Ciri Orang yang Mendapat Lailatul Qadar Menurut Quraish Shihab

Reporter

Binti Nikmatur

07 - Mar - 2026, 08:38

Ilustrasi berdoa. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu momen paling dinantikan umat Islam selama bulan Ramadan. Malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan itu diyakini menyimpan keberkahan besar bagi siapa pun yang mendapatkannya.

Meski begitu, kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi tidak pernah disebut secara pasti. Mengacu pada penjelasan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), para ulama memang memiliki perbedaan pendapat terkait tanggal pastinya.

Baca Juga : Kenapa Qunut Witir Mulai Dibaca di Pertengahan Ramadan? Ini Dalil dan Hukumnya

Namun mayoritas ulama sepakat malam istimewa tersebut berada di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil seperti 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan.
Untuk Ramadan 1447 H yang jatuh pada 2026, rentang malam yang diperkirakan berpotensi menjadi Lailatul Qadar berada di sekitar 9–18 Maret 2026 malam, tergantung pada perhitungan kalender yang digunakan.

Lantas, seperti apa tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar?

Cendekiawan Muslim sekaligus pendiri Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ), Muhammad Quraish Shihab, menjelaskan bahwa Lailatul Qadar memiliki beberapa makna penting.
Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube milik putrinya, Najwa Shihab, ia menyebut setidaknya ada tiga makna dari Lailatul Qadar.

Makna pertama adalah malam yang mulia. Menurut Quraish Shihab, kemuliaan itu salah satunya karena Al-Qur’an diturunkan pada malam tersebut.
"Mulia, ya karena dia memang mulia, Al-Qur’an turun di situ," katanya.

Makna kedua adalah malam yang sempit. Istilah ini merujuk pada banyaknya malaikat yang turun ke bumi pada malam tersebut. "Kenapa sempit? Karena waktu Lailatul Qadar itu banyak sekali malaikat turun ke bumi, menjadi sempit karena banyaknya malaikat," ujar Prof Quraish.

Makna ketiga adalah malam ketetapan. Pada malam ini, Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi makhluk-Nya. "Tapi bisa jadi untuk orang per orang siapa yang bertemu dengan Lailatul Qadar hidupnya akan berubah. Jadi itu malam ketetapan," terangnya.

Keistimewaan Lailatul Qadar secara khusus dijelaskan dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam Surat Al-Qadar. Pada ayat ketiga disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan.

Namun Quraish Shihab menegaskan bahwa angka seribu dalam ayat tersebut tidak harus dipahami secara matematis sebagai 83 tahun.

"Satu hal yang perlu kita garis bawahi, 1000 itu apa artinya? Banyak. Bukan arti 83 tahun. Kalau saya berkata dia bawa alasan seribu satu alasan, bukan berarti angka yang di atas 1000 dan di bawah 1002. Tapi karena banyak tidak terjangkau banyaknya. Begitu juga di ayat itu," jelasnya.

Artinya, orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan memperoleh kebaikan yang sangat besar, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga : Khutbah Jumat Jelang Nuzulul Quran 2026: Amalan yang Dianjurkan di Malam 17 Ramadan

Menurut Quraish Shihab, ada tanda yang bisa terlihat pada orang yang benar-benar mendapatkan Lailatul Qadar. Penjelasan ini ia kaitkan dengan tafsir ayat keempat Surat Al-Qadar. "Mau tahu tandanya orang yang dapat Lailatul Qadar? Malaikat turun kepadanya," ucap Prof Quraish.

Ia menjelaskan bahwa malaikat selalu mendorong manusia untuk berbuat baik. Karena itu, seseorang yang benar-benar mendapatkan Lailatul Qadar akan terdorong untuk melakukan kebaikan dalam hidupnya.

"Jadi kalau ada orang berkata saya ketemu dengan Lailatul Qadar tapi kalau jalan hiupnya gini-gini (kurang baik), bohong itu. (Justru harusnya) dia selalu tertarik untuk kebaikan karena malaikat itu selalu mendorong terhadap kebaikan," ungkapnya.

Selain terdorong untuk berbuat baik, orang yang mendapatkan Lailatul Qadar juga akan merasakan ketenangan dalam hati.

Menurut Quraish Shihab, orang tersebut cenderung memiliki hati yang damai, jauh dari dendam maupun rasa dengki. "Semuanya selalu dilihatnya dengan penuh kedamaian. Paling tidak, kedamaian pasif. Damai itu ada damai aktif, ada damai pasif. Kalau saya memuji, itu damai aktif. Tapi kalau saya tidak mencela, itu damai pasif. Saya tidak mengambil hak orang, itu juga damai pasif," tuturnya.

Meski hanya terjadi di bulan Ramadan, waktu pasti Lailatul Qadar sengaja dirahasiakan oleh Allah. Menurut Quraish Shihab, hal ini memiliki hikmah agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu saja, melainkan memperbanyak amal sepanjang waktu.

"Tanggalnya nggak tahu kapan. Itu sebabnya dirahasiakan. Setiap saat kita siap untuk itu. Bukannya tujuan ayat ini (Al-Qadar) mendorong untuk beramal shaleh?" jelas Prof Quraish.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan di sepuluh malam terakhir Ramadan, dengan harapan dapat meraih keberkahan malam Lailatul Qadar.