Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Dalam sebuah kisah, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah dicekik oleh seorang pendeta Yahudi. Namun akhirnya, pendeta Yahudi itu memeluk Islam setelah melakukan perbuatannya tersebut. Kisah tersebut pun masih banyak diperdengarkan hingga saat ini.

Dilansir dari channel YouTube Lensa Aswaja, disebutkan bahwa kisah tersebut bermula ketika Rasulullah SAW memiliki utang kepada si pendeta Yahudi.

Baca Juga : Amalan Satu Menit, Emas untuk Selamat di Hari Kiamat

Suatu hari, Rasulullah SAW keluar bersama para sahabat. Salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib. Tiba-tiba datang seorang Badui  mendekat dengan mengendarai kuda.

Orang itu berkata, “Ya Rasulullah SAW, di kampung itu ada sekumpulan manusia yang sudah memeluk agama Islam dengan mengatakan bahwa jika memeluk Islam, mereka akan mendapatkan rahmat dan rezeki dari Allah SWT.  Tetapi, setelah mereka semua memeluk Islam, justru terjadilah musim kemarau yang berkepanjangan. Sehingga mereka ditimpa kelaparan dan kehausan. Ya Rasulullah SAW, aku khawatir mereka akan kembali kufur meninggalkan agama Islam karena mereka memeluk Islam juga karena soal perut. Aku berharap Rasulullah mengirimkan bantuan kepada mereka untuk mengatasi bahaya kelaparan yang menimpa mereka.”

Mendengar itu, Rasulullah SAW langsung memandang Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulullah SAW, sebenarnya tidak ada lagi bahan makanan pada kita untuk membantu mereka.”

Di tempat yang sama, ternyata ada seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin San'ah. Dia mendekat kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah SAW, jika engkau mau, aku akan belikan kurma yang baik. Lalu kurma itu dapat engkau beli dariku dengan utang dan dengan perjanjian.”

Mendengar tawaran tersebut, Rasulullah SAW kemudian berkata, “Jangan dibeli kurma itu sekiranya kau berharap aku berutang kepadamu. Akan tetapi belilah kurma itu dan berilah kami pinjaman dari engkau.”

Zaid bin San'ah kemudian menyepakati itu dan membeli kurma kualitas yang sangat bagus. Dia kemudian menyerahkan kurma tersebut kepada Rasulullah SAW dengan janji akan dikembalikan oleh Rasulullah SAW dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

Rasulullah SAW kemudian membagikan kurma tersebut kepada orang-orang Badui yang tengah terserang bencana kemarau tersebut.

Singkat cerita, datang Zaid bin San'ah ke sebuah majelis yang dipimpin Rasulullah SAW. Saat itu, para sahabat, tanpa kecuali Umar bin Khattab, kaget dengan keberadaan pendeta tersebut. Apalagi, saat sudah ada pada saf paling depan, Zaid tidak duduk, melainkan berdiri di belakang Rasulullah SAW. Malah dengan berani dia menarik surban Rasulullah SAW dan membuat Rasulullah SAW tercekik.

Melihat itu, seluruh sahabat sontak berdiri dan geram. Umar  yang berada di samping Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal kepala orang ini.”

Namun Rasulullah SAW memberikan isyarat kepada Umar dan sahabat lainnya untuk tenang. Rasulullah yang masih tercekik memutar tubuhnya dan melihat Zaid, lalu berkata, “Wahai Yahudi, ada apa?”

Zaid menjawab, “Wahai Muhammad, kau berutang padaku. Dan aku tahu, kalian ini orang Quraisy sangat suka menunda-nunda pembayaran utang.”

Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Bukankah belum tiba saatnya (tenggat waktu pembayaran itu)?”

Maka Zaid bin San'ah menjawab sambil melepaskan sorban Rasulullah SAW. “Aku tidak peduli. Bayarlah utangmu sekarang juga!," ujarnya.

Maka Rasulullah SAW berpaling kepada Umar dan berkata, “Wahai Umar, ambilkan dari Baitul Maal sebanyak 20 sha' kurma (sekitar 40 kilogram kurma) untuk membayar utang itu kepada Yahudi ini dan berilah dia tambahan sebanyak 20 sha' kurma lagi.”

Umar dengan heran bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, 20 sha' itu untuk membayar utang. Tetapi tambahan 20 sha' lagi untuk apa?”

Baca Juga : Terbuat dari Pohon Thuba, Ini Kemewahan dan Warna Pakaian di Surga

Rasulullah SAW menjawab, “Itu sebagai hukuman karena engkau telah menakut-bakuti dia.”

Umar keluar dari masjid menujud Baitul Maal. Sepanjang jalan, Umar mencoba meredam amarahnya. Namun ketaatannya kepada Rasulullah SAW lebih besar daripada kegeramannya kepada sang Yahudi. Sehingga Umar bergegas dan mengambil apa yang diperintahkan Rasulullah SAW. 

Saat Umar sedang mengisi sha' kedua, sang pencekik Rasulullah SAW itu berkata, “Wahai Umar, tahanlah! Jangan kau masukkan kurma ke kantung itu.”

Umar tak peduli dan tetap memasukkan kurma sesuai yang diperintahkan Rasulullah SAW sambil berkata, “Aku hanya melaksanakan perintah Rasulullah SAW! dan aku tidak ingin mendengarmu!.”

Sang pendeta lalu berkata, “Wahai Umar, apakah engkau tidak mengenalku?”

Umar pun menjawab, “Aku tidak peduli!.”

Si pendeta itu berkata lagi, “Aku adalah Zaid bin San'ah.”

Umar pun terkejut dan bertanya, “Apakah benar engkau Zaid bin San'ah? Seorang Yahudi yang ahli Taurat?”

Zaid membenarkan itu dan terjadi percakapan panjang antara keduanya. Zaid menyampaikan bahwa dia mencekik Rasulullah SAW lantaran dia baru saja mendapatkan tanda-tanda kenabian dari Nabi Muhammad SAW.

Namun, dia belum mendapatkan satu tanda, yaitu kasih sayang yang mengalahkan amarahnya. Maka dia nekat mencekik Rasulullah SAW untuk memancing emosi Rasulullah SAW. Itu dia lakukan untuk membuktikan tanda kenabian pada Nabi Muhammad SAW.

Setelah peristiwa itu, Zaid melafalkan kalimat syahadat. Dia pun bersaksi menyedekahkan sebagian hartanya untuk sebagian umat Rasulullah SAW.

Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah SAW dan mengucapkan kalimat syahadat serta beriman kepada Allah SWT. Pendeta tersebut mendapatkan hidayah dari Allah SWT sehingga akhirnya memeluk Islam.