Mengenal Rendra, Sutradara Asal Batu yang Karyanya Melanglang ke Berbagai Negara

Aug 25, 2020 19:01
Sosok Destian Rendra Pratama, sutradara yang filmnya melanglang ke berbagai negara. (Foto: Rendra for MalangTIMES)
Sosok Destian Rendra Pratama, sutradara yang filmnya melanglang ke berbagai negara. (Foto: Rendra for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dari tangan dinginnya, film lokal berjudul “Ora Srawung, Mati Suwung” atau "A Closed Mouth Catches No Flies" masuk ke dalam official selection dua festival film internasional sekaligus. Yakni, Bali International Film Festival (aka Balinale) 2021 dan SeaShorts Film Festival 2020.

Dialah Destian Rendra Pratama, sutradara asal Batu yang karyanya melanglang buana ke berbagai negara dan menjuarai berbagai lomba. 

Baca Juga : Sosok Ima, Penulis Naskah Ora Srawung Mati Suwung yang Tembus Ajang Film Internasional

Dari sekian bakat yang dimiliki oleh seorang Destian Rendra Pratama, dunia film lah yang kini ia tekuni. Rendra, sapaan akrabnya, menuruni bakat sebagai seniman dari sang ayah, Lendy Wahyono. Sejak kecil ia kerap menggambar lukisan wajah realis. Wajah sang idola Soekarno lah yang pertama kali ia gambar pada saat kelas 6 SD. 

Tak hanya itu, ayahnya juga menurunkan bakat sebagai seorang musisi hingga ia sempat bercita-cita menjadi musisi saat duduk di bangku SMP.

Namun, cita-citanya itu berubah saat ia menjadi salah satu pendiri ekstrakurikuler SMAC (SMABA MULTIMEDIA CLUB) di SMAN 1 Batu. Rendra yang diperkenalkan dengan dunia film kemudian jatuh cinta dengan videografi dan filmmaking. Baginya, filmmaking merupakan the highest form of art di mana semua hobinya mulai dari seni visual hingga dengan seni musik dapat tertampung di dalamnya.

"Aku punya hobi yang berhubungan dengan visual dan audio, nggambar, nyanyi, gitaran, nge-band, paduan suara, dan juga seneng teater walau ga pernah ikut. Dan pas akhirnya diperkenalkan sama pembuatan film di ekskul itu (SMAC) jadi ketagihan karena film bisa memuat seluruh ketertarikanku baik dalam visual audio maupun seni peran," terang pria kelahiran Batu, 15 Desember 1993 tersebut.

Rendra sudah senang menonton film sejak kecil. Film pertama yang membuatnya jatuh cinta adalah film dari seorang James Cameron, Titanic, dan film-film Jackie Chan. Sedangkan, sutradara-sutradara yang menginspirasinya di antaranya Quentin Tarantino, Wong Kar-wai, Christopher Nolan, Stanley Kubrick, Hirokazu Kore-eda, Garin Nugroho, BW Purbanegara, hingga Joko Anwar.

"Saking senengnya nonton film, tiap lagi nonton bareng Ayah Ibuk dan mereka nggak merhatiin adegan favoritku, aku akan ngambek. Seseneng itu aku nonton film," curhatnya.

Tentu, perjalanan Rendra sebagai seorang sineas tidaklah mudah. Rendra tidak sekonyong-konyong memakai kamera canggih dengan alat-alat syuting yang mumpuni. Pertama kali membuat film, ia menggunakan handycam. Saat kuliah, barulah orang tuanya, Lendy dan Endang Trisnani, membelikan kamera Nikon beserta lensa bawaan. Soal alat, dibantu ayahnya, ia membuat alat-alat syuting secara DIY.

"Iya dulu mulainya otodidak, ga punya alat ga punya apa apa. Cuman punya 1 kamera Nikon pemberian orang tua dan lensa bawaan. Trus semuanya asal bikin aja. Jadilah film Hisstory. Terus film selanjutnya mulai DIY bikin alat kaya stabilizer DIY dari besi, kayu, pipa, dan laher (bearings). Lalu slider DIY dari pipa dan papan. Semua dibantu Ayah, jadi hasilnya bagus," kisahnya kepada media ini.

Sejak SMA, Rendra sudah sering mengasah bakatnya dalam bidang filmmaking dengan mengikuti berbagai kompetisi film pendek baik tingkat nasional maupun internasional dan berhasil memenangkan beberapa kompetisi. 

Di antaranya Juara 2 Festival Film Pajak 2009, Film Pelajar Terbaik SEE Film Festival UB, Film Pelajar Terbaik Malang Film Festival 2011, Juara 2 Festival Film ITS Pelajar 2012, Juara 1 dan 2 Kelner’s Film Festival 2014, Best Editor, Music, dan Idea dalam Festival Film Pendek Jawa Timur 2015.

Pada tahun 2017, dia mendirikan sebuah production house kecil bernama Hisstory Films, dan film pendeknya yang berjudul Rotasi mendapat penghargaan sebagai the Grand Winner dan People’s Choice di The 5 minutes Video Challenge 2016 melawan 5 negara yang diadakan di Singapura.

Pada tahun selanjutnya, filmnya yang berjudul Acai Nakrim mendapat predikat sebagai The Best Non-english short film dalam My Rode Reel 2017 Internasional Film Festival di Australia. Dilanjutkan film ketiga dari Hisstory Films yang berjudul Segara mendapatkan predikat sebagai Best Cinematography dalam Panasonic Young Filmmaker 2017 di Jakarta, dan film keempatnya yang berjudul Sowan menjadi Runner Up dan First People’s Choice di ajang yang sama dengan film Rotasi.

Baru-baru ini, filmnya yang berjudul "Ora Srawung, Mati Suwung" atau "A Closed Mouth Catches No Flies" masuk ke dalam official selection dua festival film internasional sekaligus, yakni Bali International Film Festival (aka Balinale) 2021 dan SeaShorts Film Festival 2020.

Dengan kerendahan hatinya, Rendra sempat bertanya-tanya apakah film terakhirnya ini pantas masuk festival atau tidak. Sebab memang, ekspektasinya tidak terlalu tinggi. Ia sudah cukup senang dapat masuk ke dalam official selection, dapat diputar dan berkompetisi di dua festival film tersebut.

"Perkara nanti dapat atau nggak, itu saya tidak berharap juga sebenarnya. Saya sudah cukup bersyukur sekarang bisa sampai di tahap ini," tutur alumni Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Malang tersebut.

Baca Juga : Dapat Promosi Jabatan ke Polda Jatim, Kasat Intel Sempat Khawatir, Kenapa?

Rendra sudah cukup senang film ini dapat diputar di festival film. Dia berharap film ini ke depan dapat terpilih ke festival-festival film yang lain sehingga dapat bertemu dengan penonton yang lebih luas lagi.

"Tapi memenangkan festival adalah cita-cita saya dan itu akan berusaha kami (dirinya dan Hisstory Films) kejar di karya selanjutnya. Karena saya yakin karya selanjutnya akan bisa lebih baik lagi," tutur pria berkacamata tersebut.

Harapan pendeknya adalah bisa merealisasikan ide-ide yang udah terdevelop menjadi sebuah film pendek dan ikut festival lagi. Dirinya juga berharap pemerintah daerah, khususnya Jawa Timur, bisa lebih mmperhatikan dan mendukung perkembangan film daerah lewat badan perfilman daerahnya.

"Karena filmmaker Jawa Timur termasuk Malang dan Batu ini sangat potensial dan butuh dukungan. Dukungannya misal seperti pengadaan danais yang ada di Jogja, sehingga filmmaker daerah bisa punya forum untuk pitching dan mencari dana demi terciptanya film-film daerah yang bisa memperkaya ragam film indonesia," pungkasnya.

Saat ini Rendra sudah lulus dari pendidikan kuliahnya dan memiliki keinginan untuk membangun tempat kelahirannya yaitu Kota Batu, agar bisa dilirik oleh industri film nasional. Ia punya ketertarikan untuk mengangkat kisah-kisah yang terlupakan seperti sejarah, stigma di dalam masyarakat, juga isu social-politik dalam masyarakat kelas menengah ke bawah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Topik
Sutradara Film Ora Sruwung Mati SuwungDestian Rendra PratamaKota Batufilm ora srawung mati suwung

Berita Lainnya

Berita

Terbaru