Persentase Kehilangan Air Perumda Tugu Tirta Kota Malang Masih Jauh dari Batas Minimal Nasional

Mar 25, 2022 14:44
Manajer Kehilangan Air Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang Rahmad Hadi Sasmito. (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Manajer Kehilangan Air Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang Rahmad Hadi Sasmito. (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Setiap bulannya, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tugu Tirta Kota Malang selalu mengalami kehilangan air atau None Revenue Water (NRW) yang jika dilihat dari persentasenya masih jauh dari regulasi nasional.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang M Nor Muhlas melalui Manajer Kehilangan Air Rahmad Hadi Sasmito mengatakan, berdasarkan rekap data yang dilakukan di bidangnya, persentase tingkat kehilangan air Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang sejak Desember 2021 hingga Februari 2022 terus mengalami penurunan.

Tercatat, Desember 2021 tingkat persentase NRW sebesar 15 persen. Kemudian memasuki Januari 2022 persentase kehilangan air sebesar 13 persen. Terakhir di Februari 2022 tingkat kehilangan air sebesar 11 persen.

"Kehilangan air kita rata-rata masih sekitar 14 sampai 15 persen dan itu masih di bawah regulasi nasional. Kalau di nasional itu kan minimal 20 persen, sehingga kita lebih bisa saving karena kita juga punya reservoir banyak, sehingga kita bisa irit," ungkap Rahmad kepada JatimTIMES.com.

Tercatat, hingga Maret 2022 Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang memiliki 43 reservoir yang tersebar di beberapa wilayah. Dari 43 reservoir yang dimiliki Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang dengan kapasitas 41.591 meter kubik.

Rahmad menjelaskan, terdapat beberapa macam penyebab terjadinya kehilangan air. Pertama, terkait kehilangan air fisik yang disebabkan kebocoran pipa. Di mana kebocoran tersebut disebabkan pipa penyalur air mengalami pecah.

Menurutnya jika pipa pecah dan membuat bocor itu nampak akan mudah dibenahi. Namun, yang terkadang mengalami kesulitan yakni ketika kehilangan air yang disebabkan pipa bocor tidak nampak karena posisi pipa besar dan masuk ke selokan.

"Itu bisa berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun kita nggak tahu. Tapi kita punya metodologi-metodologi untuk mencari itu dengan Geographic Information System (GIS)," ujar Rahmad.

Lalu, kedua kehilangan air komersial. Yakni kehilangan air yang disebabkan oleh berjalannya meteran yang tidak normal. Selanjutnya yang ketiga, kehilangan air yang resmi, namun tidak dapat dihindari salah satu contohnya pemberian kompensasi di lingkungan sekitar sumber air.

"Termasuk Mendit Timur, Mendit Barat itu lumayan besar juga. Kemudian kompensasi terhadap kabupaten. Jadi sumber mendit itu juga ada kompensasi ke kabupaten. Itu kan air kita yang tidak menjadi pendapatan, tetapi itu resmi, tidak bisa kita hindari," pungkas Rahmad.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Perumda Tugu Tirta Kota Malangkehilangan airangka kehilangan air perumda tugu tirta

Berita Lainnya

Berita

Terbaru