Diklaim Pertama di Malang, Warga Karangduren Ciptakan Sayur Selada Berbentuk Cemara

Aug 11, 2020 19:38
Sayur selada unik (kiri) yang berbentuk pohon cemara saat dipajang dalam agenda launching Kampung Tangguh di Kecamatan Pakisaji (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Sayur selada unik (kiri) yang berbentuk pohon cemara saat dipajang dalam agenda launching Kampung Tangguh di Kecamatan Pakisaji (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Bagi yang gemar bercocok tanam namun kekurangan lahan, mungkin bisa meniru apa yang dilakukan oleh LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa) Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Bermodalkan ketelatenan, puluhan warga yang tergabung dalam LPMD Karangduren tersebut, mampu membuat sayuran dengan bentuk yang bisa dikatakan anti mainstream.

Baca Juga : Panen Hasil Urban Farming, Resimen Armed 1 Kostrad Wujudkan Ketahanan Pangan di Satuan

Menurut Ainul Yakin selaku penggiat LPMD Karangduren, sayuran yang ditanam warga tersebut disebut anti mainstream lantaran bentuknya yang unik. Yakni berukuran besar dan bahkan ada yang berbentuk menyerupai pohon cemara.

Sayuran yang menjulang tinggi hingga kisaran 50 sentimeter itu adalah jenis selada. ”Ini bukan percobaan, tapi sejak awal sudah kita semua (LPMD Karangduren) yang sebetulnya menciptakan,” klaim Yakin yang kemudian diamini oleh beberapa warga yang lainnya, saat ditemui media online ini, Selasa (11/8/2020).

Tidak hanya terbilang unik dan jarang ditemui di pasaran, sayur selada atau yang juga disebut daun sla karya LPMD Karangduren tersebut, juga memiliki beragam kelebihan. Utamanya adalah tekstur dan cita rasa yang lebih fresh jika dibandingkan dengan yang dijual di pasaran.

”Untuk rasanya sebenarnya tidak jauh beda dengan daun sla pada umumnya. Tapi kalau sayur selada seperti ini rasa dan bentuknya lebih segar. Sehingga lebih enak saat dikonsumsi langsung maupun untuk bahan masakan,” ungkap Yakin.

Meski terbilang unik, lanjut Yakin, namun cara penanamannya sebenarnya tidak terlalu rumit. Hanya saja dibutuhkan ketelatenan ekstra dan biaya lebih untuk bisa menghasilkan sayur selada yang menyerupai pohon cemara tersebut.

Langkah pertama yang harus disiapkan, diterangkan Yakin, adalah tanah yang dicampurkan dengan sekam padi yang telah dibakar. ”Saat membakar sekam tidak boleh sampai gosong. Setelah itu dicampurkan dengan tanah secukupnya dan didiamkan selama 2 hingga 3 hari,” ungkap Yakin.

Setelahnya, tanah hasil kombinasi dari sekam dan tanah itu dicampur dengan pupuk organik. Yaitu dari kotoran kambing yang sudah dihaluskan. ”Kotoran kambing itu harus digiling, jadi tidak langsung diberi kotoran kambing. Soalnya itu (kotoran kambing) tidak bisa hancur. Efeknya itu bisa untuk menyuburkan tanah,” terangnya sembari mengatakan, jika hasil penggilingan kotoran kambing itu akan dijadikan bahan campuran tanah dan sekam.

Sekitar seminggu kemudian, tanah yang sudah dicampur pembakaran sekam dan kotoran kambing yang sudah dihaluskan tersebut, sudah siap untuk dijadikan sarana menanam bibit sayur selada berbentuk pohon cemara.

”Bibitnya khusus, tidak bisa bibit seperti yang dijual di pasaran. Selada jenis ini dari bibit unggul, untuk harganya yang biasa per bibit Rp 3.500 dan yang paling bagus Rp 15 ribu,” ucap Yakin.

Setelah bibit khusus itu ditanam di tanah yang sudah diolah tadi, lanjut Yakin, tahap selanjutnya yang bisa dikatakan paling terpenting adalah teknik penyiraman. ”Waktu menyiram air tidak boleh dikucurkan (disiram, red) dari atas. Jadi harus dialirkan dari samping, pas dibagian tanahnya. Tujuannya biar tidak rusak karena kesiram air,” sambungnya.

Selain bertujuan agar tidak rusak, teknik menyiram dari samping itu juga bertujuan untuk mempercepat proses pertumbuhan sayur selada. ”Resiko lainnya, jika disiram dari atas daunnya bisa gosong karena kena terik matahari. Kalau sudah seperti itu biasanya hasilnya tidak maksimal. Tidak bisa tinggi, jadi kurang bagus,” imbuhnya.

Seminggu paska bibit ditanam, masih menurut Yakin, biasanya mulai muncul daun selada dengan ukuran sekitar 10 sentimeter. Jika sudah demikian, tahap selanjutnya adalah diberi pupuk tambahan.

Baca Juga : Grafis di Spanduk HUT RI Disebut Mirip Simbol Salib, Ormas Islam di Karanganyar Protes

”Pupuknya ada macam-macam, bisa beli di toko-toko. Tapi harus pupuk khusus untuk selada. Jangan yang untuk sawi atau sayuran jenis lainnya seperti kubis. Soalnya bisa rawan mati,” terangnya.

Jika proses penambahan pupuk selesai, tahap selanjutnya tinggal disirami secara rutin. Waktu penyiramannya juga khusus, yakni 2 kali dalam sehari. ”Selada jenis ini bisa ditanam di cuaca apapun, di bawah terik matahari langsung juga bisa. Asalkan untuk penyiramannya hanya dilakukan 2 kali sehari. Yaitu pada saat pagi dan sore atau malam,” lanjutnya.

Kenapa harus 2 kali sehari, dan siang tidak disiram air? Yakin mengaku jika penyiraman dilakukan pada siang hari, akibatnya bisa membuat sayur selada unik ini rusak. ”Kalau kita siram pas siang, akarnya tidak bisa kuat karena terkena air,” ucapnya.

Sayangnya, meski tidak memerlukan lahan luas dan dapat ditanam di polybag, namun Yakin dan kawan-kawan belum berani memproduksi sayuran unik tersebut dalam jumlah yang banyak.

Alasannya, selain karena sumber dana yang hanya seadanya, sedangkan harga bibit yang tergolong mahal. Membuat Yakin kesulitan saat menanam selada kreasinya tersebut dalam jumlah massal.

”Kalau untuk harga kita tidak bisa mematoknya. Soalnya kebanyakan dikonsumsi tetangga dan saudara sendiri. Jadi belum bisa memproduksi banyak untuk dijual,” keluhnya.

Meski demikian, Yakin tetap bisa menanam selada hasil eksperimennya tersebut untuk mencukupi kebutuhan warga, khususnya yang tinggal di Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

”Sejauh ini sudah panen sekitar 5 kali. Rata-rata dalam 2 bulan sudah bisa di panen. Tergantung pertumbuhannya seperti apa,” pungkasnya.

 

Topik
Berita Hari Inisayur mayurLembaga Pemberdayaan Masyarakatpupuk organik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru