(paling kiri) Pimred JatimTIMES Yunan Helmi, (tengah) Dosen FISIP UB Anang Sujoko, (urutan kedua dari kanan) Ketua PWI Malang Raya Ariful Huda. (Foto: istimewa)
(paling kiri) Pimred JatimTIMES Yunan Helmi, (tengah) Dosen FISIP UB Anang Sujoko, (urutan kedua dari kanan) Ketua PWI Malang Raya Ariful Huda. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Karut-marut pemberitaan covid-19 dari awal mula munculnya virus corona tak dapat dibendung. Hampir seluruh media di seluruh dunia tak henti memberitakan pandemi ini. Arah pemberitaan di setiap negara pun berbeda-beda.

Arah pemberitaan covid-19 di Indonesia, misalnya, berbeda dengan arah pemberitaan di beberapa negara lainnya seperti Vietnam, Myanmar, Amerika Serikat, Itali dan Tiongkok terlihat berbeda.

Baca Juga : ITN Malang Manfaatkan Mobile Legends untuk Bangun Karakter Pelajar secara Daring 

 

Hal ini dibeberkan oleh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.COMM dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah wartawan dan pemangku kebijakan redaksi yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya. Jatim Times Network termasuk salah satu yang terlibat dalam diskusi yang digelar di Gedung C FISIP, Sabtu (8/8/2020) tersebut.

Dijelaskan Anang, pemberitaan di awal pandemi di Indonesia lebih banyak menunjukkan kebijakan yang saling silang dari para pejabat. Bahkan, sempat terjadi perbedaan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Kemudian, pemberitaan hanya berputar pada pola pembaharuan jumlah angka penyintas covid-19. Dikatakan Anang, pemberitaan tersebut dapat membuat masyarakat jenuh.

"Melalui sebuah pengamatan, saya melihat media di Tiongkok lebih mengarah kepada unsur kehati-hatian terkait bahaya virus dan sudut pandang berita yang membangkitkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah," ujarnya.

Sementara, pemberitaan covid-19 di Indonesia lebih banyak mengenai menteri satu dengan yang lain memiliki pernyataan yang berbeda tentang covid-19.

"Ini adalah sebuah tantangan bagi media untuk duduk bersama membicarakan model atau pola pemberitaan yang efektif sehingga berdampak positif bagi masyarakat," tegas pria yang juga menjabat sebagai wakil dekan 2 FISIP UB tersebut.

Untuk itu, FISIP UB dan PWI Malang dalam kesempatan tersebut meracik formula pemberitaan yang efektif terkait pandemi covid-19. Anggota PWI yang hadir dalam FGD tersebut adalah para pemangku kebijakan redaksional di media masing-masing. Acara ini sendiri merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang diprakarsai oleh Anang.

"Media memiliki peran penting mempengaruhi masyarakat secara masif, FISIP UB bersama PWI berupaya meramu sebuah formula pemberitaan yang efektif untuk mengedukasi publik tentang covid-19," kata Anang yang juga selaku penanggung jawab program.

Program Pengabdian Masyarakat FISIP UB tersebut bertema "Menggagas Kontribusi Asosiasi Wartawan dalam Pemberitaan Humanis pada Kasus COVID-19 di Malang". Diwujudkan dalam bentuk FGD dan pendidikan masyarakat melalui media yang melibatkan unsur media cetak, online, radio, dan TV.

Masing-masing media diberi kesempatan untuk mempresentasikan format pemberitaan covid-19 yang menjadi ciri khas medianya, frekuensi pemberitaan, sudut pandang berita, hingga permasalahan dalam proses peliputan berita covid-19 di lapangan.

Baca Juga : Koin Mami Kelor UIN Malang, Inovasi Layanan Publik Terbaik Pilihan Kemenag 

 

"Setelah FGD, kami harapkan ada sebuah formula pemberitaan covid-19 dan proses uji coba penerapan formula itu dalam waktu tertentu sesuai kesepakatan. Kemudian direncanakan akan ada kegiatan Seminar Web atau Webinar skala nasional dengan melibatkan Dewan Pers Pusat, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan beberapa pihak lainnya," beber pria yang mengambil program doktoral di University of South Australia tersebut.

Ketua PWI Malang Raya Ariful Huda menyatakan pihaknya mendukung penuh kegiatan FGD tersebut. Terlebih, tujuannya memberikan formula pemberitaan covid-19 efektif agar publik mengetahui informasi yang tepat melalui media. Kegiatan tersebut dinilai memberikan nutrisi kepada para awak media untuk merekonstruksi sebuah pemberitaan yang sesuai dengan karakter medianya masing-masing.

"Kita harus tahu, masing-masing media memiliki karakter dan segmentasi publik masing-masing. Sehingga dengan formula ini, ada wacana baru untuk menyusun berita sedemikian rupa sehingga bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat," tuturnya.

Dikatakan Arif, FGD tentang formula pemberitaan covid-19 ini menjadi yang pertama diikuti. Selama ini, tidak ada kegiatan serupa yang pernah dilakukan oleh instansi lain. Instansi lain hanya membicarakan berkaitan dengan protokol kesehatan covid-19 peliputan di lapangan, bukan mengarah pada keredaksian media. Padahal, kata dia, dalam keredaksian, media sesungguhnya memiliki tanggungjawab untuk menyampaikan informasi yang positif dan tidak menimbulkan konflik sesuai arahan Dewan Pers.

"Sehingga dalam kondisi covid-19 saat ini, media harus benar-benar bisa memilih sudut pandang berita yang tidak menimbulkan kepanikan, tidak hanya menjaga kerahasiaan pasien terpapar virus namun juga harus menjaga agar berita tetap menarik, dan itu adalah tantangannya," tandasnya.