Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama bersama aparat polisi, ASN, dan IMM Malang Raya saat salat Jumat di jalan raya depan Balai Kota Among Tani, Jalan Panglima Sudirman, Jumat (23/10/2020). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama bersama aparat polisi, ASN, dan IMM Malang Raya saat salat Jumat di jalan raya depan Balai Kota Among Tani, Jalan Panglima Sudirman, Jumat (23/10/2020). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Suasana cukup berbeda terekam dalam aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja Omnibus Law di Kota Batu. Pasalnya, tampak kedekatan para mahasiswa dan aparat Polres Batu, Jumat (23/10/2020). 

Seperti diketahui, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Malang Raya menggelar orasi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja Omnibus Law di Kota Batu. Sebelumnya, para mahasiswa melakukan orasi di kawasan gedung DPRD Kota Batu. 

Baca Juga : Keluarga Sempat Menyangkal, Polisi Lakukan Identifikasi Jasad Balita di Bululawang

 

Setelah melakukan orasi penolakan UU Cipta Kerja kurang lebih selama 15 menit, mereka bergeser ke kawasan Balai Kota Among Tani. Mereka kemudian kembali melakukan orasi di balik pagar besi yang terpasang di pusat pemerintahan Kota Batu itu. 

Personel gabungan pun tampak bersiaga di bawah komando Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama, Kasatpol PP M. Nur Adhim dan puluhan anggota Polres Batu juga TNI.

Setelah orasi yang dilakukan oleh belasan mahasiswa itu, mereka bergegas untuk mempersiapkan ibadah salat Jumat. Harvi pun langsung mendekati mereka dengan menawarkan untuk salat Jumat bersama.

Hingga akhirnya, para peserta aksi memilih melakukan salat Jumat bersama aparat kepolisian di jalan depan Balai Kota Among Tani, yakni Jalan Panglima Sudirman. Mereka membaur bersama, bahkan sebelum salat Harvi berinisiatif memberikan dan membantu untuk memegangi air yang ada di dalam botol untuk wudhu kepada para mahasiswa.

Baca Juga : Bikin Nggak Percaya, Ayah 4 Anak Ditangkap Gegera Perkosa Ayam Peliharaan dan Anjing

 

“Ayo sebelum salat wudhu dulu, sini airnya. Siapa lagi sini saya bawakan airnya,” ucap Harvi.

Sebelum salat dimulai pun, salah satu dari mereka memberikan khutbah terkait dengan penolakan Undang-Undang Cipta Kerja yang disahkan di gedung DPR RI pada awal Oktober lalu. Saat salat di jalan, mereka melepas alas kaki dan menggunakan kain atau almamater sebagai alas untuk sujud.