Salah satu spot foto di Kayutangan Heritage (Dokumentasi MalangTIMES).
Salah satu spot foto di Kayutangan Heritage (Dokumentasi MalangTIMES).

MALANGTIMES - Menuju New Normal, kampung wisata heritage Kayutangan Bersiap dengan hal baru. Untuk menarik hari wisatawan agar kembali berwisata, maka story line menjadi salah satu pilihan untuk memberikan suasana baru saat mengunjungi kampung wisata heritage Kayutangan.

Sebelum pandemi covid-19, wisatawan berdatangan dari dalam maupun luar Kota Malang. Sederet spot foto menarik pun menjadi salah satu data tarik yang disuguhkan. Terutama yang mengusung nuansa tempo dulu.

Baca Juga : Wisata Bromo Bakal Segera Dibuka dalam Waktu Dekat, Tapi ....

Bukan hanya itu, rumah-rumah peninggalan Kolonial Belanda seperti rumah namsin, rumah 1870, rumah penghulu, rumah jengki, rumah kebaya, rumah nyik aisyah, rumah mbah ndut, rumah cerobong, hingga rumah kafe selalu menjadi primadona bagi wisatawan.

Ada pula Makam Mbah Honggo yang dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro. Sungguh menarik untuk menjadi wisata sejarah.

Saat pandemi Covid-19 melanda, secara langsung berimbas pada Wisata Kampung Heritage Kayutangan. Karena sejak Maret 2020 lalu, pengurus wisata harus menutup aktivitas sementara waktu.

Sementara itu, di masa transisi menuju New Normal, kampung yang bertoponimi dari nama tumbuhan ini membuat satu gebrakan dengan menyajikan sesuatu yang baru pula.

"Menyongsong New Normal, kita akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Jika dulu kita hanya menyajikan spot untuk swafoto, kini ada tambahan story line yakni narasi cerita dari sebuah objek yang dapat menggelitik wisatawan untuk datang," ungkap Agung H Buana, pencetus dari kegiatan penulisan Story line Kampung Wisata Heritage Kayutangan.

Lebih jauh, pria yang juga menjadi Kepala Seksi Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Malang tersebut menambahkan, story line ini akan di sayembarakan dan diikuti oleh warga Kayutangan.

Ada beberapa kriteria tulisan yaitu mengandung sebuah lintasan peristiwa, toponimi, kuliner dan sejarah keluarga. Story line terbagi dalam berbagai peristiwa yaitu Kisah klasik Hindu-Budha, perkembangan Islam, masa perang Diponegoro, peristiwa culture stelsel, perkembangan Kabupaten Malang, perkembangan Gemeente, masa Bouwplant, pendudukan Jepang dan masa di era tahun 1960.

Dengan adanya story line, diharapkan pengunjung tak hanya merasa senang, namun juga mendapatkan pengetahuan baru tentang sejarah Kota Malang. Karena sebagaimana Kita ketahui, Kota Malang tidak terpisahkan dari Kayutangan.

Baca Juga : Sudah Boleh Buka, Kampung Tematik di Kota Malang Masih Enggan Buka Kembali

Koridor Kayutangan selama ini menjadi pusat perdagangan ditengarai adanya Rajabally. Bahkan peristiwa penting dan bersejarah pun berawal dari kawasan tersebut. Salah satu peristiwa bersejarah di kawasan tersebut adalah rapat Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1947 bertempat di Gedung Sociteit Concordia yang merupakan wilayah Kayutangan.

Saat itu, sidang dihadiri para pejabat seperti Ir Soekarno, Moh Hatta, Sutan Syahrir, Adam Malik, Bung Tomo, Ki Hajar Dewantaradan Dan masih banyak para pembesar wakil negara-negara di dunia.

Selain itu, kawasan Kayutangan juga memiliki Gereja Kayutangan, yang notabene gereja Katholik pertama di Kota Malang. Hotel Pelangi hotel pertama di Kota Malang dengan gaya Kolonial.

Lebih menarik terdapat tokoh Johny Mangi. Petinju sekaligus atlet terjun payung yang meninggal secara tragis dengan cara ditembak. Tokoh keturunan Nusa Tenggara Timur yang berdomisili di Kayutangan menunjukkan bahwa terdapat toleransi yang begitu tinggi.

Kayutangan menjadi simbol kearifan lokal. Kayutangan disebut sebagai miniatur Kota Malang yang hidup berbagai macam ras, memiliki sejuta cerita yang layak untuk dijual dan dikemas dalam story line.