetapi pola dan karakter busananya pasti berbeda.
“Iya mas, saya membuat pola busana yang ditampilkan anak-anak ini memang meniru yang sudah ada, tapi kita sesuaikan dengan karakter dan tema Hari Jadi Desa Slorok ini, yaitu Bersama Menjaga Keragaman,”katanya di sela-sela karnaval yang meriah dengan berbagai aksi warga dengan jumlah sekitar ratusan orang ini.
“Dan saya bukan perancang busana, mas, cuma ditugaskan oleh warga untuk membuatnya karena saya punya dasar menjahit. Jadi warga percaya saja saya bisa buat busana karnaval ini”lanjut Widyastuti sambil tertawa.
Djum’ainah yang seorang guru Sekolah Dasar (SD) Negeri Slorok juga menyampaikan bahwa hasil kreasinya berbentuk busana kupu-kupu, bukan dikarenakan dia ahli dalam mendesain.
“Wah, saya cuma ketiban sampur ditugasi membuat busana seperti itu, ya sebisa mungkin saya buat saat saya selesai mengajar. Bagus enggak hasilnya, mas?” tanya dia.
Hal senada di sampaikan oleh berbagai organisasi Desa Slorok yang mengikuti karnaval dengan keunikan busananya masing-masing.
Baca Juga : Tetangga Sempat Tolong Pencari Kerang di Pantai Sipelot, Tapi Tak Terselamatkan
Contohnya Kelompok Dayak Waringin yang mengusung tema busana dayak, Karang Taruna dengan seragam prajurit Kerajaan Romawi, Busana Monster Luar Angkasa maupun busana para tokoh kartun kesukaan anak-anak.
Tidak kalah Ibu-ibu PKK selain mengusung busana tradisi Jawa penuh warna juga sebagian mencitrakan diri sebagai warga Madura, Bali, Dayak dan lainnya.
“Pokoknya hari ini banyak desainer busana dadakan mas. Hasilnya juga keren-keren kan walau dengan segala keterbatasan yang ada,”kata Budiono, Panitia Hari Jadi dan Bersih Desa Slorok.
Keterbatasan kemampuan dan dana ternyata tidak memupus kreativitas warga dalam mencipta berbagai busana unik, menarik dan tentunya murah meriah dikarenakan semua bahan berasal dari barang bekas pakai yang diolah ulang.
“Kertas koran kita kumpulkan dari warga, ban-ban bekas tinggal kita minta tolong di sayatkan, pelepah pisang dan plastik warga yang mengumpulkan juga. Jadi semua bahan istilahnya ya gratisan tinggal kita kreasikan dengan berbagai cat agar menarik,”lanjut Budiono yang menyatakan seperti itulah budaya desa dalam menyikapi keterbatasan dengan bijak.
Anek ragam ciri khas busana yang ditampilkan peserta dalam karnaval ini menurut Misdi merupakan bagian dari pembelajaran langsung untuk warga agar terus memupuk rasa hormat menghormati walau berbeda suku, ras, agama dalam masyarakat.
“KIta ingin sampaikan kepada seluruh warga bahwa Slorok adalah desa dengan masyarakat yang memiliki tenggang rasa dan rasa hormat menghormati terhadap suku dan ras berbeda. Karena itu kita memakai tema tersebut di hari Jadi ke-156 sekalian Bersih Desa,”kata Misdi, Kepala Desa Slorok.(.)
