Warkop KPK di Jombang yang kini sudah berusia setengah abad. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Warkop KPK di Jombang yang kini sudah berusia setengah abad. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

MALANGTIMES - Mungkin nama warung kopi di Jombang ini sepintas mirip dengan nama lembaga antirasuah KPK. Ya, KPK di sini bukanlah Komisi Pemberantasan Korupsi, melainkan Komunitas Pecinta Kopi (KPK). 

Di KPK satu ini, para pecinta kuliner unik bisa menikmati racikan dari kopi yang kini usianya sudah setengah abad atau 50 tahun.

Baca Juga : Kini Hadir Nasi Tempong Khas Banyuwangi di Malang, Pedasnya Menampar Lidah!

 

Warung kopi KPK ini berlokasi di simpang tiga Pabrik Gula Tjoekir, atau tepatnya di pojok sebelah timur traffic light Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang. Lokasinya cukup mudah ditemukan, hanya berjarak 300 meter di sisi selatan Pondok Pesantren Tebuireng atau 50 meter ke sisi utara Pasar Cukir.

Warung kopi ini terbilang cukup legendaris. Betapa tidak, warkop ini telah dirintis sejak tahun 1970 silam. Artinya, warkop KPK ini sudah berumur 50 tahun atau setengah abad. Usia yang cukup tua untuk sebuah tempat usaha.

Warkop yang kini dikelola Haqqul Yaqin (66) ini, dulunya dirintis oleh mertuanya. Dari 50 tahun silam hingga sekarang, menu yang ditawarkan tidak berubah. Yaitu wedang kopi atau kopi hitam.

 

"Sejak tahun 1970, warung kopi ini sudah dirintis istri saya yang kala itu membantu ayahnya. Dulu cuma warung kopi sama lontong tahu saja. Atapnya seng, sederhana sekali," terangnya kepada JatimTIMES.

 

Kopi yang ditawarkan warkop KPK ini sangat sederhana. Tidak ada varian jenis kopi maupun olahan kopi layaknya cafe. Kopinya cukup kopi hitam dan kopi susu biasa. Hanya saja, kopi KPK ini terasa sangat pahit kental. Bubuk kopi yang racik sendiri dari biji kopi pilihan.

 

Untuk pasangan meminum kopi, warkop KPK ini juga menyediakan ketan sambal dan berbagai cemilan gorengan. Harga kopi pun terbilang murah, hanya Rp 2 ribu untuk secangkir kopi.

 

"Saya ingat dulu jualan itu masih 25 rupiah satu cangkirnya. Kalau sekarang kopinya Rp 2.000," ungkapnya.

 

Baca Juga : Mencicipi Sensasi Kopi Bercampur Rempah Jawa, Bikin Hangat Tubuh dan Tambah Imun

 

Warkop KPK ini cukup sederhana. Luas tempat warung hanya 10x4 meter, atap masih berbahan seng. Di warung ini, pengunjung tidak akan menemukan fasilitas WiFi seperti warkop yang saat ini ada. Di tempat ini, kehangatan obrolan warung kopi masih tetap dilestarikan.

Untuk yang ingin menikmati kopi KPK, silahkan datang setiap waktu. Warkop ini buka 24 jam. Warung ini pun jarang sekali tutup, pemilik warung punya semboyan "Buka Bendino Kecuali Nek Tutup" (Buka setiap hari kecuali kalau tutup).

 

"Jadi di sini bebas saja ngobrol, apalagi yang ngopi kan juga macam-macam, mulai Kiai, kepala desa, pamong sampai pedagang pasar biasa kumpul di sini," kata Yaqin

 

Meski usia yang sudah setengah abad, rasa kopi di KPK ini tidak berubah sama sekali. Warkop ini sering menjadi jujugan orang yang berangkat ke Pasar Cukir. Bahkan, para santri maupun alumni santri Tebuireng sering singgah untuk menyeruput kopi berusia setengah abad itu.

Salah satunya Taufiqurrahman (30), alumni santri Tebuireng Jombang ini. Pria asal Kota Surabaya itu sering mampir di saat mengunjungi kota santri.

 

Menurutnya, kopi di KPK ini tidak berubah sejak puluhan tahun ia mondok di Ponpes Tebuireng Jombang. "Saya sejak mondok di Tebuireng 15 tahun lalu, ngopinya selalu di KPK sini. Kopinya enak, pahitnya nendang banget. Rada kopinya tidak berubah. Selalu bikin kangen suasana dan kopinya," pungkasnya.(*)