Syukur Mursid (Heri Mursid) Brotosejati: Tak Ada Solusi Enak untuk Korban Developer Nakal

Dec 10, 2020 11:44
Syukur Mursid Brotosejati, penasehat Real Estate Indonesia (REI) Malang. (Foto: Yogi/MalangTIMES)
Syukur Mursid Brotosejati, penasehat Real Estate Indonesia (REI) Malang. (Foto: Yogi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Ada banyak developer (pengembang) terpercaya yang memiliki reputasi yang baik. Akan tetapi, tak sedikit pula oknum-oknum developer "nakal" yang mencoba bermain kotor di bisnis properti.

Maka tak heran jika hingga kini, pemberitaan terkait kasus penipuan perumahan terus bermunculan. Sudah tak terhitung masyarakat yang menjadi korban developer hitam. Tabungan dan usaha bertahun-tahun lamanya lenyap begitu saja.

Baca Juga : Serbu Promo Gila-gilaan Perumahan Taman Tirta Karangploso Sekarang!

 

Maka dari itu, masyarakat saat ini harus lebih cermat dan selektif memilih developer rumah agar tidak terkena jebakan batman penipu berbaju developer ini.

Lantas, bagaimana jika kita sudah telanjur menjadi korban? Apa yang harus dilakukan konsumen jika sudah telanjur terjebak developer nakal?

Penasehat Real Estate Indonesia (REI) Malang Syukur Mursid Brotosejati pun buka-bukaan kepada MalangTIMES. Dikatakannya, tidak ada solusi yang enak apabila kita sudah terjebak oleh developer nakal.

"Tidak ada solusi yang enak setelah orang kadung terjebak di situ," ujar pria yang akrab dipanggil Heri Mursid tersebut.

Dijelaskan lebih lanjut, untuk menuntut hak konsumen, mau tidak mau harus memakai dua jalur, yakni jalur perdata atau pidana.

Jadi, konsumen bisa mengajukan kasus ini ke Pengadilan Negeri setempat atau konsumen bisa mengadukan ke kantor kepolisian untuk jalur hukum pidana.

"Secara pidananya ada karena berarti kan menjual tanah bukan miliknya, tanah milik pihak ketiga atau sebenarnya digadaikan ke bank dijual tunai tapi dia nggak lapor dan nggak bisa nebus. Ini kan sama saja," paparnya.

 

Meski demikian, hal ini juga terkadang menjadi dilema bagi korban. Sebab, apabila korban melapor polisi, akibatnya developer akan masuk penjara. Nah, apakah dengan masuknya developer ke penjara akan menjamin hak dari konsumen? Tentu saja tidak.

 

"Tambah nggak balik karena nggak ada yang ngurusi," timpal Mantan Ketua REI Malang dua periode tersebut.

Untuk itu, secara terus terang Syukur mengungkapkan bahwa yang terjadi, konsumen pasti bingung melapor ke polisi atau tidak. Sebab tak jarang developer meminta konsumen untuk sabar lantaran hak konsumen masih ia usahakan.

Baca Juga : The Kalindra Pilihan Terbaik Apartemen di Malang

 

"Ini sehingga si konsumen itu maju mundur, dilemanya di situ," katanya.

Lantas bagaimana solusi terbaiknya? Mau tidak mau, para korban harus membentuk semacam paguyuban. Lalu, menunjuk salah satu perwakilan yang paham soal properti.

"Kemudian mapping apakah developer yang enggak bener ini masih bisa bertanggung jawab atas kewajibannya kepada pembeli. Kalau masih bisa berarti mungkin ada aset-aset lain yang bisa diselamatkan," paparnya.

Diperlukan salah satu dari konsumen yang paham mengenai properti untuk mengurus hak para korban, apakah aset developer yang masih sisa diharapkan bisa dipakai untuk memenuhi kewajibannya. Namun, apabila memang sudah tidak bisa, terpaksa para korban harus memakai jalur pidana.

"Kalau nggak bisa mau nggak mau harus ya sudah, jadi korban. Artinya tidak ada solusi yang enak setelah orang kadung terjebak di situ," imbuhnya.

Untuk itu, sekali lagi Syukur mewanti-wanti agar calon konsumen berhati-hati. Terlebih, dengan perjanjian jual beli yang tanpa notariil. Masyarakat jangan langsung tergiur oleh harga murah atau cara bayar yang enteng tiap bulan. Ia meminta calon konsumen untuk lebih jeli melihat modus penipuan.

"Seperti klausul-klausulnya kadang-kadang dikemas dengan seperti pola kerja sama sehingga rugi adalah sebuah risiko padahal ini modus penipuan," jelasnya.

Ia menyatakan saat ini memang sedang marak kasus penipuan properti. Karenanya, sekali lagi ia menuturkan masyarakat perlu jeli dan berhati-hati.

"Kalau sudah kejebak di situ tidak ada solusi yang enak," pungkasnya.

Topik
Berita Ekonomi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru