Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (Foto:   Kendari Pos)
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (Foto: Kendari Pos)

MALANGTIMES - Sempat menjadi buronan selama 17 tahun, pembobol Bank Nasional Indonesia (BNI) Maria Pauline Lumowa akhirnya diekstradisi. Di masa kepemimpinannya sebagai Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly berhasil menyelesaikan proses ekstradisi terhadap Maria Puline Lumowa dari Pemerintah Serbia.

Diketahui, Maria telah membobol BNI senilai Rp 1,7 triliun.  Yasonna pun merasa bangga berhasil menyelesaikan kasus ini. "Dengan gembira saya sampaikan kami telah resmi menyelesikan proses handing over atau penyerahan buronan atas Maria Pauline Lumora dari Serbia," ujar Yasonna melalui keterangan tertulis.  

Baca Juga : Modal Ancaman, Seorang Kakek di Karangploso Gagahi Anak Tiri Sendiri

Dikatakan Yasonna, keberhasilan ini tak lepas dari diplomasi hukum dan hubungan baik antar dua negara. Di sisi lain, dikatakan Yasonna, proses ekstradisi ini menjadi buah manis komitmen pemerintah dalam upaya penegakan hukum yang berjalan panjang.  

Diakui Yasonna, meski sempat mendapat 'gangguan', kendati demikian Pemerintah Serbia tegas pada komitmennya untuk mengekstradisi Maria ke Indonesia.  

"Indonesia dan Serbia memang belum saling terikat perjanjian ekstradisi, namun melalui pendekatan dengan para petinggi dan mengingat hubungan baik antara dua negara, pemerintah Serbia mengabulkan hal tersebut," ujarnya.  

Yasonna lantas memberikan apresiasi kepada Duta Besar Indonesia untuk Serbia, M. Chandra W. Yudha. Yasonna menilai jika Chandra sudah bekerja keras untuk mengatur dan memuluskan proses ekstradisi ini.  

Sebagai kilas balik, Maria merupakan tersangka pembobolan kas BNI cabang Kebayoran baru melalui Letter do Credit (L/C) fiktif.  Di periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau senilai Rp 1,7 triliun.  

Baca Juga : Novel Baswedan Pertanyakan Keseriusan Jokowi Terkait Penegakan Hukum di Indonesia

Dana tersebut dikucurkan kepada PT Gramarindo Group yang pemiliknya ialah Maria dan Andrian Waworuntu.  Namun, pada Juni 2003, BNI merasa curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group.  

Pihak BNI pun lantas mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.  Hingga akhirnya dugaan L/C fiktif ini dilaporkan ke Mabes Polri.  Namun, Maria sudah lebih dulu terbang ke Singapura pada September 2003.