Rektor UIN Malang: Kita Harus Tepo Seliro, Kedepankan Toleransi

Nov 30, 2020 17:06
Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Ima/ MalangTIMES)
Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Ima/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Masyarakat sedang dibuat geger oleh peristiwa sadis pembunuhan terhadap empat jemaat gereja yang merupakan satu keluarga di Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palopo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Empat orang itu dibunuh, di antaranya dipenggal dan satunya dibakar. Sebuah gereja berupa pos pelayanan dan enam rumah jemaat juga dibakar.

Baca Juga : Petik Pengalaman Internasionalisasi Institusi, UIN Malang Studi Banding ke UNS

Aksi keji ini dilakukan oleh orang tidak dikenal yang diduga kelompok teroris jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jumat (27/11/2020) sekitar pukul 10.30 WITA.

Masyarakat pun beramai-ramai mengutuk aksi pembantaian tersebut. Berbagai ungkapan duka membanjiri Twitter.

Di tengah ketegangan ini, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang) Prof Dr Abdul Haris MAg menyerukan untuk mengedepankan toleransi.

Hal ini disampaikannya saat membuka webinar dengan tema "Islam dan Realitas Keberagamaan di Indonesia" yang digelar Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang), Senin (30/11/2020).

"Orang boleh berbeda agama, suku, bahasa daerah, dan lain-lain, tetapi kita harus bersatu dalam rangka untuk mengawal NKRI," tegasnya.

"Dan kita semua harus mengedepankan rasa tasammuh, ta'adul, tawazun, toleransi dan semua itu akan membawa keberkahan kebaikan dalam rangka membangun kehidupan berbangsa dan negara," sambungnya.

Lebih lanjut Prof Haris menuturkan, kita sama sekali tidak boleh memaksa orang lain untuk meyakini apa yang kita yakini.

Baca Juga : Ini Persiapan Disdikbud Kota Malang untuk Pembelajaran Tatap Muka

"Meskipun kita yakin apa yang kita yakin itu benar tetapi tidak boleh memaksakan kepada orang lain," katanya.

Kata dia, kita harus tepo seliro. Tepo seliro sendiri merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Jawa. Bisa diartikan sebagai tenggang rasa, sikap saling menghargai antar sesama, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, serta menghadirkan rasa simpati dan empati dalam segala kondisi.

"Kita harus tepo seliro, kita harus memahami perbedaan itu," tegasnya.

Prof Haris pun mengapresiasi Pascasarjana UIN Malang yang mengangkat webinar dengan tema yang sangat relevan ini. Tema yang diangkat bagi Prof Haris sangat kontekstual, sesuai dengan tantangan yang sekarang terjadi.

"Mudah-mudahan terus ke depan realitas keberagamaan ini kita terima apa adanya dan kemudian bina terus-menerus agar tidak membawa bencana bagi bangsa dan negara ini," tandasnya.

Topik
UIN Maulana Malik IbrahimUIN Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru