MALANGTIMES – Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Gunung Ukir Kota Batu merupakan salah satu simbol dan pusat berkumpulnya para seniman dan budayawan seantero negeri bahkan Internasional.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
Ada banyak kekayaan budaya yang terus dilestarikan di tempat ini. Bahkan, warga setempat menyambut momentum budaya ini selama seminggu penuh hingga 1 Oktober 2016 mendatang.
Hari Raya Budaya, begitulah istilah yang pantas untuk menyebut perayaan budaya yang rutin mereka selenggarakan setiap tahun.
Salah satunya seperti yang dilakukan Padepokan Gunung Ukir, Minggu (25/9/2016) kemarin dengan menggelar acara Ndigar Bareng Jaran Kepang.
Acara ini merupakan salah satu bentuk kegiatan sebagai simbol budaya leluhur yang terus dilestarikan oleh Padepokan Gunung Ukir.
Kegiatan ini diisi oleh para seniman dari Kota Malang dan Kota Batu. Acara semakin meriah karena para seniman ini juga mengajak siswa-siswi SDN Beji 1 Kota Batu yang mempertontonkan kebolehannya dalam pencak silat dan tarian jaran kepang.

Mereka adalah anak-anak binaan Padepokan Gunung Ukir yang setiap waktu dengan semangat berlatih budaya dan senir leluhur mereka.
Berkat jasa dan ketelatenannya inilah Padepokan Gunung Ukir dikenal ke dunia Internasional.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
Salah satu buktinya, pada Maret 2017 mendatang padepokan ini akan berangkat ke Jepang untuk mengenalkan tarian lokal yang tentu akan mengharumkan nama Indonesia dan Kota Batu pada khususnya.
“Acara Ndigar bareng ini merupakan tempat berkumpulnya para seniman di Malang Raya bahkan Pasuruan dari berbagai kategori seni mulai dari pencak silat, tari-tarian, jaranan, bantengan, sampai reog. Ada sekitar 2.000 seniman yang tergabung dalam kesenian ini. Kami ingin terus bersama-sama dengan satu semangat menghibur masyarakat khususnya warga Torongrejo, Kota Batu ini,” terang Ki Iswandi, tokoh Padepokan Gunung Ukir.
Hal senada disampaikan Bude Sada, salah satu seniman dan budayawan asal Singosari Malang. Dia mengaku sangat bangga dengan seni dan budaya yang demikian hidup di masyarakat Desa Torongrejo.
“Kalau ini bisa terus dilestarikan bahkan dikembangkan maka kebudayaan ini akan membawa Indonesia menjadi mercusuar dunia karena kekayaan budayanya yang luar biasa,” jelasnya.
Pada kesempatan ini para budayawan dan seniman yang hadir juga menjadikan momentum ini untuk memberi penghargaan kepada Ki Iswandi beserta team berupa udeng batik yang yang menurut mereka memiliki filosofi tersendiri dari sisi budaya.
Udeng batik itu diakui Bude Sada merupakan hasil kreasi dan produksinya sendiri. Selain itu, Ki Iswandi juga mendapatkan cindera mata berupa celurit dari perwakilan pencak silat se Indonesia.
