Tergiur HP I-Phone 7+, Gadis di Malang Kena Gendam Lewat Telpon

Jan 03, 2021 14:52
Ilustrasi penipuan (Shutterstock)
Ilustrasi penipuan (Shutterstock)

MALANGTIMES - Lia Rosdiana Sholikhah (19), warga Jalan Simpang Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, menjadi korban gendam melalui telpon oleh seseorang yang mengaku menjual I-Phone murah. Uang milik korban senilai Rp 6,3 juta melayang masuk ke rekening pelaku gendam.

Kejadian tersebut bermula, pada tangal 21 Desember 2020, di mana saat itu korban tengah ingin membeli sebuah HP. Korban kemudian membuka Facebook dan di saat itu di beranda korban muncul postingan pelaku yang menjual I-Phone 7+ dengan harga Rp 2,9 juta.

Baca Juga : Dua Negara Hampir Ribut Gara-Gara Bocah SMP

Saat itu, dalam postingan pelaku yang menggunakan akun FB bernama Samsudin Bal Boa mengatakan menjual cepat lantaran butuh dana. Di situ pelaku juga menyertakan nomor yang bisa dihubungi, yakni 08523439xxxx. Tergiur harga murah, korban kemudian langsung menghubungi nomor yang tertera.

"Aku nggak miliki curiga kalau itu harganya sudah nggak masuk akal karena murah banget. Padahal pasaran second rata-rata Rp 5 juta. Karena itu sudah malam dan aku juga capek, tanpa pikir panjang langsung ku chat (melalui WhatsApp) penipu itu," bebernya, (3/1/2020).

Lanjut korban, tak curiga, korban kemudian menawar HP tersebut menjadi Rp 2,6 juta. Di situ pelaku mengiyakan tawaran korban. Saat itu korban juga mengira, jika penjual tersebut warga Malang, namun setelah ditanya penjual itu mengaku merupakan warga Jawa Tengah.

Korban yang sempat ragu, kemudian terus berlanjut melakukan komunikasi dengan pelaku. Pelaku mengirimkan sejumlah foto identitas pribadi miliknya berupa KTP, KK, serta akun medsosnya. Di situ, korban kemudian mulai percaya kembali dengan pelaku dan berfikir jika identitas yang diberikan asli.

Karena masih ragu, korban kemudian memvideo call pelaku, korban bertambah yakin saat pelaku mengangkat panggilan korban dan menjelaskan semua spesifikasi dari HP yang akan dijual.  Setelah itu, korban mengatakan kepada pelaku jika nantinya akan menghubungi pelaku kembali.

"Pelaku kemudian chat dan kemudian telpon. Di situ saya mulai merasa kehilangan kesadaran, kayak digendam. Pas dia telpon aku nge iya in saja apa saja yang dia (pelaku) omongin. Akhirnya deal dan paginya aku transfer Rp 2,6 juta dan dia katanya ke pihak jasa pengiriman. Pas saya video call buat lihat packing dan resinya dia nggak angkat. Terus kemudian pelaku ngirim sebuah video packing maupun resinya. Kemudian ada dari ngaku dari pihak jasa pengiriman, katanya barang sudah dicek dan aman," bebernya.

Setelah itu, korban mengecek resi pengiriman barang miliknya melalui aplikasi. Namun ketika dicek, nomor resi pengiriman tidak terlacak. Di situ korban mulai merasa gusar. Korban menghubungi pelaku, namun kata pelaku jika hal tersebut merupakan kesalahan sistem dari jasa pengiriman.

Setelah itu pelaku mengirimkan sebuah alamat website yang mengatasnamakan jasa pengiriman. Saat korban mengecek website tersebut, nomor resi pengiriman barang korban terdeteksi. Di situ korban sedikit bernafas lega.

Keesokan harinya korban kembali mengecek melalui aplikasi. Namun lagi-lagi nomor resi miliknya tidak terdeteksi. Di situ korban kembali menelpon pelaku dan menanyakan kejelasan transaksi. Di situ pelaku terus berkilah dan berupaya meyakinkan korban.

Baca Juga : Miris, Bocah 5 Tahun di Kota Malang Jadi Korban Pelecehan Seksual

"Kemudian besoknya aku ditelpon sebuah nomor (08135551xxxx) yang mengaku dari bea cukai. Di situ pelakunya ini bilang iPhone 7 yang aku beli ilegal dari barang hasil kejahatan. Kalau nggak ada SPPN (Surat Pajak Pertambahan Nilai) nya aku bakal dibawa ke jalur hukum. Setelah saya telpon lagi pelaku satunya yang menjual HP. Disitu saya bilang SPPN, pelaku bilang suruh telpon lagi Bea Cukai untuk buat SPPN, bila bayar nanti saya yang tanggung," ungkap korban.

Korban menelpon oknum yang mengaku dari bea cukai. Untuk pembuatan SPPN, oknum penipu yang mengaku Bea Cukai itu meminta uang sebesar Rp 3.750.000, dan diberikan waktu 30 menit untuk mentransfer karena penerbangan dikatakan oknum tersebut akan segera berangkat.

Korban kemudian menelpon pelaku (penjual HP), korban menyampaikan perihal biaya SPPN. Di situ dikatakan jika pelaku (penjual HP) tidak bisa mentransfer karena berada di lokasi pelosok dan jauh dari bank. Korban kembali diminta untuk mentransfer uang tersebut dengan janji pelaku akan mengganti.

"Saking paniknya, aku langsung telfon orang yang ngaku dari bea cukai, minta nomor rekening dan aku transfer. Terus dia minta bukti transfer dan aku kirimkan lewat WhatsApp. Dia kembali menghubungi, katanya udah masuk. Setelah itu pelaku ini bilang itu tadi buat SPPN saja, belum bea cukainya. Dia minta lagi transfer Rp 7,75 juta, karena kalau tidak katanya mau dilaporkan polisi," ceritanya.

Beruntung, korban yang saat itu benar-benar ketakutan dan berdiam diri di kamar, tak mentransfer lagi uang ke pelaku. Hal itu lantaran saldo shopee miliknya sudah maksimal transaksi sehingga tak bisa ditarik. Dari situ korban mulai sadar, telah menjadi korban penipuan.

"Dari awal waktu mau transfer aku tau dia penipu. Tapi setiap saya ragu, pelaku telpon saya, di situ saya seperti nggak sadar lagi. Memang kesalahan terlalu tergesa-gesa, nggak komunikasi sama keluarga," tuturnya.

Pasca kejadian tersebut, korban yang mengalami kerugian sekitar Rp 6,3 juta, lantas melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Malang Kota. Saat ini kasusnya masih dalam penanganan petugas.

Topik
Penipuan Online

Berita Lainnya

Berita

Terbaru