Menelisik Potret Kota Malang di Era Hindia Belanda 1920-1953

Dec 27, 2020 10:00
Potret kawasan Balai Kota Malang zaman dahulu. (Foto: Screen Capture video Bimo K.A).
Potret kawasan Balai Kota Malang zaman dahulu. (Foto: Screen Capture video Bimo K.A).

MALANGTIMES - Menjadi salah satu destinasi favorit pelancong di Jawa Timur, Kota Malang cukup dikenal lantaran suasanannya yang sejuk. Kawasan yang dikelilingi pegunungan, dan pilihan lokasi liburan yang beragam seakan selalu menarik minat wisatawan luar daerah hingga mancanegara untuk datang. Terlebih jika musim liburan telah tiba.

Namun, kini, sebutan kota pelajar ini sudah mirip dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia yang punya banyak mall. Suasana kesejukan, bagi sebagian orang dinilai sudah tak lagi sama pada masa Malang yang dahulu.

Baca Juga : Peserta Giveaway "Tsunami 1.260" Pemerkan Pesona Pantai Ngudel dengan Caption Pantun Lucu

 

Nah, penasaran nggak seperti apa potret suasana kota ini pada puluhan tahun yang lalu? Rangkuman berikut, tergambar apik dalam video chanel Bimo K.A yang diunggah di laman media sosial Youtube.

Di video berdurasi kurang lebih 8 menit itu, rangkuman dokumentasi suasana Kota Malang dan sekitarnya di masa pemerintahan Hindia-Belanda dan awal kemerdekaan Indonesia antara tahun 1920-1953.

Video : Potret Keindahan Kota Malang Tempo Dulu tahun 1920-1953

Jika melihat video tersebut, kalian akan serasa menikmati wisata secara virtual di era zaman dahulu. Dibuka dengan fragmen video amatir buatan H J A Sanders pada tahun 1935 seputar kawasan Gereja Kayutangan.

Menelisik Gereja Kayutangan, dulu tempat beribadah bagi umat beragama katolik ini bernama Heilege Hartkerk Kayutangan. Kini, tanpa mengurangi khas heritage, gereja ini berubah nama menjadi Gereja Katolik Hati Kudus Yesus.

Tempat ini cukup terkenal bagi pelancong mancanegara yang tak pernah melewatkan untuk datang ke kawasan tersebut. Bangunan yang strategis di pusat kota, dan arsitektur bergaya eropa seakan menjadi peminat tersendiri para turis, bahkan hingga saat ini.

Beranjak, ke area sekitarnya kalian akan disuguhi penampakan Societeit Concordia di Jl Kayutangan sekitar tahun 1922. Kini, bangunan tersebut bernama Sarinah Plaza. Tempat bagi para muda mudi atau masyarakat umum lainnya berbelanja, ataupun nonton bioskop.

Berlanjut ke area berikutnya, suguhan pemandangan Alun-Alun Merdeka Kota Malang di tahun 1930-an. Suasana keramaian dengan keasriannya tampak terasa, kesan historis sangat nampak dengan adanya jalur trem di dalam area alun-alun di masanya.

Dulunya, wilayah ini juga cukup banyak perkebenan dan vila-vila. Tak ayal, jika kota ini disebut kota sejuk lantaran banyak pepohonan yang asri.

Potret Gedung Raadhuis pada sekitar tahun 1935-an, yang kini menjadi gedung Balai Kota Malang tergambar suasana heritagenya. Jika melihat seberang Balai Kota Malang kini merupakan Taman Alun-Alun Tugu, dulunya area ini bernama Lapangan Jan Pieterzoon Coen. Potret ini tergambar di tahun 1920-an.

Pendapa Agung Kabupaten Malang, yang berada di kawasan dekat dengan Alun-Alun Merdeka Kota Malang pada masanya juga tergambar apik.

Baca Juga : Tetap Senang di Tengah Pandemi, Lomba Layang-Layang Hias Diikuti Pelayang Bali

 

Kalian juga akan diajak melihat suasana Masjid Agung Jami', lalu Bestuur kantor dekat Alun-Alun Merdeka Kota Malang pada tahun 1920-1930 an.

Lalu, ada penampakan panorama Kajoetanganstraat atau disebut kawasan Jl Kayutangan sekitar tahun 1930-an. Kini wilayah tersebut telah berganti menjadi Jl Mayjend Basuki Rahmat, bahkan belum lama ini area ini juga dinobatkan sebagai kawasan wisata heritage atau disebut sebagai Kayutangan Heritage.

Area Jalan ljen, atau kawasan Idjen Boulevard di masa era tahun 1930-an yang cukup lengang. Kini, meski tak begitu banyak diubah dengan tetap mempertahankan suasana bangunan heritage, tapi banyak lalu lalang kendaraan yang memenuhi area tersebut.

Hotel Splendid di tahun 1920-an, seakan tergambarkan di tengah area pegunungan yang menyejukkan. Kalian akan disuguhi pemandangan alam yang luar biasa.

Selanjutnya, bagi kalian yang suka berenang di Kolam Renang Stadion Gajayana, juga ada suguhan penampakan di sekitar tahun 1935-an. Dulunya, area ini bernama Kolam Renang Zwembad.

Potret sekolah SMA Katolik Cor Jesu Malang di tahun 1920-an yang dulunya bernama Sekolah Suster Ursulin. Kemudian, gambar dari pusat perbelanjaan Mitra di tahun 1930-1940 an, dulunya bernama Grand Theatre.

Jika melihat jam besar di kawasan Kayutangan, dulunya hal itu lebih estetik. Ya, potret Tugu Jam di tahun 1935-an. Lalu, Bank Indonesia Malang di tahun 1930-an, dulunya bangunan ini diberi nama De Javasche Bank.

Dokumentasi Stasiun Malang (Kota Baru) di tahun 1930-an, potret Pasar Malang di tahi  1935-an, kawasan pecinan di tahun 1935-an yang dulunya dikenal sebagai De Petjinanstraat (Jl Pecinan), kini bernama Jl Pasar Besar.

Suasana perkampungan Kebalen di tahun 1930-an, hingga seputar kawasan Jl Gajah Mada di tahun 1935-an yang dulu bernama De Van Imhoffstraat (Jl Van Imhoff). Serta, potret diresmikannya Alun-Alun Tugu Kota Malang oleh Presiden Soekarno di tahun 1953.

Topik
Berita Malangsejarah kota malangsejarah malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru