Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang, Dr H Agus Maimun MPd. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang, Dr H Agus Maimun MPd. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Saat ini sudah eranya teknologi informasi. Mau tidak mau semua orang harus belajar dan menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi. Terlebih dalam situasi pandemi covid-19 saat ini. Sebagian besar kegiatan ekonomi dan sosial dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Termasuk halnya pendidikan.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Dr H Agus Maimun MPd menyampaikan, bahwa seluruh insan pendidikan mau tidak mau harus belajar menggunakan IT lantaran kondisi saat ini tidak memungkinkan lagi untuk tatap muka.

Baca Juga : Pengamat Pendidikan Khawatir Guru Penggerak Lahirkan Orang Klaim Diri Paling Pancasilais

"Mau tidak mau kita harus menggunakan TIK. Entah murni TIK atau blended (gabungan antara tatap muka dengan daring), silakan, tapi paling tidak TIK mesti hadir dalam kehidupan kita, terutama untuk proses belajar dan mengajar," ucap pakar pendidikan tersebut.

Maimun menjadi salah satu narasumber dalam webinar series Rumah Jurnal FITK UIN Malang bertajuk "Merdeka Belajar dan Madrasah Unggulan: Tetap Unggul di Masa New Normal", Rabu (8/7/2020).

Nah, yang menjadi persoalan adalah, ada kalanya proses pembelajaran daring tidak berjalan lancar, entah karena jaringan atau memang tidak terbiasa pembelajaran jarak jauh. Ditambah lagi, dengan pembelajaran daring ini, waktu konsentrasi dan fokus siswa terbatas.

"Orang belajar melalui dari daring maksimal kemampuannya hanya 45 menit. Selain itu konsentrasi tidak akan bisa lagi normal," ungkapnya.

Maka, kata Maimun, guru setidaknya harus mendesain belajar daring paling tidak cukup 30 hingga 45 menit saja.

"Supaya anak tidak merasa bosan. Selebihnya itu dengan tugas-tugas, dan seterusnya," sambungnya.

Ditambah lagi, dalam Merdeka Belajar, praktik pembelajaran harus membuat anak merasa senang dan puas. Jadi, guru harus menciptakan kondisi agar siswa tetap merasa gembira, terhibur, tidak merasa tertekan, bosan, apa lagi tersiksa meski pembelajaran daring.

Baca Juga : Tindaklanjuti Keputusan Menag, Rektor UIN Malang Rilis Pengumuman Keringanan UKT Terbaru

"Otomatis harus dengan berbagai multimedia yang mampu untuk menciptakan kondisi agar siswa senang puas dan gembira di dalam belajar," katanya.

Selain itu, pembelajaran daring juga harus menggairahkan. Muncul hasrat dan semangat yang luar biasa dari siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Sehingga dalam pembelajaran tetap interaktif.

"Salah satunya caranya guru mampu memancing pertanyaan-pertanyaan. Memancing suasana dengan kasus atau ide yang memungkinkan siswa untuk selalu bertanya. Inilah sebenarnya menggairahkan," paparnya.

Maka dari itu, guru harus belajar, terutama berkaitan dengan isu-isu baru yang sangat penting dalam rangka untuk mengaitkan pembelajaran teori dengan pembelajaran praktik atau secara tekstual dengan kontekstual.