Foto: doc. Kemenag RI
Foto: doc. Kemenag RI

MALANGTIMES - Perubahan kurikulum baru di madrasah sempat ramai dibicarakan warganet di media sosial (medsos). Melalui medsol Twitter, banyak yang mempertanyakan apakah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab di madrasah dihapuskan.

Isu ini berkembang setelah adanya Surat Edaran untuk perubahan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Di dalam Surat Edaran tertulis, "Dengan berlakunya KMA 183 tahun 2019 dan KMA 184 Tahun 2019, maka mulai Tahun Pelajaran 2020/2021 KMA Nomor 165 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab di Madrasah sudah tidak berlaku lagi."

Baca Juga : Tahun Ajaran Baru, Disdikbud Sarankan Sekolah Pakai Maksimal 2 Platform

Pakar Pendidikan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Dr H Agus Maimun MPd menyampaikan, bahwa hal tersebut merupakan persepsi yang salah.

"Ini persepsi yang salah. Memang yang muncul itu bukan pelajaran PAI, kalau di madrasah yang muncul pelajaran Quran Hadist, Akidah Akhlak, Fikih, SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), plus pelajaran Bahasa Arab. Jadi bukan dihilangkan. Memang nggak ada nama PAI kalau di madrasah karena sudah dirinci menjadi empat mata pelajaran itu," papar Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) tersebut.

Nah, berdasarkan KMA 183 dan 184 tersebut, masing-masing mata pelajaran itu 2 jam perminggu. Namun, jam pelajaran itu boleh ditambah namun tak boleh dikurangi.

"Bahkan boleh aja memberikan tambahan jam belajar kepada setiap mata pelajaran. Tergantung kepada madrasahnya masing-masing," katanya.

"Jadi, tidak ada pengurangan sebenarnya. Kecuali untuk Madrasah Aliyah itu malah lebih banyak pelajaran agamanya," imbuhnya.

Perbedaan KMA 183 dan 165 lebih pada adanya perbaikan substansi materi pelajaran karena disesuaikan dengan perkembangan kehidupan abad 21. Maimun mengungkapkan, substansinya akan lebih menekankan pada moderasi Islam.

"Sebelumnya ya moderasi Islam juga. Tapi ini lebih ditekankan secara jelas tentang moderasi Islam supaya tidak gampang terpengaruh oleh model-model Islam yang lain," ungkapnya.

Lanjutnya, moderasi Islam diperkuat sebab saat ini kelompok-kelompok yang menuhankan pendapatnya sendiri, merasa paling benar, paling sah, paling murni, dan paling berdasarkan pada Qur'an hadist sendiri semakin masif.

Baca Juga : Perhatian Disdikbud Kota Malang ke Sekolah Swasta: 47 Persen APBD Kita Untuk Mereka

"Kenapa sekarang? Karena memang gerakan masif itu sekarang ini terjadi. Maka tidak bisa dibiarkan, harus di-counter. Kasihan anak-anak kita kalau tidak di-counter. Sebab kalau tidak dilakukan counter, dianggap bahwa dia paling benar. Ini yang salah," tegas Maimun.

Dikatakannya juga, narasi dari kelompok-kelompok tersebut memang harus dibantah agar anak-anak tidak terpola dengan mereka. Bahwa yang sebenarnya, Islam itu banyak pilihan.

"Counter-nya salah satunya lewat pelajaran di sekolah. Di samping juga lewat para mubalig-mubalig melalui kampung -kampung. Bahkan sekarang sudah mulai banyak mubalig-mubalig yang meng-counter juga melalui YouTube," tandasnya.

Kemenag sendiri sudah menyiapkan materi pembelajaran PAI dan Bahasa Arab yang baru ini. Sehingga guru dan peserta didik tidak perlu untuk membelinya. Buku-buku tersebut bisa diakses dalam website e-learning madrasah.