Wali Kota Malang Sutiaji (berkopiah) saat meninjau aktivitas siswa sekolah saat belajar daring di Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (berkopiah) saat meninjau aktivitas siswa sekolah saat belajar daring di Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tengah bersiap membuka kembali kegiatan belajar mengajar siswa siswi sekolah dengan tatap muka. Namun, sebelum secara serentak membuka akses belajar mengajar di sekolah, Pemkot Malang bakal melakukan tahapan simulasi.

Simulasi ini sebagai langkah untuk memastikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sesuai dengan ketentuan dan aman bagi siswa sekolah.

Baca Juga : Siap-Siap, Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka SMA/SMK Jatim Dijadwalkan Tanggal 18 Agustus

Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, pelaksanaan simulasi belajar tatap muka di sekolah rencananya akan dimulai antara minggu ini atau maksimal minggu depan. Di mana, prosesnya setiap kecamatan di Kota Malang harus ada satu simulasi belajar tatap muka.

"Kapan dilaksanakan simulasi, saya minta mungkin minggu ini atau minggu depan sudah bisa ditunjuk di masing-masing kecamatan harus dilakukan simulasi itu (belajar tatap muka)," ujarnya ditemui di Balai Kota Malang, Senin (10/8/2020).

Terkait dengan pelaksanaan sekolah tatap muka, Sutiaji mengungkapkan masih akan melihat situasi kondisi penyebaran kasus Covid-19 di Kota Malang.

Artinya, tidak serta merta semua wilayah nantinya bisa melangsungkan sistem pembelajaran tatap muka. Hal itu, akan dilihat dari jumlah persebaran Covid-19 di setiap wilayah.

"Masuknya kapan (sekolah tatap muka), kita tunggu. Kita lihat kondisi kita , di daerah-daerah tertentu yang memang seminggu pertumbuhan covid-nya tidak naik itu yang kita lakukan. Atau kita harus coba, harus punya keberanian. Kita jamin, toh kalau di sana ada klaster ya kita tutup," imbuhnya.

Meski begitu, ia tak bermaksud hal itu sebagai proses uji coba semata. Tetapi, lebih mendasari kepada karakter anak akan lebih terbentuk ketika menjalani sistem belanar tatap muka.

"Bukan berarti akan kita lakukan uji coba atau buat kelinci percobaan itu tidak. Tetapi, hemat saya sejak dulu, ada nilai plus-nya kalau sekolahan masuk. Kami tidak mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi bagaimana menanamkan disiplin," imbuhnya.

Baca Juga : Masih Zona Merah, Wali Kota Dewanti Menegaskan Sekolah Tetap Daring

Lebih lanjut, Sutiaji menilai simulasi sekolah tatap muka ini akan menjadi acuan Pemkot Malang dalam mempersiapkan sekolah agar sesuai dengan protokol Covid-19.

"Apa salahnya kita lakukan simulasi itu, sehingga kita tahu ini ada yang kurang dan lain-lain. Harapannya, nanti semakin kita kuatkan (protokol kesehatan pencegahan Covid-19). Dia juga bisa menularkan bentuk disiplin ke orang tuanya," tegasnya.

Nantinya, untuk sistem penerapan protokol kesehatan Covid-19 yang akan diterapkan ketika kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka yaitu dengan membatasi jumlah kelas yang masuk perharinya. 

Selain itu, para siswa dan guru juga diwajibkan untuk memakai masker serta penyediaan tempat cuci tangan di tiap sudut sekolah. Sebelum masuk kelas, para siswa juga harus dicek suhu tubuhnya.

"Dibagi separo-separo kelas 1 dan 6, kelas 2 dan 5, kelas 4 dan 3. Kenapa, karema anak yang kecil akan dibantu diberi contoh yang besar (siswa kelas atas), sekaligus bagaimana memenuhi Physical Distancing-nya itu," tandasnya.