Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

MALANGTIMES - Prostitusi artis merupakan satu dari bukti maraknya layanan seks bisa berlaku di mana saja dan oleh siapa saja. 

Tak terkecuali, meski secara resmi lokalisasi di Tulungagung telah di tutup beberapa tahun lalu atau tepatnya tahun 2015, bukan berarti praktik esek-esek hilang dari Kota Marmer.

Baca Juga : Viral Kisah Bocah SD Kerja Keras Demi Bayar Cicilan Motor Almarhum Ayah

"Banyak menggunakan jasa online, jadi cukup transaksi melalui medsos," kata Purwanto (35) pria yang punya pengalaman menggunakan jasa prostitusi online ini.

Pria yang sering dipanggil Pur ini melanjutkan, layanan online bisa dengan mudah menggunakan aplikasi tantan dan MeChat.

"Tinggal pilih saja, tapi hati-hati banyak akun fake yang minta di transfer sebagai keseriusan atau DP," ujarnya.

Lebih lanjut, Pur memberikan tips agar tidak tertipu pengguna jasa online, harus memastikan tempat dan minta foto dikirim dengan tempatnya. 

Selain itu, minta agar kamera ponsel diberi mapp dan timer sebagai jaminan bahwa pemilik akun benar- benar telah booking tempat.

"Yang begini saja kadang masih kena tipu. Rekayasa teknologi begitu canggih jadi harus hati-hati," jelasnya.

Jasa prostitusi ini, lanjut Pur, sering dibanjiri wanita luar kota. Ada yang terang-terangan BO (Boking Order) ada juga yang disamarkan melalui jasa massage.

"Bukan rahasia umum, semua dapat mengunduh aplikasinya. Bahkan ada yang terang-terangan menawarkan diri melalui media sosial sekelas Facebook dan Twitter," ungkapnya.

Istilah yang dikenali ada berbagai macam, mulai dari BO, ST/LT (Short/Long Time), stay hotel, nawar nggak logis auto blok, hanya teman tak lebih, Ready, Massage HJ, BJ dan plus serta istilah lainnya.

Baca Juga : Layani Threesome, Artis ST dan MA Bertarif Rp 110 Juta

Pengamat sosial dari Universitas Bhineka (UBHI) Tulungagung Andreas Andri Djamiko, menilai fenomena ini bukan sebagai trend tapi lebih pada solusi baru menggantikan cara konvensional.

"Menurut saya (prostitusi online di Tulungagung) bukan saja sebagai trend, tapi sebuah solusi baru untuk menggantikan cara konvensional yang sering tercium modus operandinya dalam operasi pekat (penyakit masyarakat) yang selalu dilaksanakan secara rutin oleh penegak hukum," kata Andreas, Sabtu (28/11/2020).

Penggunaan teknologi untuk membuka layanan esek-esek adalah cara modern yang lebih sulit dilacak.

"Selain cara yang lebih modern, saya pikir porstitusi online ini sangat sulit untuk dilacak. Karena memang membutuhkan sebuah observasi/pengamatan yang lebih rumit dibanding cara praktek prostitusi konvensional," jelasnya.

Pembuktian jika terkena operasi oleh pihak berwajib, dikatakan dosen UBHI ini, perlu ahli IT dan tidak bisa serta merta dilacak, ditangkap dan dijerat hukum begitu saja.

"Karena memang prostitusi online ini selain memerlukan ahli IT, juga membutuhkan tunjangan teknologi mumpuni untuk melacaknya," pungkasnya.