Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya memberikan tenggat waktu selama 2 minggu kepada Pemerintah Daerah (Pemda) di Jawa Timur (Jatim) untuk menekan angka kasus positif Covid-19.

Sayangnya, hal itu meleset dan belum bisa terealisasikan di Kota Malang. Jumlah kasus positif Covid-19 hingga saat ini masih terus mengalami lonjakan. Hingga kemarin (Sabtu, 11/7/2020) angka kasus mencapai 326 orang.

Baca Juga : Warga Keluhkan Kenaikan Tarif Air, Komisi B DPRD Kota Malang Panggil PDAM

Wali Kota Malang Sutiaji mengakui jika tenggat waktu yang diberikan Presiden Jokowi dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memang tak sesuai harapan. 

Namun, hal ini menurutnya untuk tidak dijadikan sebagai stigma yang negatif. Mengingat, prose tracing atau pelacakan dan pengetesan swab yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Kota Malang telah dilakukan secara masif.

"Perkataan meningkat saya sampaikan jangan menjadi stigma merah lebih banyak. Karena kita swab nya tadi, tracing yang kami lakukan itu 1:30," ungkapnya.

Ia mencontohkan, semisal ada pasien terkonfirmasi positif sebanyak 100 maka tidak mungkin ODR (Orang Dalam Risiko) hanya tercatat 30. Paling tidak dari jumlah tersebut ada 3 ribu.

"Itu kan tidak bisa main-main, kami akan terus lakukan (tracing dan tes nya)," imbuhnya.

Sejauh ini, dari lonjakan kasus yang terus menerus terjadi selama kurang lebih dalam kurun waktu satu bulan terakhir ini memang didominasi dari klaster keluarga.

Namun, upaya dalam meminimalisir penyebaran di lingkup tersebut telah dilakukan. Seperti pendisiplinan dalam isolasi mandiri, yang memang tidak memenuhi kriteria maka langsung dipindahkan ke rumah isolasi yang disiapkan Pemkot Malang yang berada di Jl Kawi.

"Kami tetap akan lakukan upaya, silahkan saja deadline. Saya kira yang naik kemarin dari klaster keluarga lebih mudah diminimalisir, karena satu keluarga. Itulah yang kami tarik tidak ada isolasi mandiri, ketika dia secara psikologi dan fisik tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri," imbuhnya.

Baca Juga : Kembali Ungkap Kekesalan, Pakar Gestur Sebut Ada Senyum Nyinyir di Bibir Jokowi ke Menteri

Lebih lanjut, Sutiaji mengatakan masih banyaknya masyarakat yang tak disiplin protokol kesehatan pencegahan Covid-19 menjadi hal utama bagaimana jumlah kasus di Kota Malang ini terus meningkat.

"Kunci utama itu hanya 2. Physical distancing sama pakai masker," tegasnya.

Menurutnya, bila kunci utama mencegah penyebaran Covid-19 itu berada pada kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Mulai disiplin menjaga jarak atau physical distancing, memakai masker, dan mencuci tangan.

“Disiplin itu utama, sebelum ada vaksin ya vaksinnya disiplin. Disiplin pakai masker, disiplin jaga jarak," tandasnya.

Sebagai informasi hingga Sabtu 11 Juli 2020 terdapat penambahan kasus positif Covid-19 di Kota Malang sebanyak 3 orang, total kini mencapai 326. Dari jumlah tersebut 26 pasien meninggal dunia, 90 orang sembuh, dan 210 orang menjalani perawatan.

Sedangkan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai 466 orang, dengan 43 PDP meninggal dunia, 208 dinyatakan sehat atau selesai pengawasan, dan 215 masih dalam perawatan.