Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Ramadan Tanpa Dampak, Apakah Puasa Kita Sia-Sia? Ini Kata Guru Besar UIN Malang

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

01 - Mar - 2026, 10:13

Placeholder
Guru Besar UIN Malang, Prof Dr HM Zainuddin MA (ist)

JATIMTIMES – Ramadan kembali hadir. Masjid penuh, kajian marak, dan media sosial dipenuhi pesan religius. Namun pertanyaannya, apakah puasa yang dijalani umat Islam benar-benar menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya berhenti pada ritual menahan lapar dan dahaga?.

Guru Besar di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof Dr HM. Zainuddin MA, menegaskan bahwa puasa tidak boleh dimaknai secara dangkal. Menurutnya, Ramadan adalah momentum transformasi karakter yang dampaknya harus terasa jauh setelah bulan suci berlalu.

Baca Juga : Pemkab Malang Alokasikan Rp 90 Milliar untuk THR ASN, Tunggu PP dan Perbup untuk Mekanisme Pencairan

“Puasa bukan sekadar menahan makan, minum dan berhubungan suami-istri di siang hari, namun lebih dari itu adalah puasa batin yang dapat mengantarkan orang beriman kepada derajat takwa (muttaqin) dan saleh (shalihin), baik saleh individu maupun sosial,” tegas Zainuddin, Minggu, (1/3/2026)

Ia mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang membagi tingkatan puasa dalam tiga level, yakni awam, khawash, dan khawasul khawash. Level pertama hanya menahan hal-hal yang membatalkan secara fisik. Level kedua menjaga anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Sedangkan level tertinggi adalah puasa hati, menjaga diri dari segala hal yang menjauhkan dari nilai ketakwaan.

“Nabi sudah mengingatkan, banyak orang berpuasa namun yang diperoleh hanyalah lapar dan dahaga. Artinya, secara lahiriah ia berpuasa, tetapi secara moral dan sosial belum tentu berubah,” ujarnya.

Zainuddin menilai, persoalan terbesar umat bukan pada kurangnya ritual, melainkan minimnya dampak. Jika setelah Ramadan praktik ketidakjujuran tetap terjadi, keserakahan tetap dipelihara, dan ketidakadilan tetap dibiarkan, maka puasa kehilangan ruhnya.

Dalam perspektif Ushul Fiqh, perintah puasa mengandung makna keberlanjutan. “Meski puasa Ramadan diwajibkan hanya setahun sekali, dampak kebaikannya harus berlangsung terus-menerus. Inilah yang saya sebut sebagai sustainable character development,” katanya.

Ia menekankan bahwa ibadah mahdhah seperti syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji harus berimplikasi pada kehidupan sosial. Salat secara tegas disebut dalam Al-Qur’an mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika seseorang rajin salat tetapi tetap gemar menyebar kebencian dan melakukan ketidakadilan, maka ada yang belum selesai dalam ibadahnya.

Puasa pun demikian. Menahan lapar seharusnya melahirkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Karena itu, Ramadan ditutup dengan zakat fitrah sebagai simbol kepedulian sosial. Spirit spiritualitas harus berjalan seiring dengan solidaritas.

Namun Zainuddin menyoroti masih rendahnya kesadaran zakat mal di kalangan yang mampu. Ibadah sosial yang berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan justru belum menjadi prioritas utama.

Baca Juga : Dua Pemainnya Absen, Persela Lamongan Bakal Meladeni PSS Sleman

“Ada kecenderungan sebagian orang lebih mengejar ibadah yang bersifat prestise. Gelar ‘Pak Haji’ kadang dianggap lebih membanggakan, padahal zakat memiliki dampak sosial yang sangat besar,” ujarnya.

Ia mengingatkan sabda Nabi riwayat Muslim bahwa harta yang dizakati tidak akan berkurang, bahkan bertambah keberkahannya. Sayangnya, sebagian muzakki masih terpaku pada batas minimal 2,5 persen tanpa mengembangkan semangat filantropi yang lebih luas.

Zainuddin juga mengutip imbauan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, agar umat Islam tidak berhenti pada angka minimal tersebut.

“Jika umat Islam hanya terpaku pada angka 2,5 persen, maka potensi ekonomi umat yang sangat besar tidak akan mengejawantah,” kata Zainuddin mengulang pesan Menteri Agama.

Menurutnya, Ramadan adalah ujian kejujuran spiritual. Apakah ibadah benar-benar membentuk integritas, atau hanya menjadi seremoni tahunan tanpa implikasi sosial.

“Ramadan harus menjadi titik tolak perubahan. Ibadahnya boleh selesai, tetapi dampaknya tidak boleh berhenti. Kalau setelah Ramadan kita masih sama, maka kita perlu bertanya, puasa kita berada di level yang mana,” pungkasnya.


Topik

Agama UIN malang prof zainuddin ramadan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri