Keraton Kartasura, Istana Kerajaan Mataram Islam yang Runtuh Akibat Pemberontakan

Dec 27, 2020 20:04
Kunjungan pewarta BLITARTIMES ke situs cagar budaya Keraton Kartasura di Sukoharjo.
Kunjungan pewarta BLITARTIMES ke situs cagar budaya Keraton Kartasura di Sukoharjo.

MALANGTIMES - Sejarah mencatat pusat Kerajaan Mataram Islam berpindah beberapa kali. Keraton Kartasura merupakan istana keempat Mataram Islam setelah Kotagede, Kerto, dan Plered yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Situs cagar budaya Keraton Kartasura lokasinya berada di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 11 kilometer dari Keraton Surakarta Hadiningrat yang merupakan istana Kerajaan Mataram Islam selanjutnya. 

Baca Juga : Di sinilah Istana Iblis setelah Diusir dari Surga, Malaikat sampai Gemetar Melihatnya

Peninggalan Keraton Kartasura saat ini masih ditemukan dan bisa dikunjungi. Namun demikian, peninggalan yang paling kentara hanyalah bagian benteng keraton bagian dalam atau Benteng Sri Menganti. Sementara bagian lain menjadi kompleks permakaman.

Di dalam Benteng Sri Menganti Keraton Kartasura, ada dua peninggalan yang masih bisa ditemui. Pertama adalah bekas kamar tidur raja. Lokasi itu ditandai dengan dua batu besar yang diberi penutup kain.

Peninggalan kedua dinding tembok jebol. Lokasi tembok jebol ini berada di sisi utara situs kamar tidur raja. Dinding tembok jebol ini merupakan saksi bisu kejadian Geger Pecinan pada Oktober 1740, pemberontakan orang-orang Tionghoa dan masyarakat yang anti-VOC dan Raja Mataram Islam saat itu Sri Susuhunan Pakubuwono II.

Keraton ini didirikan oleh Sunan Amangkurat II pada tahun 1680-1742. Berawal dari pemberontakan Trunajaya dari Madura pada tahun 1677, yang menyerbu Keraton Mataram lama yang terletak di Plered. Adipati Anom yang bergelar Amangkurat II melarikan diri ke Hutan Wanakarta dan mendirikan Keraton Kartasura.

Dalam kunjungan jalan-jalan ke Surakarta, BLITARTIMES berkesempatan berjunjung ke Keraton Kartarsura. Ya, kesempatan kunjungan ke Surakarta kali ini penulis benar-benar memanfaatkanya untuk mempelajari budaya Jawa dan sejarah Mataram Islam. Namun sayangnya, kunjungan pada Senin 21 Desember 2020 ini penulis tidak dapat bertemu dengan juru kunci Keraton Kartarsura. 

“Sugeng rawuh Mas, monggo upami kepengen dating petilasan keraton. Tapi ngapunten, putero kulo ingkang dados juru kunci tasik ngucal (selamat datang mas, silahkan kalau ingin melihat-lihat petilasan Keraton Kartsura. Tapi maaf, anak saya yang menjadi juru kunci sedang bekerja),” ungkap wanita paro baya yang mengaku sebagai ibu dari juru kunci Keraton Kartasura. 

Tidak bertemu dengan juru kunci membuat BLITARTIMES mencoba-coba mencari literatur sumber yang mengulas tentang Keraton Kartasura. Di internet sendiri tulisan yang mengulas tentang Keraton Kartasura sangatlah sedikit. Setelah cukup lama selancar di dunia maya, penulis akhirnya menemukan ulasan Keraton Kartasura yang cukup menarik di channel You Tube balar jogja. 

Video You Tube dengan judul “KARTASURA KRATON MATARAM ISLAM YANG TERLUPAKAN” ini balar jogja menghadirkan para ahli sejarah yang mengulas dalam Keraton Kartasura. Dalam video ini sejumlah ahli sejarah menyampaikan Keraton Kartasura adalah kota kerajaan yang didirikan setelah keraton di Plered runtuh. Setelah runtuh, keraton di Plered menurut kosmologi Jawa sudah tidak pantas lagi menjadi ibu kota kerajaan meskipun secara teknis masih bisa diperbaiki.

Baca Juga : 5 Aksi Nekat Percobaan Pencuri Jasad Rasulullah Muhammad SAW

“Nah, setelah keraton di Plered runtuh, Sunan Amangkurat II memerintahkan kepada Adipati Sidurejo untuk mencari lokasi yang baru untuk kota kerajaan. Maka dipilihlah lokasi ini yang nama aslinya Adikerto,” terang Prof Dr Inajati Adrisijanti R, guru besar arkeologi FIB UGM Yogyakarta dalam paparanya di video You Tube balar jogja. 

Pada masa itu, Kartasura bukan satu-satunya tempat yang ditawarkan sebagai ibu kota baru Mataram Islam. Sunan Amangkurat II kala itu juga mendapatkan tawaran dari Semarang dan Salatiga. Pilihan akhirnya jatuh ke Kartasura karena Semarang dan Salatiga tidak memenuhi syarat kosmologi Jawa.

“Di dalam babad disebutkan bahwa pertama karena tanahnya datar dan luas. Selain itu tampaknya juga dipilih untuk melanjutkan tradisi sebelumnya, bahwa kota-kota kerajaan itu berada di antara dua sungai. Yang pertama kali dibuat di sini adalah kediaman atau tempat tinggal raja dan kemudian berkembang menjadi sebuah kota,” jlentrehnya. 

Selanjutnya, perang dan pemberontakan menghiasai kisah dari Keraton Kartasura. Dan yang paling terkenal terjadi pemberontakan Mas Garendi pada tahun 1742 yang dibantu etnis Tionghoa menyerbu dan menghancurkan Keraton Kartasura.

 Pemberontakan kala itu berlangsung panas. Raja Kartarsura saat itu Sri Susuhunan Pakubuwana II melarikan diri ke Ponorogo.Raja kembali ke Kartasura pada akhir tahun 1743, namun kondisi kota saat itu sudah hancur. Raja kemudian memutuskan membangun ibu kota baru di Desa Sala yang kemudian bernama Surakarta. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri dan ditempati sejak tahun 1745.  

“Kartasura menjadi ibu kota Mataram Islam selama 60 tahun. Memang tidak ada banyak kesempatan membangun Kartasura menjadi istana yang megah dan indah. Kenapa? Karena masa itu merupakan periode perang yang panjang,” papar ahli sejarah UGM Yogyakarta Dr Sri Magana. 

Topik
cagar budaya Keraton Kartasura

Berita Lainnya

Berita

Terbaru