Direktur JatimTIMES Network, Lazuardi Firdaus saat menyerahkan bantuan dalam program JatimTIMES Ngedum Ojir
Direktur JatimTIMES Network, Lazuardi Firdaus saat menyerahkan bantuan dalam program JatimTIMES Ngedum Ojir

MALANGTIMES - Kisah inspiratif ini datang dari seorang nenek tunanetra bernama Mbah Bitun. Nenek berusia 70 tahun tersebut tinggal bersama suaminya yang memiliki keterbatasan pendengaran bernama Mbah Pi'i. Keduanya tinggal di sebuah gubuk sederhana di Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

 

Pasangan suami istri ini hanya tinggal berdua saja dan tak memiliki seorangpun tetangga di kanan dan kiri rumahnya. Karena letak rumahnya memang berada di tengah hutan perbukitan. 

Baca Juga : Viral Kecantikan Perempuan Baduy Bak Artis dan Model, Banyak YouTuber Jadikan Konten

 

Pasangan yang sama-sama memiliki keterbatasan pada penglihatan dan pendengaran ini sudah sejak lama tinggal di rumah yang terbuat dari bambu dan beralaskan tanah. Namun dengan kesederhanaan itu, pasangan ini tak pernah berhenti bersyukur atas kondisi yang dimiliki.

Tak sekalipun Mbah Bitun meninggalkan kewajibannya untuk melaksanakan salat lima waktu. Karena baginya, salat merupakan wujud syukur atas apa yang selama ini telah diberikan Allah SWT kepada dirinya dan suami. Tak sedikitpun Mbah Bitun merasa nelangsa dengan kondisinya yang sederhana dan kekurangan fisik pada dirinya.

"Salat menjadi rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Saya tidak akan meninggalkan salat sedikitpun. Saya salat dengan cara duduk," kata Mbah Bitun menggunakan bahasa Madura sebagaimana tayangan perdana JatimTIMES Ngedum Ojir yang tayang pada Senin (28/9/2020).

Dalam tayangan perdana JatimTIMES Ngedum Ojir tersebut, terlihat rumah Mbah Bitun begitu sangat sederhana. Atap rumahnya pun penuh dengan jala laba-laba dan genting yang selalu bocor saat hujan datang.

Rumah Mbah Bitun yang tak jauh dari perbukitan pun sangat rawan akan kondisi tanah longsor. Bahkan, sempat  suatu ketika batu besar yang longsor merusak halaman rumah sederhana Mbah Bitun.

Selain itu, Mbah Bitun harus melakukan berbagai aktivitas sebagai istri tanpa bantuan siapapun. Dengan keterbatasannya, Mbah Bitun telah menghafal setiap sisi rumahnya. Sehingga saat akan pergi ke dapur untuk memasak, Mbah Bitun akan meraba kursi dan tembok yang terbuat dari bambu tersebut.

Dapur Mbah Bitun pun jauh dari kata mewah. Setiap hari Mbah Bitun masak menggunakan tungku dengan kayu sebagai perapiannya. Rak piring dan perkakas pun ditata seadanya. Tak jarang, Mbah Bitun dan suami harus makan tanpa ada lauk apapun.

Seperti yang ditunjukkan dalam video JatimTIMES Ngedum Ojir, Mbah Bitun mempersilahkan tim JatimTIMES untuk mencicipi nasi jagung yang telah dia masak sebelum suaminya pergi merumput. Tak ada lauk, selain nasi jagung yang ditata dalam bakul nasi sederhana tersebut.

Sungguh luar biasa, dalam kondisi yang sangat sederhana itu, Mbah Bitun sempat meminta tim JatimTIMES untuk makan dan minum dengan semua yang dimilikinya. Semangat berbagi Mbah Bitun di tengah kesederhanaan itu sangat luar biasa, dan belum tentu dimiliki semua orang.

Di usianya yang sudah senja itu, Mbah Bitun juga harus membersihkan diri ataupun membuang hajat dengan nyaman meski di tempat yang terbuka. Karena tempat mandi Mbah Bitun bersama suami sama sekali tak beralaskan dan beratap apapun, juga tak dibatasi dengan tembok maupun penutup lainnya.

Begitu juga dengan WC atau tempat membuang hajat, yang hanya berupa pembuangan sederhana juga tanpa atap dan tembok sama sekali. Air yang didapatkan untuk sehari-hari di dapat dari aliran air dari sumber gunung yang berada di kawasan atas perbukitan rumah Mbah Bitun.

Baca Juga : Dingin Meski Tanpa AC di Tengah Padang Pasir, Bangunan Ini Jadi Tempat Istirahat Nabi Nuh Hingga Rasulullah

 

Sebuah pelajaran baru dari Mbah Bitun. Di tengah kesederhanaan yang luar biasa, ia dan suami sama sekali tak pernah meninggalkan Allah SWT. Selalu mengucapkan rasa syukur atas karunia dan nikmat yang telah diberikan sepanjang masa.

Bahkan ia merasa kaget saat Tim Ngedum Ojir menyerahkan uang Rp 1 juta kepadanya. “Apa ini?” tanya Mbah Bitun agak kaget yang kemudian dijawab oleh tim bahwa itu adalah uang untuknya. “Saya takut kalau megang uang sebanyak ini,” imbuhnya.

Tim JatimTIMES Ngedum Ojir pun merasa sangat bersyukur, karena bisa mendapatkan ilmu baru juga berbagi kebahagiaan dengan Mbah Bitun bersama Mbah Pi'i.

Direktur JatimTIMES Network, Lazuardi Firdaus menyampaikan, program Ngedum Ojir merupakan wujud syukur sekaligus kepedulian dari JatimTIMES dan juga para pembaca setia JatimTIMES terhadap masyarakat yang kurang beruntung.

"Mungkin jumlahnya tidak banyak, tapi semoga bisa bermanfaat," terang Firdaus.

Program Ngedum Ojir tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari pembaca JatimTIMES Network untuk kemudian bisa disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Para pembaca JatimTIMES Network pun bisa menyampaikan kepeduliannya dan turut berbagi dengan mendatangi atau menghubungi kantor JatimTIMES.

Dengan program ini, diharapkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat merasakan sedikit kebahagiaan. Serta memberikan inspirasi mengenai nilai-nilai kehidupan kepada pembaca setia JatimTIMES Network di mana pun berada.

Episode JatimTIMES Ngedum Ojir akan terus berlanjut untuk Berbagi Kebahagiaan dan Mengukir Senyuman.