Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: YouTube DEMA UIN Maliki Malang)
Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: YouTube DEMA UIN Maliki Malang)

MALANGTIMES - Dalam rangkaian Dies Maulidiyah ke-59, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) mengadakan webinar dengan beragam tema. Hari ini (Sabtu, 24/10/2020) UIN Malang mengadakan webinar bertajuk Seminar Kebangsaan Sosial, Hukum, dan Politik "Refleksi Peta Politik di Indonesia".

Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg sebagai keynote speaker menyampaikan, maksud dari politik itu sendiri sehingga anak muda tidak salah paham. Dikatakan, politik amat erat kaitannya dengan bagaimana memperoleh kekuasaan dan menggunakannya untuk kebaikan.

Baca Juga : Rektor UIN Malang Beberkan Keistimewaan Menjadi Santri

Di sisi lain, filsuf Aristoteles menyatakan, politik adalah upaya warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Apapun itu, kata dia, politik pasti berkaitan dengan kepemimpinan.

"Bagaimana kepemimpinan dengan kekuasaan yang diperoleh digunakan sebaik mungkin untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat luas, warga negara maupun yang lain," terangnya.

Ia pun teringat satu kaidah terkenal dan menjadi idealisme seluruh pemimpin yang baik. Yakni, penggunaan kekuasaan atau kewenangan dari seorang pemimpin terhadap yang dipimpin atau rakyat tidak lain seharusnya untuk kemaslahatan.

"Arti penting politik dan kemaslahatan ini tidak lagi dibatasi oleh waktu dan tempat dan bahkan tidak dibatasi oleh agama maupun etnis, bangsa, dan lain sebagainya," ucapnya.

Siapapun menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan kebaikan bersama, lanjutnya, maka itulah sejatinya seorang pemimpin.

Salah satu momen politik yang ikonik di Indonesia adalah lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 silam. Isi Sumpah Pemuda sendiri adalah pertama, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

"Ini adalah ungkapan yang sesungguhnya mengandung satu arti yang sangat penting untuk kebaikan dan menyatukan. Kesadaran ini yang saya kira sekarang harus ditumbuhkan kembali, bagaimana mengelola kekuasaan dan mengelola potensi untuk kebaikan bersama," paparnya.

Menurut Prof Haris, seperti halnya pemuda di masa lampau yang memiliki inisiatif Sumpah Pemuda, mahasiswa saat ini juga harus memiliki inisiatif sendiri untuk kebaikan bersama.

Baca Juga : Menaker Sowan ke UIN Malang Resmikan Gedung Career Center

"Apa yang sekarang bisa dilakukan oleh pemuda, oleh para mahasiswa untuk kebaikan bersama yang memungkinkan menjadikan Indonesia lebih maju, lebih baik, dan ada revolusi mental, mindset yang kemudian kita semua bisa mengapresiasi kerja usaha pemuda itu," katanya.

Tentunya semuanya harus sesuai dengan konstitusi, tidak boleh sedikitpun melanggar aturan-aturan dan etika-etika yang seharusnya dijunjung tinggi.

"Oleh karena itu, saya mengapresiasi sebesar-besarnya terhadap mahasiswa ini dan mudah-mudahan tidak salah paham terhadap politik yang kemudian dianggap politik itu selalu hal-hal yang bersifat pragmatis untuk kepentingan-kepentingan pribadi, untuk kepentingan-kepentingan sekelompok orang, atau untuk kepentingan-kepentingan hal-hal yang sangat sederhana," ucapnya.

Politik, kata dia, harus diartikan untuk kepentingan bangsa dan negara. "Untuk kepentingan perdamaian, untuk kepentingan kerukunan, dan untuk kepentingan ukhuwah, kebangsaan, dan kemanusiaan ini," pungkasnya.