Anak Krakatau Erupsi Semalaman: Lava Merah Menyala, Jangan Dekati Radius 3 Km

Reporter

Binti Nikmatur

05 - Sep - 2026, 10:52

Pantauan CCTV aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. (Foto: laman resmi magma esdm)

JATIMTIMES - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Erupsi berlangsung menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) pagi.

Selain menghasilkan suara gemuruh, tampak semburan berwarna merah menyala dari tubuh gunung api yang oleh Badan Geologi diinterpretasikan menyerupai fenomena lava fountain atau lava air mancur.

Baca Juga : Kejar Target Wajib Halal Oktober 2026, LPH Universitas Brawijaya Perkuat Kompetensi Auditor

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati. Namun, semburan merah dari aktivitas erupsi terlihat jelas dan berlangsung secara terus-menerus.

"Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai "lava fountain" atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," kata Lana dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Erupsi menerus itu tercatat mulai Jumat pukul 23.07 WIB. Hingga Sabtu pagi, aktivitas tersebut masih berlangsung dan suara gemuruh masih terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau Pasauran.

"Gunung api Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 wib masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK," imbuhnya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga diduga berkaitan dengan laporan suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.

Laporan tersebut datang dari Jawa Barat, Banten, hingga Lampung. Badan Geologi menduga suara dan getaran itu berkaitan dengan erupsi karena waktunya bersamaan dengan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," ujar Lana.

Saat ini aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026.
Erupsi yang terjadi berupa tipe Strombolian dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Badan Geologi menyebut rangkaian aktivitas tersebut masih berlangsung hingga 5 September 2026.

Meski kembali erupsi, Badan Geologi menyatakan kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Penilaian tersebut dilakukan dengan melihat pertumbuhan tubuh gunung api yang terbentuk kembali setelah peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," katanya.

Baca Juga : Cara Top Up ML Anti Ribet, Diamond Masuk dalam Hitungan Menit

Badan Geologi tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas serta perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau. Untuk kondisi saat ini, bahaya yang perlu diwaspadai berasal dari aktivitas erupsi berupa aliran lava dan lontaran batu pijar.

"Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertain dengan lontaran batu pijar," ujarnya.

Masyarakat dan wisatawan di sekitar Gunung Anak Krakatau diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api. 

Sementara itu, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tidak panik. Aktivitas masyarakat tetap dapat dilakukan dengan mengikuti arahan BPBD setempat.

"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," ujar Lana.

Dilansir laman resmi Badan Geologi ESDM, laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB mencatat kondisi gunung api terpantau dari jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.

Cuaca di sekitar kawasan gunung api dilaporkan berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah sampai sedang ke arah barat laut.

Pengamat Gunung Api Rioboniek Situmorang juga mencatat aktivitas erupsi masih berlangsung dalam laporan pengamatan tersebut.

"Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati," tulis Rioboniek.