Pentas komunitas teater Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) Malang di SDN Klojen, Jumat (20/11/2020). Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES
Pentas komunitas teater Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) Malang di SDN Klojen, Jumat (20/11/2020). Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES

MALANGTIMES - Meski panggung kesenian belum secara resmi dibuka di tengah pandemi Covid-19, Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) punya cara untuk tetap menghadirkan karya mereka. Kelompok teater asal Malang, Jawa Timur ini mementaskan lakon #RuangKelasKosong di SDN Klojen, Jumat (20/11/2020) sore.

Seperti judulnya, pentas #RuangKelasKosong digelar di dalam ruang kelas yang selama beberapa bulan terakhir tidak digunakan. Dua ruang kelas di SDN Klojen ditata sebagai panggung alternatif. Meja kursi yang biasa ditempati murid menjadi tempat duduk penonton sekaligus dieksplorasi sebagai bagian dari pertunjukan.

Baca Juga : Pameran Payung Tradisional Mbah Rasimun, Bung Edi: Wujud Pelestarian Budaya

Tujuh pemain dengan kostum hitam, topeng jerigen air, dan topi ember plastik mengawali pentas dengan berada di tengah-tengah penonton. Mereka lantas menampilkan berbagai koreografi, baik di depan ruang kelas maupun berkeliling di berbagai sudut ruangan.

Sutradara pementasan, Agus Fauzi Rhomadhon mengungkapkan bahwa KBKB berusaha merespons dampak yang diakibatkan pandemi Covid-19. Menurut Agus, salah satu yang terdampak adalah dunia pendidikan.

"Pandemi memaksa sekolah meliburkan diri dan ruang-ruang kelas menjadi kosong, berganti kelas virtual. Ruang kelas sebagai ruang transfer ilmu pengetahuan dan etika, semakin mengukuhkan diri menjadi pabrik yang harus mencetak lulusan yang terstandardisasi sama," ungkapnya.

Sebelum menyusun pertunjukan, KBKB juga melakukan riset sederhana. Salah satunya dengan menghimpun tanggapan anak-anak mulai dari tingkat TK hingga SMA terkait kondisi sekolah di tengah pandemi.

"Rata-rata siswa mengaku terhibur dengan suasana kelas, teman-temannya, jajan di kantin. Mereka ingin kembali beraktivitas seperti itu.

Itu yang kami angkat dalam pentas kali ini," sebutnya.

Pentas KBKB ini merupakan rangkaian kegiatan Teater Exit dan Pintu Rencana Bagi Wabah yang diselenggarakan Departemen Teater Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Selain di Malang, ada dua kelompok teater lain yang juga ambil bagian. Yakni dari Teater Kala, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton di Probolinggo serta UKM Seni Teater Nanggala, Universitas Trunojoyo Madura di Bangkalan.

Presidium Departemen Teater DKJT, Luhur Kayungga mengungkapkan bahwa program ini menjadi alternatif sekaligus pertanyaan bagi pelaku teater soal ruang ekspresi selain panggung. Terlebih selama pandemi Covid-19, akses panggung-panggung pertunjukan dengan kehadiran penonton sangat terbatas.

Baca Juga : Trio Audiovisual Malang Monohero Dapat Apresiasi dari Isyana dan Rara Sekar

"Kelompok teater saat ini dituntut untuk bisa meninggalkan gedung-gedung pertunjukan konvensional dan menggunakan ruang-ruang publik. Membaca ulang kondisi saat ini, terlebih di tengah pandemi dengan juga memperhatikan faktor kesehatan," ucapnya.

Sementara itu, hadir pula sastrawan Afrizal Malna yang turut mengapresiasi pementasan KBKB. Menurutnya masih banyak ruang dan materi yang bisa dieksekusi dengan pilihan ruang kelas sebagai bagian dari pertunjukan.

"Saya datang tanpa ekspektasi tertentu.

Ini sebuah kelas yang ketika masuk agak membingungkan, apakah akan memerankan kelas atau kelas menjadi panggung. Ternyata saya lihat kursi jadi panggung, meja jadi panggung, ada banyak elemen di ruang ini yang bisa menjadi bahan menarik," ungkapnya.