Syukur Mursid (Heri Mursid) Brotosejati: Lahan Pertanian, Zona Hitam Pengembang

Dec 11, 2020 15:25
Syukur Mursid Brotosejati, penasehat Real Estate Indonesia (REI) Malang. (Foto: Yogi/MalangTIMES)
Syukur Mursid Brotosejati, penasehat Real Estate Indonesia (REI) Malang. (Foto: Yogi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Adanya lahan kosong yang tak terpakai membuat beberapa developer atau pengembang melihatnya sebagai potensi untuk bisnis properti. Namun, ternyata tak semua lahan tak terpakai akan menguntungkan untuk bisnis properti.

Penasehat Real Estate Indonesia (REI) Malang Syukur Mursid Brotosejati menyampaikan, saat ini marak pengembang yang bangkrut lantaran kurang pemahaman tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Baca Juga : Perumahan Taman Tirta Malang Manjakan Konsumen dengan Banyak Pilihan dan Harga Terjangkau

 

Kepada MalangTIMES, pria yang akrab dipanggil Heri Mursid tersebut menjelaskan, terdapat beberapa kawasan yang ternyata adalah zona hitam bagi pengembang. Salah satunya adalah area pertanian.

Lahan sawah yang sudah tidak terpakai dan dalam posisi kering tak jarang menjadi bidikan pengembang-pengembang pemula. Padahal, biasanya lahan ini masuk dalam kawasan hijau dengan status pertanian berkelanjutan.

"Dilihat dari lokasinya sudah kering. Dibeli pengennya untuk buka properti ternyata begitu diurus perizinannya ke pemda masuk kawasan pertanian," jelasnya

Kata dia, ini banyak terjadi pada pengembang pemula yang masih belum paham mengenai tata ruang. Sebab, meski dari segi fisik sangat memungkinkan, bisa jadi lahan itu masuk dalam status pertanian berkelanjutan.

"Karena hanya melihat dari fisik. Fisiknya yang sudah bukan sawah. Itu kalau yang dalam status pertanian berkelanjutan itu diapa-apain nggak bisa. Di luar untuk pertanian nggak bisa," timpalnya.

Untuk itu, pengembang harus menghindari kawasan pertanian berkelanjutan ini. 

Meski demikian, terdapat kawasan pertanian yang masih bisa tetap diubah menjadi perumahan. Namun, syaratnya adalah harus membuat pengganti tanah kering seluas dua kali lipatnya untuk dijadikan sawah.

"Ada syaratnya harus membuat pengganti tanah kering seluas 2 kali lipatnya karena ini ada keterkaitan dengan kebijakan ketahanan pangan," ucapnya.

Baca Juga : Syukur Mursid (Heri Mursid) Brotosejati: Tak Ada Solusi Enak untuk Korban Developer Nakal

 

Tentunya hal ini juga akan membuang banyak waktu. Banyak pengembang yang ingin membuka proyek harus menunggu, lantaran belum menemukan lahan penggantinya. Apabila belum mendapatkan lahan pengganti, perizinan-perizinan tentu tidak akan bisa jalan.

"Jadi itu zona hijau (pertanian) tapi buat developer itu zona hitam jadinya," tegas mantan Ketua REI Malang dua periode tersebut.

Untuk itu, pengembang perlu konsultasi terlebih dahulu. Selain itu, pengembang juga perlu melihat web pemda atau pemkot setempat mengenai tata ruang. Paling aman, pengembang mencari kawasan yang berwarna kuning yang berarti peruntukannya untuk perumahan.

"Intinya jangan di kawasan pertanian karena bisa itu pertanian berkelanjutan. Bisa juga dipakai cuman harus mengganti dan itu ribet lah," tandasnya.

 

Topik
Syukur Mursid Brotosejatizona hitam pengembangpenasehat reiMantan Ketua REI Malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru