Kisah Orang Fasik Jenazahnya Dibuang di Tempat Sampah, Namun Disayangi Allah

Jan 19, 2021 18:42
Ilustrasi orang fasik yang disayangi Allah SWT, saat meninggal tak ada yang mau mengurus jenazahnya (Ist)
Ilustrasi orang fasik yang disayangi Allah SWT, saat meninggal tak ada yang mau mengurus jenazahnya (Ist)

MALANGTIMES - Mengambil sebuah hikmah tak hanya dari orang-orang baik saja, melainkan juga bisa dari orang-orang berdosa. Salah satunya dari orang fasik di zaman Nabi Musa yang justru dicintai Allah SWT. Lalu apakah itu orang fasik ? dan bagaimana ciri-ciri orang fasik ?.

Simak penjelasannya seperti yang dirangkum dari channel YouTube Islam Populer. Dijelaskan, Fasik digunakan untuk menyebut orang yang menentang syariat Allah SWT baik itu keseluruhan atau pun sebagian. Dalam kitab Al Mufradat Fi Gharib Al-Qur'an disebutkan, bahwa orang fasik adalah orang-orang yang melakukan dosa, baik kepada Allah SWT maupun sesama manusia.

Baca Juga : Bukan Hanya Manusia, Ternyata Rasulullah Miliki Sahabat Dari Golongan Jin ini

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa orang-orang fasik adalah orang yang lupa dengan Allah SWT. "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang Fasik", (Qs Al Hasyr : 19).

Lalu mengapa Allah mencintai seseorang yang fasik itu ?. Memang orang fasik adalah orang yang berdosa. Namun seperti yang dijelaskan sebelumnya, jika terdapat orang fasik pada zaman Nabi Musa yang dicintai Allah SWT. Siapakah dia ?.

Dalam Kitab Al-Mawa'izh Al-'Ushfuriyyah, terdapat kisah orang fasik di zaman Nabi Musa yang dicintai Allah SWT saat ia meninggal. Jenazahnya dibuang dan tak ada yang mau mengurusnya. Allah SWT lalu berfirman kepada Nabi Musa.

"Wahai Musa, ada seseorang yang mati di daerah Fulan pada tempat sampah. Dia adalah seorang wali dari para wali-ku. Mereka belum memandikannya, belum mengafaninya dan belum menguburkannya. Maka pergilah engkau, mandikanlah, kafanilah, salatilah dan kuburkan dia".

Nabi Musa lalu mendatangi tempat itu dan menanyakan kepada orang-orang keberadaan jasad itu. Lalu ia juga bertanya kenapa mereka tidak memandikannya dan menguburkan jenazah itu. Orang-orang tersebut kemudian memberi tahu jika orang yang meninggal itu merupakan orang yang fasik.

Nabi Musa kemudian memang melihat jenazah orang tersebut dibuang ditempat sampah. Nabi Musa kemudian bermunajat kepada Allah SWT. "Engkau menyuruhku menguburkan dan menyalatinya sedangkan kaumnya bersaksi atas keburukannya, maka engkau lebih mengetahui dari mereka dengan segenap pujian dan celaan".

Allah SWT menjawabnya, " Wahai Musa, kaumnya benar pada apa yang telah mereka ceritakan tentang keburukan kelakuan. Hanya saja dia memohon pertolongan kepada-ku saat kematian dengan tiga hal yang andaikata (tiga hal tersebut) digunakan untuk memohon pertolongan kepada-ku oleh seluruh orang-orang yang berdosa dari ciptaan-ku pastilah aku akan mengabulkannya. Bagaimana aku tidak menyayanginya, sedangkan dia telah memohon sendiri. Aku adalah Maha Penyayang dari semua penyayang".

Nabi Musa pun kemudian menanyakan tiga hal yang membuat orang fasik itu diampuni kepada Allah SWT. Allah SWT kemudian memberi tahu kepada utusannya. Yang pertama, saat kematian mendekati ia telah mengakui telah banyak melakukan kemaksiatan. Namun di dalam lubuk hatinya, ia sebenarnya membenci kemaksiatan yang ia lakukan. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa alasan, yakni hawa nafsu, teman yang buruk dan iblis yang dilaknat Allah.

Tiga hal itulah yang menjadikan orang itu menjadi fasik. Ia kemudian meminta ampun kepada Allah SWT dan mengakui sudah banyak melakukan maksiat. Kedua, ia suka berteman dengan orang-orang soleh daripada duduk bersama orang-orang fasik. Alasan ketiga ia mengakui bahasa lebih menyukai orang soleh daripada orang fasik.

Baca Juga : Dibangun Sejak Jaman Belanda, Gereja Jago Jadi Gereja Katolik Tertua di Kabupaten Malang

Seandainya adanya dua orang yang membutuhkan bantuannya, ia akan lebih mendahulukan orang Soleh dari pada orang fasik.

Allah SWT pun kemudian menjawab doa orang fasik tersebut dan mengampuninya. Allah kemudian berfirman kepada Nabi Musa perkara orang fasik itu. 

"Aku sayangi, aku ampuni dan aku maafkan karena sesungguhnya aku maha pemurah lagi maha penyayang khususnya kepada orang yang mengakui dosa kepada-ku. Karena orang ini mengakui dosa, maka aku mengampuninya dan memaafkannya. Wahai Musa, lakukan apa yang aku perintahkan, karena aku mengampuni dengan kehormatannya. Untuk orang yang menyalati jenazahnya dan menghadiri pemakamannya".

Dalam riwayat Wahab Bin Munabbih, orang fasik itu meminta ampun dengan cara yang berbed. "Wahai Tuhanku, andaikata engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku, maka bergembiralah para wali-Mu dan Nabi-Mu. Dan bersedihlah setan musuhku dan musuh-Mu. Dan andaikata engkau meengazabku sebab dosaku, maka setan dan teman-temannya akan bergembira dan bersedihlah para nabi dan wali. Dan sesungguhnya aku mengetahui kegembiraan para Wali menurut-mu lebih disukai dari pada kegembiraan setan dan teman-temannya. Maka ampunilah aku, wahai Allah sesungguhnya engkau lebih mengetahui dariku apa yang aku katakan, maka sayangilah aku dan maafkanlah aku".

Nah sahabat MalangTIMES yang beriman, itulah tadi kisah orang fasik yang disayangi oleh Allah yang terjadi di zaman Nabi Musa. Orang-orang saat itu tak ada yang mau mengurus jenazah orang fasik. Hal itu karena ia adalah orang yang suka bermaksiat. Namun di akhir hayatnya, ia mengakui dosa-dosanya dan diampuni oleh Allah SWT hingga Nabi Musa digerakkan oleh Allah untuk mengurusi jenazahnya.

Kisah ini memberikan gambaran, jika ampunan Allah SWT sangatlah luas bagi hambanya yang mempunyai dosa dan segera bertaubat. Hal ini sesuai firman-nya dalam Al-Qur'an. "Sesungguhnya tuhanmu sangat luas ampunannya" (QS An-Najm :32).

Topik
Berita Malang Nabi Musa orang fasik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru