Banjir bercampur lumpur terjadi beberapa saat lalu di Desa Sumber Brantas. (Foto: istimewa)
Banjir bercampur lumpur terjadi beberapa saat lalu di Desa Sumber Brantas. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Pekan lalu, intensitas hujan tinggi membuat saluran irigasi tidak mampu menampung debit air di kawasan Desa Sumber Brantas, Kota Batu. Akibatnya, banjir bercampur dengan lumpur masuk di beberapa rumah warga.

Pemerintah Kota (Pemkot) Batu sebenarnya telah menyiapkan anggaran hingga Rp 3,5 miliar. Sayangnya hingga mendekati akhir tahun, anggaran itu belum sepenuhnya terserap atau digunakan. 

Baca Juga : Tersisa 2 Bulan, APBD Kota Batu Terserap 42 Persen

Dari anggaran Rp 3,5 miliar pada tahun 2020 ini, baru Rp 1,6 miliar yang telah digunakan. “Karena pandemi Covid-19, sehingga anggaran direalisasikan untuk penanganan tersebut di Kota Batu,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu, Suwoko.

Setelah anggaran tersebut dikembalikan lanjutnya, sisa anggaran kurang lebih sejumlah Rp 1,9 miliar yang belum terserap diperuntukkan untuk perawatan saluran itu akan dimaksimalkan. “Setelah anggaran dikembalikan, sedang kami maksimalkan,” imbuhnya.

Terlebih, musim penghujan di Kota Batu diprediksi dimulai pada November mendatang. Berdasarkan prakiraan cuaca, puncak musim penghujan itu akan terjadi pada Februari 2021.

Kepala Seksi Penanggulangan Bencana dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Achmad Choirur Rochim menambahkan, saat intensitas hujan tinggi Kota Batu tidak luput dari bencana banjir. Untuk mengantisipasi dari bencana tersebut BPBD Kota Batu dan DPUPR Kota Batu telah melakukan sosialisasi.

“Sosialisasi yang diberikan itu dengan mengembalikan fungsi irigasi. Karena yang ditakutkan selama musim kemarau ini banyak sampah yang menutup saluran irigasi. Sehingga rawan terjadi banjir di beberapa titik,” ucapnya.

Baca Juga : Kepatuhan Tinggi, Kepala Bapenda Optimistis Target PBB Kota Malang 2020 Terlampaui

Menurutnya intensitas hujan akan tinggi mengingat fenomena La Nina yang terjadi di Samudera Pasifik diprediksi akan mengakibatkan anomali cuaca berupa peningkatan curah hujan yang terjadi di Indonesia, termasuk di Kota Batu. Dampak dari fenomena tersebut diperkirakan terjadi pada akhir 2020 hingga awal 2021.

Sehingga warga Kota Batu diminta untuk lebih waspada terhadap potensi-potensi bencana yang akan terjadi. “Mengingat saat terjadi curah hujan tinggi, Kota Batu tak terhindarkan dari bencana tanah longsor, angin kencang, dan banjir. Sehingga warga perlu waspada,” tutup Rochim.