Bupati Malang HM Sanusi saat memaparkan program pemberdayaan sapi jenis limosin di Kabupaten Malang (Foto : Humas Pemkab Malang for MalangTIMES)
Bupati Malang HM Sanusi saat memaparkan program pemberdayaan sapi jenis limosin di Kabupaten Malang (Foto : Humas Pemkab Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang berencana mengembangkan sektor peternakan sapi. Hewan mamalia yang rencananya bakal dikembangkan di Kabupaten Malang itu, adalah sapi jenis limosin. ”Sapi yang bakal dikembangkan di Kabupaten Malang itu sapi pedaging lokal jenis limosin, beratnya bisa naik 2 kilogram per hari,” ungkap Bupati Malang saat menjelaskan alasannya memilih memgembangkan sapi jenis limosin di Kabupaten Malang.

Awal mula ketertarikannya untuk mengembangkan sapi jenis limosin itu, berawal saat Sanusi mendapat laporan dari jajaran OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di Kabupaten Malang, jika peternak sapi di wilayah Kecamatan Kalipare bisa berkembang secara pesat.

Baca Juga : Iuran BPJS Ketenagakerjaan Diskon 99% hingga Januari 2021

Di mana, dari laporan yang diterima Sanusi, ada salah satu peternak sapi jenis limosin di Kecamatan Kalipare, yang memiliki puluhan ekor sapi. Uniknya dalam sehari, sapi yang diternak disana diklaim beratnya bisa bertambah hingga 2 kilogram. ”Peternakan sapi di Kalipare itu akan kita coba di beberapa wilayah lain di Kabupaten Malang, yaitu dengan sistem pakan yang sudah di formula itu (di peternakan yang ada di Kecamatan Kalipare),” terang Sanusi.

Lantaran formula pakan khusus yang bisa mendongkrak berat sapi hingga 2 kilogram per hari itu, membuat para peternak di Kecamatan Kalipare jadi jujukan para pejabat. Terutama saat menjelang hari raya idul adha alias lebaran kurban. ”Satu sapi di sana (Kecamatan Kalipare) laku terjual hingga Rp 120 juta, yang beli orang Jakarta untuk keperluan kurban,” terang salah satu politisi PDI Perjuangan ini.

Dengan harga jual yang mencapai ratusan juta tersebut, Sanusi mengklaim jika dari laporan yang diterimanya para peternak sapi di Kalipare bisa untung hingga puluhan juta, hanya dari 1 ekor sapi jenis limosin yang terjual. ”Jika selamat (tidak ada kendala, red) para peternak di Kalipare itu bisa untung Rp 24 juta hingga Rp 30-an juta,” ujar Sanusi.

Selain fokus mengembangkan formula dalam pakan sapi pedaging, Pemkab Malang terpantau juga sedang serius untuk mendongkrak peternakan di sektor sapi perah.

Beberapa waktu lalu, Sanusi mengaku sudah menjalin MoU (Memorandum of Understanding) dengan Shandong, China. Bahkan, dalam pernyataannya Sanusi mengaku jika pihak perwakilan dari Shandong University sudah sempat melakukan peninjauan ke Kabupaten Malang.

Baca Juga : Bupati Sanusi Target 120 Ribu Sertifikat Bidang Tanah Setiap Tahun

Namun, dikarenakan adanya pandemi Covid-19, membuat pengembangan sapi perah di Kabupaten Malang memgalami kendala. Kemungkinan setelah pandemi berakhir, MoU dengan negeri tirai bambu untuk mengembangkan peternakan sapi perah bakal berlanjut.

Sebagai informasi, populasi sapi perah di Kabupaten Malang ada 165 ribu. Sejauh ini, hasil susu sapi perah terbanyak masih berasal dari PT Greenfields. Pada perusahaan yang ada di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang itu, satu sapi bisa menghasilkan 35 liter susu dalam sehari. Jika MoU dengan Shandong, China itu realisasi, maka diperkirakan satu ekor sapi bisa menghasilkan 42 liter susu dalam sehari.