Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Arbani Mukti Wibowo saat ditemui awak media di gedung DPRD Kabupaten Malang, Rabu (23/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Arbani Mukti Wibowo saat ditemui awak media di gedung DPRD Kabupaten Malang, Rabu (23/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Dunia politik Kabupaten Malang beberapa waktu lalu dibingungkan dengan informasi yang beredar perihal penundaan tes kesehatan untuk bakal pasangan calon (bapaslon) bupati dan wakil bupati dari jalur perseorangan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Malang. Keduanya adalah Heri Cahyono dan Gunadi Handoko.

Ternyata penundaan tersebut disebabkan adanya hasil swab test positif covid-19 yang tertuju kepada salah satu bapaslon dari jalur perseorangan. 

Baca Juga : Jadi Calon Wakil Bupati, Ketua Dewan Didik Undur Diri, sementara Diganti Sodikul Amin

Kemudian pihak bapaslon perseorangan mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa Heri Cahyono sempat positif covid-19. Tetapi sekitar empat sampai lima hari kemudian, hasil swab test Heri Cahyono menunjukkan hasil tidak terdeteksi. Pengujian swab test dilakukan di dua tempat yang berbeda oleh Heri.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang Arbani Mukti Wibowo mengatakan, jika swab test menunjukkan hasil tidak terdeteksi, maka orang tersebut tidak terpapar covid-19. "Tidak terdeteksi ya berarti bukan covid-19," ungkapnya di Gedung DPRD Kabupaten Malang.

Kemudian Arbani  menjelaskan perihal hasil yang berbeda dengan jarak waktu kurang dari satu minggu. "Kalau negatif, dua hari positif bisa. Kalau positif ke negatif, butuh waktu mestinya seminggu. Minimal lima hari bisa," jelas pria yang sempat menjabat sebagai direktur utama RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Lawang ini.

Lebih detail Arbani menjelaskan bahwa penyebab terjadinya perbedaan hasil swab test dari lembaga kesehatan satu dengan lainnya yakni paling utama saat pengambilan sampel dari orang yang melakukan swab test. "Tes PCR itu dipengaruhi mulai dari cara awal pengambilan swab. Kemudian hasil pengambilan itu dimasukkan ke dalam virus transport media (VTM). Cara pengambilan 40 persen memengaruhi hasil dari pemeriksaan PCR," ungkapnya.

Setelah melalui proses tersebut, terhadap sampel yang telah dimasukkan ke dalam VTM, dilakukan  penyimpanan. Setelah itu, dilakukan, pemasakan di laboratorium pada lembaga kesehatan tersebut.

"Kita tidak bisa membandingkan lab PCR (polymerase chain reaction, red) dari rumah sakit dengan rumah sakit lain karena 40 persen sudah dipengaruhi saat pengambilan swab. Dengan orang yang sama saja, belum tentu sama," terangnya.

Arbani pun mengungkapkan alasan mengapa dari hasil positif ke negatif minimal membutuhkan waktu selama lima hari. Menurut dia, lima hari setelah pengambilan sampel swab test hari pertama, score gen-nya sudah mengarah ke bangkai.

Baca Juga : Berkas Administratif Lengkap, SanDi dan LaDub Resmi Jadi Paslon di Pilkada 2020

 Arbani juga menerangkan bahwa percepatan dari status positif menuju negatif yang minimal membutuhkan waktu lima hari bukan disebabkan oleh kondisi imunitas seseorang yang sedang tinggi. Sebab, meskipun imunitas orang tersebut sedang tinggi, tetapi kalau terkena virus, akan tetap keluar hasil positif.

"Jadi, begini, (virus, red) tidak bisa dipengaruhi dengan ketahanan tubuh. Tapi virus itu bisa digelontor pakai cairan povidone-iodine," jelas pria yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini.

Dari hasil penjelasan tersebut, Arbani pun menyarankan kepada seluruh masyarakat agar tetap menjaga 3 M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak) serta menerapkan protokol kesehatan lainnya yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 

"Makanya kalau kondisi saat ini, sebaiknya kita memakai kumur povidone-iodine atau nasal spray povidone-iodine 1 persen. Itu untuk mempercepat melunturkan virus yang ada di area pernapasan kita," pungkasnya.