Kadinkes Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo saat menjabarkan langkah Pemkab Malang guna mengantisipasi gejala KIPI paska vaksinasi Covid-19 berlangsung (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Kadinkes Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo saat menjabarkan langkah Pemkab Malang guna mengantisipasi gejala KIPI paska vaksinasi Covid-19 berlangsung (Foto: Dokumen MalangTIMES)

Menanggapi catatan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo, mengaku telah melakukan upaya antisipasi paska tahapan vaksinasi Covid-19 berlangsung.

Salah satunya adalah menjalin koordinasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). ”Kami sudah mempersiapkan terkait pencegahan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), kami juga akan kerjasama dengan PAPDI,” ungkapnya.

Baca Juga : Atlet Binaan KONI Kota Malang Sempat Reaktif Covid-19, Kini Kembali Bersiap Jadi Juara

Seperti yang sudah diberitakan, Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sodikul Amin, berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang memastikan tidak ada insiden KIPI, paska vaksinasi tahap pertama yang diagendakan di Kabupaten Malang pada awal Februari 2021 berlangsung.

Dalam penekanannya, kader partai NasDem ini mewanti-wanti agar Dinkes Kabupaten Malang, mampu memaksimalkan tahapan vaksinasi. Sehingga penyebaran Covid-19 di Kabupaten Malang bisa teratasi, tanpa adanya masalah baru paska tahapan vaksinasi dilakukan.

Menanggapi hal itu, Arbani mengaku telah mempersiapkan langkah antisipasi paska vaksinasi Covid-19, di seluruh fasilitas kesehatan (Faskes) yang ditunjuk untuk melakukan vaksinasi Covid-19.

”Penanganan KIPI akan dilaksanakan mulai dari tingkatan puskesmas dan seluruh faskes. Sehingga dapat mengeliminasi atau mengurangi efek samping dari vaksinasi tersebut,” imbuhnya.

Mekanismenya, diterangkan Arbani, sesaat sebelum dilakukan vaksinasi, para tenaga kesehatan (nakes) akan melakukan wawancara kepada penerima vaksin. Hal itu dilakukan untuk pemeriksaan klinis, guna memastikan apakah calon penerima vaksin dalam keadaan sehat serta memiliki penyakit kronis maupun komorbid atau tidak.

”Jadi pada hari H saat proses pemberian vaksin, akan ada 4 meja (tahapan, red). Meja pertama registrasi, meja kedua skrining kembali, meja ketiga proses penyuntikan vaksin, dan meja keempat adalah untuk observasi,” terangnya.

Menurutnya, dalam tahap assesment skrining tersebut, akan dilakukan tahap verifikasi yang juga melibatkan tim dari pusat, sebelum akhirnya dilakukan skrining lanjutan di meja kedua paska resgistrasi tersebut.

”Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk 1 orang mulai dari meja pertama hingga keempat itu, membutuhkan durasi sekitar 45 menit. Paling lama itu saat observasi, memerlukan waktu sekitar 30 menit,” ungkapnya.

Baca Juga : Hari ini Tambahan Pasien Konfirmasi Kembali ke Angka Dua Digit, 9 Kesembuhan di Kota Batu

Diterangkan Arbani, waktu observasi yang membutuhkan waktu paling lama tersebut, lantaran untuk memastikan apakah ada gejala KIPI paska tahapan vaksinasi berlangsung.

”Di dalam proses jangka waktu 30 menit itu kalaupun ada gejala pasti sudah terlihat, apakah pasca imunisasi (vaksinasi, red) ada gejala ruam-ruam, panas atau sebagainya,” terangnya.

Nantinya, lanjut Arbani, jika memang ditemukan adanya gejala yang mengarah ke KIPI, nakes yang disiagakan di setiap faskes akan segera melakukan tindakan antisipasi.

”Apabila terjadi gejala paska imunisasi, faskes sudah menyediakan obat-obatan khusus untuk mengatasi jika memang ada masyarakat (penerima vaksin, red) yang tubuhnya bereaksi lebih pasca divaksin,” ujarnya.

Meski mengaku sudah mempersiapkan langkah terkait penanganan KIPI, namun Arbani memastikan jika ada penerima vaksin yang kedapatan tidak memenuhi persyaratan saat proses skrining, maka tahapan vaksinasi bakal ditunda guna mengantisipasi adanya kejadian yang tak diinginkan.

”Kalau ditemukan ada gejala sakit seperti misalnya gejala infeksi saluran pernapasan ringan, maka akan diarahkan agar tahapan vaksinasi ditunda sampai gejala tersebut reda,” tukasnya.