Salah satu wisata pantai di Kabupaten Malang yang tetap beroprasi di tengah kabar potensi tsunami (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Salah satu wisata pantai di Kabupaten Malang yang tetap beroprasi di tengah kabar potensi tsunami (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Hingga saat ini Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang belum membuka opsi penutupan objek wisata di tengah potensi tsunami. Namun demikian, dijelaskan Kadisparbud (Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara, guna menekan resiko jika terjadi musibah, pihaknya bakal membatasi jumlah pengunjung wisata pantai.

”Belum ada opsi menutup objek wisata pantai, karena masih sekedar isu, masih potensi bukan prediksi. Tapi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan (tsunami, red), kami tetap akan membatasi jumlah pengunjung sebanyak 50 persen dari daya tampung,” kata Made.

Baca Juga : Pemkab Malang Siapkan SOP Antisipasi Potensi Tsunami, Pasang Bendera Khusus di Pantai

Menurutnya, selain untuk meminimalisir penyebaran virus Covid-19, pembatasan jumlah wisatawan yang berkunjung ke wisata pantai itu, juga bertujuan untuk memudahkan proses evakuasi saat hendak terjadi tsunami. ”(Pembatasan, red) 50 persen itu selain karena (Protokol) Covid-19, juga karena itu (antisipasi tsunami, red),” sambung Made.

Seperti dalam pemberitaan sebelumnya, Disparbud Kabupaten Malang sudah mempersiapkan SOP (Standar Operasional Prosedur) khusus guna mengantisipasi terjadinya tsunami.

Beberapa SOP yang disiapkan tersebut, di antaranya meliputi pemasangan bendera. Ada 3 jenis bendera yang akan dijadikan warning, yaitu bendera warna merah, kuning, hingga hijau.

Untuk bendera merah, diterangkan Made, menandakan jika wilayah perairan tersebut merupakan zona paling bahaya untuk wisatawan saat terjadi tsunami.

Kemudian untuk bendera kuning, sebagai tanda untuk wilayah yang masuk zona waspada dan harus segera menjauh. Sedangkan untuk bendera hijau, merupakan zona dengan resiko terkecil bagi wisatawan yang ingin bermain air saat berkunjung ke pantai.

Selain itu, Disparbud juga sudah berkoordinasi dengan BPBD (Badan Penanggulangan Benana Daerah) Kabupaten Malang, untuk memasang rambu-rambu serta jalur evakuasi jika terjadi tsunami.

Baca Juga : Jajaran Bunga Hortensia di Taman Bumiaji Sambut Wisatawan Berlibur di Kota Batu

 

”Isu seperti itu (tsunami) membuat masyarakat lebih waspada. Kami juga akan lebih waspada, terutama di hari-hari tertentu saat ada angin kencang,” ujar Made.

Sebagai informasi, sejauh ini nyaris seluruh objek wisata pantai yang ada di bawah naungan Disparbud Kabupaten Malang terpantau tetap beroperasi. Beberapa pantai yang tetap dibuka saat potensi tsunami tersebut, bakal menerapkan SOP yang sudah ditetapkan guna mengantisipasi terjadinya tsunami.

”Hampir semua mulai Pantai Balekambang, Nganteb, Ngudel, Bajul Mati sampai Sendang Biru masih buka. Sejauh ini para pengelola wisata juga sudah menerapkan SOP guna meminimalisir potensi tsunami,” pungkas Made saat ditemui awak media, Kamis (1/10/2020).