Dibangun Sejak Jaman Belanda, Gereja Jago Jadi Gereja Katolik Tertua di Kabupaten Malang

Dec 25, 2020 09:37
Kepala Seksi Pewartaan Lingkungan Gereja Jago Lawang, Yohanes Suhadi saat menjelaskan sejarah Gereja Santa Perawan Tak Bernoda Lawang atau Gereja Jago dari masa ke masa. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kepala Seksi Pewartaan Lingkungan Gereja Jago Lawang, Yohanes Suhadi saat menjelaskan sejarah Gereja Santa Perawan Tak Bernoda Lawang atau Gereja Jago dari masa ke masa. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Kabupaten Malang terkenal tidak hanya karena ragam budaya dan kearifan lokalnya yang terus dilestarikan oleh masyarakat, namun Kabupaten Malang juga terkenal dengan nilai-nilai penyebaran keagamaan. 

Salah satu peninggalan sejarah yang telah ada sejak jaman penjajahan Belanda yakni sebuah gereja yang bernama Gereja Santa Perawan Maria Tak Bernoda atau masyarakat dan jemaat lebih mengenal dengan sebutan Gereja Jago. 

Gereja yang keberadaannya tidak jauh dari pusat keramaian di wilayah Kecamatan Lawang ini menjadi aset berharga dan menjadi pusat peribadatan bagi umat nasrani dalam menjalankan ibadahnya setiap pekan. 



Menurut penjelasan dari Kepala Seksi Pewartaan Lingkungan Gereja Jago Lawang, Yohanes Suhadi menyebutkan bahwa Gereja Jago dalam sebuah prasasti berbahasa Belanda yang diartikan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut: "Gereja ini, dibangun oleh arsitek C. Smiths, pada tanggal 20 Januari 1918 diberkati oleh Pastor Malang H.J.A.P. Van Meerwijk, dipersembahan kepada Bunda Allah yang Dikandung Tak Bernoda". 

Namun di sisi lain, menurut catatan sejarah dalam buku "100 Tahun Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bernoda Lawang" disebutkan juga bahwa berdasarkan Buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia - jilid 3b yang diterbitkan oleh Dokumentasi Penerangan KWI tahun 1974 halaman 1.000 tertulis jumlah gereja atau kapel (gereja kecil) yang ada pada waktu itu dan sekarang menjadi wilayah Keuskupan Malang hanya berjumlah tiga gereja atau kapel. 

Pertama gereja kecil di wilayah Pasuruan yang dibangun pada tahun 1895. Kemudian berlanjut Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan di Kota Malang pada tahun 1906. Serta gereja kecil di Lawang buatan tahun 1916. 



Namun meskipun terjadi dua perbedaan fakta sejarah terkait kapan berdirinya Gereja Jago Lawang, telah disepakati bahwa tanggal 20 Januari 1918 merupakan tanggal dan tahun berdirinya Gereja Jago Lawang, berdasarkan prasasti berbahasa Belanda tersebut. 

Yohanes juga mengatakan bahwa adanya Gereja Jago yang berlokasi di Jalan Tawang Argo, Lawang yang juga merupakan jalan menuju Perkebunan Teh Wonosari, dahulunya memang sengaja dibangun oleh orang Belanda untuk memfasilitasi kegiatan peribadatannya. 

"Ya dahulunya ini untuk memfasilitasi orang Belanda yang bekerja di perkebunan teh Wonosari dan sekitarnya untuk beribadah. Dan awalnya pun gereja ini hanya untuk peribadatan orang Belanda. Seiring berjalannya waktu akhirnya jemaat bertambah dan meluas hingga ke rakyat pribumi," terangnya. 



Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan penamaan dari Gereja Jago. Mulanya, Gereja Jago ini bernama Gereja Perdana yang merupakan gereja kecil di Lawang. Kemudian disampaikan Yohanes bahwa pada tanggal 30 Oktober 1977 terjadi perluasan pembangunan gereja yang kemudian selesai dan diberkati pada tanggal 10 Agustus 1978 oleh Uskup Malang yakni MGR. F.X. Hadi Soemarto O.Carm. 

"Nama gereja berubah dari Onbevlekt Ontvangene Moeder van God (Bunda Allah Yang Dikandung Tak Bernoda, red) menjadi Santa Maria Immaculata Lawang atau lebih dikenal sebagai Gereja Joglo," ujar pria yang telah mengabdikan diri sejak tahun 1980-an ini. 

Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa gereja tidak lagi menggunakan nama "Bunda Allah" tetapi berganti menjadi "Immaculata" yang berarti tanpa noda dosa. Karena gelar "Bunda Allah" mungkin akan menjadi sandungan bagi pendirian Gereja Katholik di Lawang yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. 

"Karena idiom 'Allah yang memiliki seorang Ibu' akan sulit diterima oleh masyarakat Lawang sedikit banyak sudah dipengaruhi idiom harfiah; Yang mengajarkan bahwa Allah tidak beranak dan diperanakkan," tulisnya. 



Lanjutnya dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa gelar "Bunda Allah" bagi Maria memang merupakan gelar kehormatan yang diberikan gereja dan bisa dijelaskan dengan argumen yang meyakinkan. Namun akan sulit membongkar idiom yang sudah terpatri pada pola pikir di masyarakat non Katolik. 

Kemudian karena terjadi penambahan jemaat dan kebutuhan untuk memperluas bangunan, pada tanggal 30 Oktober 1994 dimulai pemugaram untuk perluasan kapasitas bangunan yang akhirnya selesai pembangunan dan dilakukan pemberkatan pada tanggal 3 Mei 1998 oleh Uskup Malang MGR. H.J.S. Pandoyoputro O.Carm. 

Dengan dipugarnya bangunan pada gelombang kedua ini, nama gereja pun akhirnya juga berubah menjadi Gereja Santa Perawan Maria Tak Bernoda Lawang yang memiliki bangunan menjulang tinggi keatas dan melebar kesamping. 

"Untuk renovasi kedua ini bangunan yang sudah ada dibangun sejak Belanda akhirnya terjadi percampuran arsitektur dari tiga unsur yakni Jawa, Bali dan Eropa," tuturnya. 

Untuk unsur Jawa dikatakan Yohanes bahwa hal tersebut dapat terlihat dari bentuk bangunan Gereja Jago yang berbentuk Joglo dan adanya relief dua malaikat yang memiliki perawakan, pakaian dan ornamen dalam tradisi Jawa, sedang membawa Kitab bertuliskan A yang berarti Alpha dan Ω yang berarti Omega. 

"Sementara untuk unsur Bali nya yakni terlihat dari ukiran relief dari bentuk tersebut yang memiliki ciri khas Bali," tuturnya. 

Sedangkan untuk unsur Eropanya jelas dari bangunan asli tampak depan yang masih terlihat peninggalan dari jaman Belanda. Serta ornamen kaca patri para penginjil di langit-langit gereja dan lukisan serta ukiran yang merupakan simbolisasi Yesus Kristus. 

Sementara itu, dari dua kali renovasi besar di lingkungan Gereja Santa Perawan Maria Tak Bernoda Lawang atau Gereja Jago ini, Yohanes menyebutkan luasan dan kapasitas jemaat dalam setiap masanya. 

"Awalnya Gereja Perdana yang merupakan peninggalan Belanda berukuran 7 x 16 m² berkapasitas 75 jemaat. Kemudian saat era Gereja Joglo diperluas hingga 14 x 21 m² dengan kapasitas 200 jemaat. Dan terakhir saat era Gereja Jago memiliki luas 21 x 35 m² dengan kapasitas 900 jemaat," bebernya. 

Terjadinya penambahan jemaat juga didukung oleh era transmigrasi, yang membuat para jemaat Gereja Jago menjadi multi etnis yang beribadah di Gereja Jago. Yohanes menyebut para jemaat dari etnis yang beragam, di antaranya ada dari etnis Jawa, Sunda, Flores, Tionghoa, dan Bali. 

Sementara itu, disebutkan dalam buku "100 Tahun Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bernoda Lawang" bahwa terkait sebutan Gereja Jago untuk Gereja Santa Perawan Tak Bernoda Lawang tersebut dikarenakan di atas atap gereja terdapat penunjuk arah mata angin yang terbuat dari tembaga berbentuk Ayam Jago. 

"Pemasangan penunjuk arah angin ini merupakan tradisi arsitektur khas bangunan Eropa," tutupnya.

Topik
gereja jago lawang Natal dan Tahun Baru

Berita Lainnya

Berita

Terbaru