Ketua DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto saat ditemui awak media di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (17/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Ketua DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto saat ditemui awak media di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (17/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Konflik berkepanjangan antara kelompok petani Sumber Rejeki, Dusun Selokerto, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, dengan pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Selorejo, masih belum mendapatkan solusi konkret yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. 

Terkait konflik tersebut, Ketua DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto yang juga sempat melakukan mediasi pada hari Minggu (3/5/2020) lalu dengan Pemdes Selorejo dan para petani jeruk di salah satu ruang Kantor Balai Desa Selorejo kembali menanggapi permasalahan tersebut. 

Baca Juga : Tiga Remaja Palestina Ditembak Tentara Israel, Satu Meninggal Sempat Ditahan

Didik mengungkapkan, bahwa permasalahan konflik antara petani jeruk dengan pihak Pemdes Selorejo ini sebenarnya cukup mudah untuk mendapatkan solusi.

Jika semua elemen masyarakat duduk bersama dan menanggalkan semua jabatan yang melekat pada dirinya masing-masing. Didik juga mengatakan, bahwa keseluruhan persoalan telah diserahkan kepada pihak Pemdes Selorejo. 

"Artinya, pemerintah desa saya harapkan bisa arif dan bijaksana. BPD (Badan Permusyawaratan Desa, red) dan masyarakat juga begitu. Artinya ayo kita duduk bareng," ungkapnya, Jumat (21/8/2020). 

Dengan cara duduk bersama, Didik menuturkan, bahwa dengan musyawarah dalam mencapai mufakat untuk menghasilkan solusi terbaik, salah satunya juga menghidupkan pengelolaan BUMDesa (Badan Usaha Milik Desa) Selorejo. 

"Warga masyarakat itu sebagai penggerak, manajerialnya Badan Usaha Milik Desa. Artinya ini kan tidak ada masalah. Hanya perbedaan prinsip saja," ujarnya. 

Maka, lanjutnya, perbedaan prinsip antara keduanya ini yang perlu disatukan. 

"Dua-duanya kan muaranya sama kepada pendapatan, bagaimana ini bisa berjalan aYa dikerjasamakan dengan baik," imbuhnya. 

Sementara itu, terkait saling lapor yang dilakukan oleh kedua belah pihak yakni para petani jeruk dan Pemdes Selorejo, menurut Didik, bahwa hal tersebut akan semakin memperkeruh situasi dan kondisi masyarakat di Dusun Selokerto, Desa Selorejo.

Baca Juga : Akibat Rem Blong, Truk Muatan Tebu dari Malang Terguling di Blitar

"Kita ingin mendudukkan ini dengan musyawarah mufakat. Itu lebih penting, lebih baik. Karena apa? Pada saat itu nanti sama-sama bermasalah, semuanya rugi," bebernya. 

Lantas Didik pun menjelaskan perihal kerugian yang akan dialami oleh kedua belah pihak antara Pemdes Selorejo dan para petani jeruk. 

"Pemerintah desa kalau ini terus bergulir, kalau sampai peradilan, konsentrasi perawatan lahan tidak akan bisa dilakukan. Sebaliknya warga masyarakat yang sedang berkonflik di pengadilan, maka mereka tidak akan merawat itu. Kedua-duanya rugi," jelasnya. 

Maka dari itu, Didik mengakhiri, bahwa solusi yang paling terbaik yakni dengan duduk bersama dan bermusyawarah untuk mencapai mufakat agar hubungan antar masyarakat desa juga tetap masih kondusif.

Sebagai informasi, bahwa pada hari Senin (24/8/2020) nanti akan dilakukan pertemuan  antara jajaran petani jeruk, Pemdes Selorejo yang di fasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Malang di Ruangan Sekretaris Daerah Pendopo Agung Kabupaten Malang.