Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Internasional

Sunni di Iran Dilarang Bangun Masjid, Salatnya Harus Mengantre di Rumah Salat 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

07 - Jan - 2023, 14:13

Placeholder
Kaum Sunni di Iran salat di rumah salat, tak boleh bangun masjid. (foto: VOA)

JATIMTIMES - Penduduk Iran terdiri dari banyak etnis dan golongan. Mulai Syiah, Sunni, Kristen, Yahudi, Zoroastrian, dan Baha’is sebagai golongan penguasa.

Namun, di antara golongan-golongan tersebut, kaum Sunni-lah yang paling banyak ditindas oleh pemerintah Iran dikarenakan perbedaan masalah akidah antara Syiah dan Sunni.

Dalam pidatonya, Imam Besar Sunni di Iran Maulana Abdul Hamid Ismailzahi mengatakan, belum lama ini banyak orang berkata ada 9 masjid (Sunni) di Teheran, ibu kota Iran. Padahal, itu bukan masjid, namun namaz khaneh (rumah salat).

"Kami siap memberikan hadiah apa saja yang mereka mau kalau bisa tunjukkan 1 saja dari 9 masjid itu. Sembilan masjid yang mereka sebutkan itu adalah 9 namaz khaneh (rumah salat). Dan setiap rumah salat itu bisa menampung 30, 50 atau 100 orang salat bersamaan. Dan Itu adalah rumah salat, bukan masjid. Itu milik perorangan," ungkapnya. 

Lantas beredar salah satu media di Iran yang menunjukkan betapa kaum Sunni harus mengantre panjang untuk melaksanakan salat. Video yang dibagikan itu, salah satunya diunggah ulang oleh akun TikTok @rahadyansolo, memperlihatkan ratusan kaum Sunni mengantre di trotoar untuk salat Idul Fitri. Bukan mengantre untuk salat jamaah di masjid, namun di rumah salat. 

"Salam, ini adalah Teheran. Ini bukan antrean beras atau minyak. Ini  antrean salat. Hari ini adalah Hari Idul Fitri. Seperti kita ketahui, banyak Sunni menjadikan rumah mereka sebagai namaz khaneh (rumah salat)," kata reporter media yang membagikan momen itu. 

Di rumah salat, akan ada sekitar 10 kali salat Idul Fitri bergantian. Tujuannya agar semuanya bisa melaksanakan salat (Idul Fitri) itu.

Menurut salah satu media Iran, populasi Sunni di Teheran ada lebih dari 1 juta orang. Tapi mereka tidak diizinkan untuk membangun masjid walau hanya satu masjid. "Jelas kenapa? Mereka (rezim Syiah) tidak mau lihat jamaah sebesar itu di satu tempat (masjid Sunni)," ungkapnya. 

Dan media ini memperlihatkan kepada publik betapa tertindasnya Sunni di Iran.  "'Terima kasih' kepada republik Islam yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk melihat perbedaan antara jamaah yang membeludak dengan masjid-masjid pemerintah yang kosong," imbuhnya. 

Dilansir dari laman Era Muslim, dalam kekuasaan Iran, tak pernah ada ceritanya orang Sunni duduk dalam kursi pemerintahan. Baik itu untuk menteri ataupun sekadar calon presiden belaka. 

Hal ini terjadi sejak Revolusi Iran yang mengintegrasikan golongan Sunni ke dalam kaum minoritas. Dalam konstitusi Iran, sudah disepakati bahwa presiden Iran haruslah seorang penganut Syiah. Syiah tak pelak telah membuat kaum Sunni menjadi sangat inferior.

Penghinaan kaum Syiah terhadap jamaah Sunni bisa dilihat jelas pada ritual Syiah setiap pekan. Misalnya saja dalam acara doa bersama yang memang kerap dilaksanakan berbarengan. 

Di Iran, kaum Sunni mencapai 20 persen dari populasi penduduk Iran yang berjumlah 70 juta orang.

Sunni Iran mengalami penekanan yang sistematik selama bertahun-tahun. Pemimpin mereka, seperti Ahmed Mufti Zadeh dan Syeikh Ali Dahwary, dipenjarakan kemudian dibunuh. Pemerintah Iran juga menghancurkan masjid-masjid kaum Sunni dan melarang adanya pendirian masjid Sunni lainnya sekarang ini. 

Bandingkan dengan sinagog Yahudi yang banyak bertebaran di seantero Iran. Bahkan, azan oleh kaum Sunni pun dilarang oleh pemerintah Iran.

Kaum Sunni Iran hidup di pinggiran dan perbatasan. Sementara kaum Syiah, Kristen, dan Yahudi menghuni kawasan kota-kota besar di Iran. 

Kemarahan kaum Sunni Iran terhadap pemerintahnya tak lepas dari kebijakan Iran sendiri selama ini. Selain itu, karena perbedaan akidah yang sangat besar, yaitu kaum Syiah tak mengakui keberadaan sahabat Rasul (kecuali Ali).

Kaum Syiah menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama daripada seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin. Demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Sesuatu yang oleh Ali bin Abu Thalib sendiri pernah disanggahnya semasa beliau hidup.

Pencetus pertama paham Syi’ah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa)” (Majmu’ Fatawa, 4/435).

Oleh karenanya tak heran, ajaran Syiah sudah dianggap sebagai ajaran sesat dalam Islam dan ulama-ulama besar dunia pun sudah mengharamkannya. Dan hingga saat ini, tampaknya nasib kaum Sunni di Iran akan tetap terus tertindas dan tertekan.


Topik

Internasional



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni