50 Persen Jamaah Gereja Santo Andreas Terpaksa Tidak Rayakan Natal di Gereja

Dec 25, 2020 17:19
Bupati Malang Sanusi (pakai peci) saat meninjau kesiapan Gereja Santo Andreas jelang perayaan Natal. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Bupati Malang Sanusi (pakai peci) saat meninjau kesiapan Gereja Santo Andreas jelang perayaan Natal. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sejumlah gereja  telah menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat saat menjalani ibadah perayaan Natal. Salah satunya di Gereja Santo Andreas.

Ketua DPP (Dewan Pastoral Paroki) Tidar, Agustinus Widiyanto, mengatakan,  dampak adanya pandemi covid-19, malam menjelang perayaan Natal tahun ini terpaksa digelar dua kali.

Baca Juga : Dibangun Sejak Jaman Belanda, Gereja Jago Jadi Gereja Katolik Tertua di Kabupaten Malang

”Biasanya kami mengadakan perayaan Natal 1 kali. Tapi malam perayaan natal tahun ini (Kamis 24/12/2020) kami adakan 2 kali. Jadi, jam 18.00 WIB dan jam 21.00 WIB,” ungkapnya.

Sedangkan perayaan Natal, yakni pada Jumat (25/12/2020), juga diselenggarakan secara bergantian. Yakni terbagi ke dalam dua shift. ”Pagi dan sore. Pagi jam 07.30 WIB dan sore pukul 17.00 WIB,” jelasnya.

Selain membagi menjadi dua shift, perayaan Natal kali ini juga dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. ”Persiapkan (prokes, red) mengikuti aturan dan anjuran pemerintah, baik dari pemerintah Kabupaten Malang dan juga anjuran dari atasan kami, dalam hal ini Keuskupan Malang,” terangnya.

Ketentuan prokes yang dimaksud tersebut, lanjut Agustinus, dimulai dengan  pendaftaran yang dilakukan di setiap lingkungan. ”Untuk umat sendiri yang akan mengikuti perayaan Natal ini, akan didaftarkan sendiri melalui lingkungan masing-masing. Kemudian data dan nama tersebut akan diberikan kepada petugas protokol kesehatan,” terangnya.

Dalam pendaftaran tersebut, disarankan hanya umat yang sudah menempuh komuni pertama hingga usia 60 tahun. ”Dibatasi umur, mulai dari mereka yang sudah menerima komuni pertama dan sampai batas (usia) 60 tahun. Komuni pertama itu usianya sekitar 10 tahun, itu yang diperbolehkan. Sedangkan yang di bawah 10 tahun disarankan untuk tidak mengikuti perayaan,” katanya.

Setelahnya, daftar nama yang mengikuti perayaan tersebut akan diolah oleh petugas protokol kesehatan yang disiagakan oleh pihak gereja. Sebab, selain dibagi dalam dua shift, proses ibadah perayaan Natal di Gereja Santo Andreas juga dibagi ke dalam dua ruangan yang berbeda.

”Perayaan malam Natal yang jam 18.00 WIB kemarin (Kamis 24/12/2020) kami adakan di 2 tempat. Jadi di gereja sendiri, sama di aula sendiri,” terangnya.

Sebelum beribadah, para jamaah juga diwajibkan untuk menerapkan protokol kesehatan yang meliputi 4M. Yakni mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

”Kami menyiapkan tempat cuci tangan sejumlah 6 tempat, kemudian petugas protokol kesehatan yang melakukan pendataan setiap unat yang datang, ada 6 orang,” ucapnya.

Baca Juga : Gereja Jago Lawang Atur Jemaat untuk Gelar Misa Natal Menggunakan Kartu

Sekedar informasi,  total jumlah umat yang tercatat di Gereja Santo Andreas ada sekitar 750 orang. ”Total jamaah sebenarnya kalau normal (sebelum pandemi covid-19) itu sekitar 750 umat. Itu sudah termasuk dengan umat yang berusia 10 tahun ke bawah,” terangnya.

Namun, meski sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat, Agustinus tidak memungkiri ada beberapa jamaah yang tidak merayakan Natal ke gereja. ”Sebagian dari mereka masih belum berani untuk bisa mengikuti perayaan seperti ini, karena memang ada imbauan pemerintah. Kalau separonya (dari total jamaah Santo Andreas) saja ada,” ungkapnya saat ditanya berapa jumlah umat di Gereja Santo Andreas yang tidak merayakan natal ke gereja akibat pandemi covid-19.

Terkait hal itu, Agustinus mengaku memakluminya. Sebab, kondisi saat ini memang sedang pandemi covid-19. ”Kami menyelenggarakan perayaan Natal ini memang memberikan kelonggaran kepada umat. Salah satunya dengan batasan umur tadi. Karena memang hanya beberapa orang saja yang berani dan mau mengikuti perayaan itu (natal ke gereja, red),” tukasnya.

Sekedar diketahui, persiapan protokol kesehatan di Gereja Santo Andreas yang berlokasi di Perum Tidar, Malang ini, juga sempat ditinjau langsung oleh jajaran Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Malang.

Dalam pernyataannya saat ditemui usai melakukan peninjauan pos pam (pengamanan) dan gereja, Bupati Malang Sanusi menuturkan bahwa protokol kesehatan di seluruh gereja yang ada di Malang telah diterapkan. Yakni mulai dari kewajiban memakai masker, pengadaan tempat cuci tangan, intruksi untuk jaga jarak, dan membatasi terjadinya kerumunan.

 

Topik
Protokol Kesehatan Gereja Santo Andreas Dewan Pastoral Paroki Hari Raya Natal

Berita Lainnya

Berita

Terbaru