Bupati Malang HM. Sanusi sedang mempresentasikan inovasi dari TPA Wisata Edukasi Talangagung kepada tim panelis KIPP dari Kemen PAN-RB, Jumat (10/7/2020).
Bupati Malang HM. Sanusi sedang mempresentasikan inovasi dari TPA Wisata Edukasi Talangagung kepada tim panelis KIPP dari Kemen PAN-RB, Jumat (10/7/2020).

MALANGTIMES - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wisata Edukasi Talangagung, Kepanjen, Kabupaten Malang, masuk 15 besar kelompok khusus dalam nominasi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP). Kompetisi itu diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) tahun 2020. 

Hal itu diketahui saat Bupati Malang HM. Sanusi melakukan pemaparan dan presentasi kepada jajaran tim panelis KIPP dari Kemen PAN-RB melalui video conference. Pemaparan itu terkait aspek-aspek inovasi yang telah disiapkan untuk diterapkan di TPA Wisata Edukasi Talangagung. 

Sanusi menyebutkan bahwa TPA Wisata Edukasi Talangagung merupakan bentuk role model yang menjadi salah satu acuan dari TPA yang ada di Indonesia.  "Ya, TPA Talangagung inijadi role model untuk TPA di Indonesia," ujarnya  di TPA Wisata Edukasi Talangagung, Jumat (10/7/2020). 

Menurut Sanusi, jika mendengar TPA, yang terngiang di masyarakat adalah tempat yang kotor serta penuh sampah. Tetapi hal itu berbeda dengan TPA di Talangagung yang didapuk menjadi TPA Wisata Edukasi karena penerapan konsep yang lebih modern terkait pengolahan sampah. 

Sanusi mengungkapkan bahwa TPA Wisata Edukasi Talangagung lebih mengedapankan aspek kebermanfaatan untuk masyarakat luas. Salah satunya yakni inovasi terkait pengelolaan sampah yang dapat berubah menjadi gas metan.

"Di mana-mana TPA ini tidak disenangi masyarakat. Tapi ini ada TPA yang menggunakan sistem pengelolaan sanitary landfill. Lalu gas metannya diambil untuk bisa dimanfaatkan oleh warga," ungkap Sanusi. 

Metode sanitary landfill sendiri bekerja dengan cara memadatkan sampah, kemudian melengkapi dengan saluran khusus untuk mengalirkan air lindi (cairan dari pemaparan air hujan di timbunan sampah) dan gas metan sebagai hasil terakhir dari pengolahan sampah yang telah dipadatkan. 

Penggunaan metode sanitary landfill diklaim lebih efektif daripada menggunakan metode control landfill yang hanya melakukan pemadatan tumpukan sampah yang kemudian ditimbun dengan tanah. 

Untuk metode sanitary landfill, digunakan lahan 6 hektare di sisi timur TPA Wisata Edukasi Talangagung. Dan wilayah yang menjadi pemasok sampah rutin di TPA Wisata Edukasi Talangagung berjumlah 13 kecamatan di bagian selatan Kabupaten Malang.

Lebih lanjut Sanusi mengatakan bahwa  mempergunakan gas metan sebagai pengganti elpiji akan menghemat pengeluaran masyarakat. Apalagi di tengah kondisi Kabupaten Malang sedang mengalami pandemi covid-19 yang menengaruhi kondisi perekonomian masyarakat.

"Ada 250 KK (kepala keluarga) itu sudah tidak memakai elpiji. Kalau mereka gunakan ,itu (gas metan) bisa hemat," pungkasnya.