MALANGTIMES - Orang tua santri yang anaknya diusir dari pondok pesantren Darussalam An Nashr mendatangi Mapolresta Batu. Kedatangan ke polisi untuk membuat laporan terkait pengusiran anak mereka.
Almiun, salah satu orang tua santri yang berasal dari Sulawesi mengaku jauh-jauh ke Kota Batu untuk malaporkan kejadian pengusiran putrinya kepada kepolisian.
Baca Juga : Peduli Covid-19, Hawai Grup Sumbang Ratusan APD ke Pemkot Malang
"Kami laporkan, agar cukup anak saya saja yang mengalami ini, tidak kepada anak-anak lainnya," ujar Almiun, Rabu (11/11/2015).
Ia mengaku kecewa terhadap sikap pondok pesantren yang mengusir anaknya tanpa alasan yang jelas.
"Anak saya (FI) baru berumur 15 tahun, di Kota Batu tidak mempunyai saudara, tidak tahu mana-mana kok di usir. Kalau ada masalah dengan anak saya, seharusnya mengubungi saya bukan seperti ini," jelasnya.
Almiun juga mengatakan jika dirinya akan mendatangi pondok pesantren tersebut untuk mengambil barang-barang putrinya yang masih ada di pondokan. "Kalau nanti ketemu ustadnya ya pamitan, kalau tidak ya langsung pulang," ujarnya.
Selain Almiun orang tua FI, juga datang orang tua FN, Alifah, yang berasal dari Bali yang juga mengaku anaknya telah diusir tanpa alasan jelas dari pondok pesantren Darussalam An Nashr kota Batu tersebut.
Kedatangannya di Mapolres juga didampingi anggota Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP) Pemkot Batu.
Baca Juga : Viral Surat Stafsus Jokowi untuk Camat, Dicoreti Bak Skripsi hingga Berujung Minta Maaf
Orang tua santri tersebut menuju ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dengan membawa beberapa dokumen yang dibutuhkan kepolisian sebagai berkas untuk melapor, seperti hasil rongen putri dari Alifah yang pernah jatuh saat berkuda.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Batu, AKP Bambang mengatakan, jika kedatangan orang tua santri ponpes tersebut masih konsultasi.
"Kesini masih berkonsultasi, belum membuat laporan. Nanti katanya akan kesini lagi dengan membawa data dan berkas-berkas yang lengkap untuk membuat laporan," ujar Bambang. (*)
