JATIMTIMES - Pada momentum Hari Musik Nasional (HMN) 2022 yang selalu jatuh pada tanggal 9 Maret sejak diresmikan pada tahun 2013 ini, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko memiliki harapan besar terhadap perkembangan musik di Kota Malang.
Pejabat yang akrab disapa Bung Edi ini menyampaikan, bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Malang selama masa kepemimpinannya bersama Wali Kota Malang Sutiaji terus berupaya memberikan ruang seluas-luasnya kepada para musisi untuk terus berkarya.
Hal itu pun selaras dengan keinginan dan harapannya agar Kota Malang dapat kembali menjadi barometer musik, khususnya musik rock nasional.
"Kita sebagai pemerintah terus berupaya memberi ruang bagi para musisi lokal, seperti Kayutangan kita beri ruang ekspresi di sana, meski saat ini masih pandemi, kita harap ini (predikat barometer musik rock nasional) bisa kembali kita raih," ungkap Bung Edi.

Mengingat sejarah ke belakang, Kota Malang terbukti melahirkan beberapa musisi rock nasional. Selain itu, band-band rock nasional yang besar di era tahun 1960-an hingga 1980-an hampir pasti pernah menjajal panggung-panggung dan menggelar konser di Kota Malang.
Sebut saja The Rollies band rock legendaris asal Kota Bandung yang terbentuk pada tahun 1967, sekitar tahun 1968 sudah menggelar tur luar kotanya dan menjajal panggung di Lapangan Tenun yang berasa di Jalan Janti Nomor satu.
Kemudian ada nama band rock nasional God Bless yang berdiri sejak tahun 1973 di Jakarta. Di mana sudah menjadi kisah legendaris di kalangan masyarakat Kota Malang, ketika God Bless tampil di Gedung Olah Raga (GOR) Pulosari sekitar tahun 1979 mendapatkan reaksi tak terduga dari oknum penonton.
Di kala itu, banyak penonton arek-arek Malang yang merasa tidak puas dengan penampilan God Bless. Alhasil para oknum penonton melemparkan barang apapun ke atas panggung serta mengamuk.
Tak lupa, Malang juga memiliki musisi rock perempuan pertama yang mendapatkan gelar Lady Rocker Indonesia dari majalah musik Aktuil yakni Sylvia Saartje. Kiprahnya di dunia musik pun harus dihormati. Hadirnya Sylvia yang merupakan anak kedua dari Nedju Tuankotta dari Ambon dan Christina Tuyem dari Malang ini menjadi bukti bahwa Malang memiliki peran penting dalam perkembangan musik rock nasional.
Bung Edi pun mengatakan, bahwa dahulu ketika dirinya muda, seluruh elemen masyarakat bersama-sama memberikan dukungan atas acara-acara musik rock yang digelar di Kota Malang. Hingga akhirnya Kota Malang mendapatkan predikat barometer musik rock nasional.
"Saat itu seluruh stakeholder musik rock di Malang ini memberikan dukungan. Musisinya memberikan karya terbaik dan penggemarnya punya penilaian musik yang sangat bagus," ujar Bung Edi.

Lantas, Bung Edi pun menceritakan sekilas bagaimana animo masyarakat Kota Malang dahulu ketika ada pertunjukan musik rock. Salah satu tempat ikonik dan bersejarah yang menjadi saksi keriuhan perkembangan musik rock yakni GOR Pulosari.
"Kala itu di era GOR Pulosari, musisi atau grub band nasional saat tampil di Kota Malang, bisa menjadi tolak ukur kesuksesannya," tutur Bung Edi.
Hal itu dikarenakan selera musik arek-arek Malang pada kala itu sangat tinggi. Dengan influence band-band rock Barat seperti Deep Purple, Pink Floyd, Genesis dan beberapa deretan band rock lainnya, maka jika band rock yang tampil di Malang dan mendapat sambutan yang kurang baik, itu dikarenakan penampilannya dirasa kurang.
"Grup band ketika tampil di Malang dan diterima baik oleh masyarakat Malang, biasanya ditempat lain juga akan sukses. Tetapi tidak sedikit musisi yang dinilai kurang baik di Malang, dia tidak berkembang di tempat lain. Karena selera masyarakat Malang saat itu sangat tinggi," beber Bung Edi.
Sementara itu, Ketua MMI Hengki Herwanto menyebutkan MMI memiliki koleksi rekaman dan catatan perkembangan musik lebih dari 40 ribu arsip. Dirinya menilai, saat ini perkembangan musik di Kota Malang sedang memudar.
Mantan jurnalis majalah musik Aktuil ini menuturkan, sebenarnya banyak musisi lokal Kota Malang yang terus menunjukkan eksistensinya dan memiliki jam terbang tinggi. Namun, yang disayangkan minim di penyusunan lirik.
"Banyak musisi dengan kiprah luar biasa dikancah internasional, tapi di Kota Malang sendiri kurang. Misalnya Nova Ruth yang sudah pernah tampil di lima benua. Sebelum pandemi, dia bisa tampil di 100 pentas musik di berbagai negara," tutur Hengki.
Selain itu, juga ada Wukir Suryadi yang pernah menciptakan instrumen musik dari bambu. Kemudian lagi-lagi Sylvia Saartje yang menjadi kebanggaan warga Kota Malang juga merupakan Lady Rocker pertama di Indonesia yang berasal dari Malang.
"Jadi sebenarnya kualitas musik di Kota Malang ini luar biasa, namun saat ini sudah mulai memudar," kata Hengki.
Hengki juga berharap agar MMI dapat menjadi sarana untuk masyarakat khususnya para pelajar agar dapat memahami perkembangan musik yang ada di Indonesia. Karena dengan banyaknya wawasan, masyarakat akan berkembang.
"Rencana para pelajar untuk diwajibkan ke MMI ini bagus, kita sambut baik. Semoga itu terealisasi dan kita siap wadahi," pungkas Hengki.
