Hutan Malabar di tengah Kota Malang (Hendra Saputra)
Hutan Malabar di tengah Kota Malang (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Rencana bakal ada satu hutan kota di setiap kecamatan yang dicanangkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang di tahun 2020 ini batal terlaksana karena wabah Covid-19.

DLH Kota Malang pada tahun 2019 lalu sempat memaparkan keinginannya untuk membuat hutan kota di setiap kecamatan untuk membuat udara di Kota Malang semakin bagus.

Baca Juga : Kabar Gembira! Jokowi Bakal Beri Bansos Bagi Pegawai yang Gajinya di Bawah Rp 5 Juta!

Pemaparan tersebut dilakukan di depan orang nomor satu Kota Malang yakni Drs. Sutiaji. Dalam pemaparannya, DLH Kota Malang berhasil membuat Wali Kota Malang itu kepincut alias setuju dengan rencana kerjanya. Tapi dalam perjalanan ternyata datang wabah penyakit yang hingga kini belum usai dan membuat rencana tersebut sementara di pending.

"Kami sudah paparkan ke bapak Wali Kota (Malang). Dan beliaunya setuju rencana tersebut. Tapi karena Covid-19 ini jadi banyak rencana kerja yang sementara harus di pending dulu," ucap Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, Arif Tri Sastyawan.

Bahkan, Arif mengatakan pihaknya sudah survei tempat dimana yang nantinya digunakan sebagai hutan kota. "Sudah, kami bahkan sudah survei tempat. Tapi namanya kondisi seperti ini kita tidak bisa menduga," katanya.

Untuk konsepnya sendiri, Arif menyatakan bahwa nantinya hutan kota tersebut benar-benar murni untuk tanaman dan bukan hutan edukasi. 

"Hutan kami nanti konsepnya bukan hutan edukasi tapi murni hutan. Kalau mau bikin variasi seperti jogging track berarti di sekelilingnya atau di luarnya, jangan di dalamnya," ungkap Arif.

Baca Juga : Pembahasan PAK Dipercepat, Perangkat Daerah Diminta Ngebut

Arif mencontohkan, saat ini hutan kota yang ada di 'Bhumi Arema' adalah hutan Malabar. Ia menyayangkan karena ada track yang bisa digunakan untuk masyarakat di dalamnya. Hal tersebut lah yang membuat DLH Kota Malang ingin membuat hutan yang sebenarnya agar kualitas di dalamnya maksimal dan tidak merusak potensinya.

"Seperti Malabar dibuat jogging atau seperti jalan di dalam bukan buat olahraga malah dibuat orang pacaran. Namanya hutan itu kan memanggil satwa-satwa, takutnya kalau di dalam nanti takutnya ada burung atau apa diambil, dan lain sebagainya. Harapan saya tidak seperti itu," jelasnya.