MALANGTIMES - Ratusan peserta Hapus Tato Gratis yang datang ke Mall Dinoyo City ternyata menyimpan sejuta cerita. Raut wajah bahagia pun tak bisa mereka sembunyikan meskipun dalam antrean yang lumayan panjang.
Baca Juga : 10 Daerah Resmi Dapat Persetujuan Terapkan PSBB
Peserta yang didominasi kaum adam itu pun memiliki beragam alasan untuk menghapus tato di tubuhnya. Selain karena ada penyesalan, juga keinginan yang kuat untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik sesuai ajaran Islam.
Agus, salah satu peserta asal Sumatera, bercerita jika dia mulai bertato saat masih remaja. Ketika itu, pengaruh pergaulan menjadi salah satu alasan dia memilih menato lengan kirinya. Tak puas hanya menato bagian tangan, ia pun kembali menyambungnya pada bagian punggung.
"Saya mulai bertato di tahun 1990. Dari lengan tangan kiri edan nyambung ke punggung," ungkapnya kepada MalangTIMES.
Memiliki tato saat itu menjadi sebuah kebanggaan untuk dirinya. Namun setelah beberapa bulan terakhir mengikuti sebuah komunitas pengajian, ia pun memutuskan untuk melunturkan kebanggaannya di masa lalu itu.
"Saya ikut mengaji dengan Komunitas Sedekah Subuh. Dari situ saya belajar banyak tentang Islam. Termasuk meruginya saya saat menato tubuh saya," cerita pria bertubuh gempal itu.
Baca Juga : Viral! Mobil Jenazah Terjebak Lumpur Usai Pemakaman Pasien Covid-19
Agus pun berniatan menghapus semua tato yang ada di tubuhnya. Dalam kesempatan event Hapus Tato Gratis ini, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia yang menyelenggarakan kegiatan mulia tersebut.
"Saya sangat berharap event ini akan kembali diselenggarakan di Malang. Saya merasa sangat terbantu dengan kehadiran kegiatan ini. Niatan menjadi pribadi yang lebih baik bisa saya tuntaskan dengan perlahan," ucapnya.
Hapus Tato Gratis merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh media online berjejaring terbesar di Indonesia MalangTIMES bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Mall Dinoyo City (MDC), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Islamic Medical Service (IMS). Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Malang, Klinik Hidayatullah Malang, dan Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang. (*)
