Aplikasi DETECT ME untuk mendeteksi depresi pada mahasiswa. (Foto: istimewa)
Aplikasi DETECT ME untuk mendeteksi depresi pada mahasiswa. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Memasuki usia dewasa tentu bukanlah waktu yang mudah sebab tantangan hidup dan tanggung jawab semakin berat. Tidak semua orang dapat melewati masa transisi ini dengan baik.

Umumnya, masa transisi ini terjadi saat seseorang melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Sehingga tak heran banyak ditemukan mahasiswa depresi. Hal ini juga disebut dengan istilah College Depression, suatu gangguan depresi yang dialami oleh seseorang saat berkuliah.

Baca Juga : Bukan Hanya Kasus Mutilasi di Jakarta, Perempuan Ini Beber Pengalaman Buruk Pakai Aplikasi Kencan Tinder

Sayangnya, sebagian mahasiswa berpikir mereka hanya stres biasa. Beberapa khawatir akan dihakimi jika mereka benar-benar depresi dan mencari bantuan. Sehingga, tak jarang sebagian mulai mengalihkan diri dengan menggunakan obat-obatan terlarang, menjadi pecandu alkohol, bahkan ada pula kasus bunuh diri.

Merespon kondisi tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Karsa Cipta (KC) Universitas Brawijaya (UB) berinovasi menciptakan sebuah aplikasi deteksi dini depresi pada mahasiswa, bernama DETECT ME.

Tim DETECT ME terdiri atas tiga mahasiswa UB lintas disiplin ilmu, yaitu Tamarishka Natalie Yuwono (Psikologi 2018), Salma Salima Hariza Nihru (Ilmu Komunikasi 2018), dan Muhammad Aulia Fachruz Dzikrullah (Teknik Informatika 2016). Mereka berada di bawah bimbingan Ika Herani SPsi MSi dan Muhammad Afif Alhad SPsi MSi.

Tamarishka, ketua tim, menyatakan bahwa gagasan mereka (DETECT ME) dilatarbelakangi oleh kondisi yang dialami seseorang saat sedang menjadi mahasiswa. Di mana masa perkuliahan adalah periode seseorang mengalami masa peralihan.

“Di masa perkuliahan, mahasiswa menghadapi berbagai perubahan yang cukup kompleks. Mulai dari keharusan memenuhi ekspektasi akademik sampai permasalahan sosial. Tidak semua mahasiswa siap untuk menghadapi tantangan-tantangan sedemikian rupa, sehingga menyebabkan beberapa dari mereka terserang stres hingga depresi,” paparnya.

Melalui DETECT ME, kata dia, mahasiswa dapat melakukan pengecekan kondisi kesehatan mental mereka secara mandiri. Selain itu, terdapat fitur layanan konsultasi dengan psikolog.

Ika Herani selaku pembimbing menambahkan, di aplikasi DETECT ME, mahasiswa bisa lebih awal mengetahui tentang kecenderungan depresi yang dialaminya.

"Setelah itu, mahasiswa dapat melakukan konsultasi lebih lanjut kepada konselor sebaya atau psikolog untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut jika diperlukan," terangnya.

Tamarishka menyampaikan, selain tindakan preventif, perlu adanya tindakan intervensi. Untuk itu dalam aplikasi tersebut juga terdapat layanan konsultasi dengan psikolog.

"Setelah mahasiswa mengetahui kondisi kesehatan mentalnya, lalu apa? Di situ pentingnya tindakan intervensi, dalam konteks aplikasi kami adalah fitur layanan konsultasi dengan psikolog," timpalnya.

Baca Juga : Tak Mau Gagal Uji Teori Saat Urus SIM, Coba Latihan di Aplikasi Ini

Di dalam aplikasi tersebut, terdapat halaman 21 pertanyaan yang akan mengukur tingkat depresi seseorang. 21 pertanyaan ini merupakan adopsi dari alat ukur beck depression inventory-II yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya dalam berbagai penelitian. Sehingga nanti diketahui apakah pengguna mengalami depresi minimal, depresi ringan, depresi sedang, dan depresi berat.

Tingkatan depresi akan menentukan tips yang akan diberikan oleh sistem kepada pengguna. Pengguna akan diarahkan untuk mengakses fitur pendukung yakni layanan konsultasi dengan psikolog jika mereka berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Melalui fitur ini, pengguna dapat melakukan konsultasi dengan psikolog secara gratis, baik secara online maupun offline dengan melakukan booking terlebih dahulu.

Selanjutnya, terdapat fitur layanan curhat. Pengguna dapat bercerita mengenai permasalahan-permasalahan yang pernah dihadapi dengan mahasiswa psikologi terpilih. Jika nantinya terdapat gejala depresi akan langsung dialihkan ke layanan konsultasi dengan psikolog.

Fitur berikutnya adalah layanan gawat darurat. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melapor apabila ia menemukan teman-teman di sekitarnya mengalami gejala depresi sampai melakukan self harm. Dengan demikian dapat segera memperoleh penanganan lebih lanjut.

Selanjutnya adalah support system group chat. Melalui fitur ini, pengguna dapat saling berbagi pengalaman dengan pengguna lainnya untuk membantu pemulihan diri dari depresi.

Fitur terakhir adalah fitur edukasi kesehatan mental. Ini menyediakan berbagai konten edukasi yang dikemas dalam bentuk artikel, podcast, dan video. Fitur ini terintegrasi dengan platform media sosial Instagram, Spotify, dan YouTube agar edukasi dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.

Dikatakan Tamarishka, DETECT ME hadir dengan harapan dapat membantu mahasiswa untuk lebih memperhatikan kesehatan mental masing-masing.

“Karena menjaga kesehatan mental sama pentingnya seperti menjaga kesehatan fisik. Kalau kesehatan mental mahasiswa terganggu, maka produktivitas mereka akan menurun. Tidak hanya itu, semoga dengan adanya aplikasi ini dapat membuat mahasiswa menjadi lebih aware dan peka terhadap masalah kesehatan mental,” pungkas Tamarishka.