Screenshoot polling nama-nama calon Sekda Kota Malang yang tersebar di sosial media. (Foto: Istimewa).
Screenshoot polling nama-nama calon Sekda Kota Malang yang tersebar di sosial media. (Foto: Istimewa).

MALANGTIMES - Jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang Wasto, akan segera berakhir. Per tanggal 1 Maret 2021 mendatang, jabatan itu harus digantikan oleh yang lainnya, karena telah memasuki masa pensiun. Seiring dengan akan berakhirnya jabatan tersebut, di media sosial muncul polling terkait siapa yang akan menjadi pengganti dari sosok Wasto.

Ya, dalam polling yang diketahui bisa dilakukan melalui link https://strawpoll.com/rywzk51bx, muncul 6 nama. Salah satu dari keenam nama itu memasukkan istri Wali Kota Malang Sutiaji, yakni Widayati Sutiaji.

Baca Juga : Pemkab Malang Siapkan Mobil Refrigerator untuk Distribusikan Vaksin Covid-19

Sedangkan 5 nama yang lainnya, di antaranya Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malanag Handi Priyanto. Kemudian, Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang Erik Setyo Santoso.

Lalu, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang Ade Herawanto, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang  Zulkifli Amrizal, serta Camat Klojen, Heru Mulyanto.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji mengungkapkan polling yang menyertakan istrinya tersebut tidak valid. Ia menyebut, tidak mungkin istrinya akan dipilih untuk mengisi jabatan Sekda Kota Malang periode selanjutnya.

"Waduh imposible-lah, itu malah mencoreng nama saya itu. Masak Sutiaji milih Sekda itu istrinya sendiri," ujarnya saat ditemui di Balai Kota Malang sore ini (Kamis, 14/1/2021).

Menurut Sutiaji, terkait pembuatan polling calon pengganti Sekda Kota Malang yang tersebar di media sosial itu pun tidak berdasar. Karena tidak sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

Yaitu, berdasar Peraturan KASN No 2 Tahun 2017 (tentang Pedoman Pengawasan Komisi ASN atas Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi pada Instansi Pemerintah) dan PP No 11 Tahun 2017 (tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil). "Yang membuat polling itu pun juga tidak mengenal. Secara persyaratannya saja sudah keliru. Itu kan nanti misal bisa nyalonkan, padahal secara kejenjangan kan nggak bisa," imbuhnya.

Baca Juga : 12.000 Vaksin Siap Didatangkan di Kota Malang

Lebih jauh, kata Sutiaji, siapa pembuat polling tersebut juga belum diketahui. Yang pasti ia menilai, hal itu merupakan hak dari setiap orang jika memang menginginkan pembuatan polling pengganti Sekda Kota Malang. "Jadi terserah orang saja, ini dinamika, berarti masyarakat itu memang cerdas, memperhatikan. Ndak tau siapa yang buat polling, itu kan haknya masyarakat," jelasnya.

Yang pasti, menurutnya ada kriteria tertentu bagi seseorang yang ingin menjabat sebagai Sekda. Di antaranya, harus diterima oleh masyarakat termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN). "Calon Sekda itu yang bisa diterima oleh masyarakat. Masyarakat siapa, ya termasuk ASN. Kalau ASN aja nggak nerima kan nggak mungkin," paparnya.

Kemudian, kriteria berikutnya yakni smart. Lalu, memiliki loyalitas yang tinggi, dan mempunyai integritas. Sehingga dengan syarat tersebut dinilai mampu menjalankan profesi sebagai Sekda Kota Malang. "Smart, kecerdasan. Dia bisa mengantisipasi dan membuat strategi. Lalu tentu loyalitasnya tinggi, kepada siapa, ya kepada negara. Kemudian, punya integritas, sehingga membangun yang namanya budaya kerja," tandasnya.