Petani sekaligus pelaku usaha kopi Paimo saat memetik kopi di lahannya, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji (Foto: Irsya Richa/ MalangTIMES)
Petani sekaligus pelaku usaha kopi Paimo saat memetik kopi di lahannya, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji (Foto: Irsya Richa/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Selama ini terkenal dengan wisata petik apel, siapa sangka ternyata Kota Batu kini juga menjadi jujukan untuk wisata kopinya. Tak tanggung-tanggung mereka yang datang pun dari kalangan para barista dari beragam daerah.

Pelaku usaha kopi, Slamet Kurniawan mengatakan, dengan berkembangnya atau melambungnya bisnis dunia kopi, pengetahuan pengolahan budidaya pun harus diketahui oleh barista. Jadi bukan hanya sekadar membuat seduhan kopi, tapi juga proses cara menanamnya.

Baca Juga : Instagramable, Hutan Jati Tulupari Tiris Suguhkan Spot Foto Musim Gugur ala Korea

“Para barista sekarang dituntut harus punya kemampuan mengetahui seluk beluk tanaman kopi dari nol. Karena itu wisata kopi jadi jujukan, khususnya di Kota Batu,” ungkapnya. 

Ia menambahkan, dalam wisata kopi itu para barista yang datang di perkebunannya mendapatkan pengetahuan mulai pengolahan tanah, pembibitan, perawatan, pasca panen, hingga cara memetik buah kopi supaya tetap terjaga kualitasnya.

“Pengetahuan yang dari titik nol sampai pasca panennya harus dimiliki para barista. Sampai penyakit dan hama dari tanaman kopi pun para barista juga harus tahu,” terang pria yang akrab disapa Paimo ini.

Sebelum masa pandemi Covid-19 itu, kurang lebih sudah ada empat kali kunjungan dari berbagai daerah di lahannya khususnya untuk wisata kopi kurang lebih 100 meter itu. Kebanyakan berasal dari Bandung, Makassar, Jakarta, Lamongan, Madura, Medan, dan sebagainya.

Baca Juga : Pikat Wisatawan, Dusun Gerdu di Kota Batu Ini Pajang Ornamen-Ornamen Bambu Cantik Hingga Taman Toga

Tempat wisata kopi menjadi salah satu pilihan jujukan para barista lantaran memiliki ciri khas dari segi rasa. Kemudian bisa menikmati hawa sejuk dan keindahan alam Kota Batu, dan sebagainya.

“Meski wisata kopi di tengah pandemi Covid-19 mengalami penurunan kunjungan, namun sebelum pandemi sudah banyak yang datang. Dalam satu kali kunjungan kurang lebih 12 orang, supaya efektif,” tambahnya saat ditemui di perkebunan kopinya di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji.