Ilustrasi. (Foto: freepik.com).
Ilustrasi. (Foto: freepik.com).

MALANGTIMES - Berbagai upaya untuk menekan angka stunting di Kota Malang masih terus digencarkan. Salah satunya dengan metode pemantauan pertumbuhan anak dan balita yang dilakukan di Puskesmas Arjowinangun.

Melalui program Superstar (Sukseskan Upaya Penurunan Stunting di Puskesmas Arjowinangun), monitoring tumbuh kembang bayi, balita, dan anak-anak akan terpantau dengan maksimal.

Baca Juga : Jangan Lengah, Osteoporosis Bisa Menjangkit Anak-Anak dan Remaja

Nutrisionist Puskesmas Arjowinangun Mahmud Afandi, mengungkapkan, dari program Superstar itu ada dua kegiatan yang dijalankan sebagai satu upaya mengatasi persoalan stunting yang mencakup kewilayahan puskesmas. Yakni, intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

"Intervensi gizi spesifik itu yang sudah dilakukan oleh sektor kesehatan. Tapi karena stunting ini multisektoral kita tidak bisa melaksanakan sendiri. Dari penelitian itu kalau intervensi gizi spesifik yang berhasil hanya 30 persen. Sisanya 70 persen dari intervensi gizi sensitif," paparnya.

Dijelaskannya, intervensi gizi sensitif berkaitan dengan masalah di luar sektor kesehatan. Karenanya, proses pemantauan itu dimulai sejak kecukupan remaja, ibu hamil untuk nutrisi bayi dalam kandungan hingga balita.

"Banyak yang berperan di sana (intervensi gizi sensitif). Balita, yang kita selalu memantau pertumbuhannya lewat Posyandu, yang diimunisasi kita pantau. Sehingga kita tahu tumbuh kembang dan kecenderungan dia stunting apa tidak," jelasnya.

Tindakan lebih lanjutnya, petugas kesehatan juga rutin memberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) kepada balita. Pemberian makanan ini sebagai satu cara untuk pemulihan bayi dan balita yang mengalami gizi buruk. 

Sehingga, asupan makanan tinggi energi, tinggi protein, dan cukup vitamin mineral secara bertahap guna mencapai status gizi seimbang bisa termaksimalkan.

Baca Juga : Kepatuhan Warga Bermasker di Kota Malang Sudah 90 Persen

"Pemberian PMT, lalu juga susu ke balita-balita yang stunting dan kurang gizi. Itu kita sediakan di sini," imbuhnya.

Tak hanya itu, edukasi dan sosialisasi untuk pemenuhan gizi juga terus digencarkan terhadap ibu hamil agar bisa mencegah bayi lahir stunting. Salah satunya dengan selalu mengingatkan mengonsumsi makanan ATIKA (Ati, Telur dan Ikan).

"Pun untuk balita ini juga baik, di samping terus melakukan imunisasi. Supaya anak itu terjaga kesehatannya, tidak mengalami stunting dengan pemberian makanan bergizi seimbang," tandasnya.