Guru besar bidang ilmu hukum Prof Dr H Saifullah SH MHum (kiri) dikukuhkan oleh Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Guru besar bidang ilmu hukum Prof Dr H Saifullah SH MHum (kiri) dikukuhkan oleh Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki) Malang melahirkan Prof Dr H Saifullah SH MHum sebagai guru besar bidang ilmu hukum, Rabu (14/10/2020). 

Guru besar ke-19 tersebut dikukuhkan oleh Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg. Tampak hadir pula Wakil Bupati Lumajang  Ir Indah Amperawati.

Baca Juga : Cegah Pelajar Ikut Demo, Gubernur Khofifah Minta Libatkan Komite Sekolah dan OSIS

Dalam kesempatan tersebut, Saifullah menyampaikan orasi berjudul Senjakala Keadilan: Risalah Paradigma Baru Penegakan Hukum di Indonesia. Karyanya ini berawal dari pertanyaan mengapa penegakan hukum pada penyelesaian kasus-kasus yang terjadi di Indonesia selama ini dianggap tidak pernah sesuai dengan keadilan yang diinginkan oleh masyarakat.

Prof Haris pun mengungkapkan bahwa pidato ilmiah Prof Saifullah amat sangat mendidik. Ia mengaku mengagumi Prof Saifullah karena kefasihan dalam bidang hukum. Satu hal yang menarik baginya adalah adanya dua versi penegakan hukum, yakni tekstual dan kontekstual.

Prof Haris pun bercerita soal Nabi Muhammad SAW yang pernah mengatakan bahwa andai saja Fatimah mencuri, maka Muhammad pasti akan memotong tangannya. "Ini menandakan bahwa beliau amat sangat kuat dalam proses penindakan hukum. Hukum tidak tumpul baik kepada yang lain maupun diri sendiri bahkan keluarganya," ucapnya.

Di sisi lain, sahabat Nabi, Umar radhiyallahu 'anhu pernah tidak menghukum orang yang mencuri. "Ketika itu Umar ditanya mengapa tidak melakukan penindakan hukum terhadap orang yang telah mencuri.  Umar mengatakan orang yang mencuri itu memang kelaparan. 'Tidak mungkin orang melakukan pencurian karena kelaparan itu kemudian akan kita hukum karena itu sesungguhnya kesalahan pemerintahan karena tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya," kisahnya.

Berdasarkan kisah itu, lanjut Prof Haris, hukum juga harus berdasar pada moral hukum. "Mudah-mudahan apa yang dilakukan dan disampaikan oleh Pak Saiful ini mendorong kita semua melakukan tindakan hukum dengan tepat sesuai moral Islam," imbuhnya.

Tahun 2021 Targetkan 43 Guru Besar

Dalam kesempatan tersebut, rektor juga menyampaikan harapannya pada tahun 2021, yakni target 43 guru besar bisa tercapai. Hal ini untuk menyeimbangkan rasio antara guru besar dan prodi (program studi) yang ada.

"Minimal seharusnya setiap prodi itu ada satu huruf besar. Kita punya 43 prodi. Seharusnya minimal UIN Maulana Malik Ibrahim ini punya 43 guru besar. Sekarang baru 19 orang," ungkapnya.

Dengan program percepatan guru besar ini, Prof Haris berharap tahun 2020 ini guru besar UIN Malang bisa bertambah 3 sampai 5 guru besar. "Dan tahun 2021 sudah minimal 43 guru besar yang dimiliki oleh UIN Maulana Malik Ibrahim," timpalnya.

Baca Juga : Webinar Internasional Smart Green University, Rektor UIN Malang Lakukan Revolusi SDM

Ia juga menyampaikan bahwa guru besar bisa diraih oleh dosen lektor dengan salah satu syarat punya empat artikel yang terindeks scopus. "Sesungguhnya kalau kita lihat, kaidah yang ditetapkan oleh untuk memperoleh jabatan guru besar itu amat sangat mudah. Tinggal kemauan teman-teman untuk didorong agar bisa menulis artikel di jurnal yang terindeks scopus," pungkas Prof Haris.